"Mati karena hilang pasokan listrik. Hari pertama gempa hanya 13 persen jaringan BTS nyala di Sulteng. Kemudian besoknya 12 persen, besoknya 11 persen. Kemudian meningkat lagi jadi 45 persen. Sampai hari ini jadi 49 persen," kata Rudiantara di Kantor Kominfo, Jakarta Pusat, Selasa (2/10).
Kendati demikian Rudiantara mengatakan pendistribusian listrik tidak merata di Sulawesi Tengah sehingga beberapa daerah seperti Palu, Sigi, dan Donggala masih banyak BTS yang tidak aktif.
Lihat juga:6 Hoaks Gempa Donggala dan Tsunami Palu |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudiantara mengatakan penggunaan genset untuk BTS terus dilakukan karena pentingnya jaringan telekomunikasi di area bencana. Oleh karena itu, genset berperan penting agar BTS bisa beroperasi tanpa menunggu listrik pulih 100 persen.
Ia menyebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menjamin pasokan BBM agar BTS bisa beroperasi.
Rudiantara berharap pada 5 Oktober mendatang seluruh jaringan listrik bisa membaik. Pasalnya pemerintah sudah mulai mengaktifkan gardu induk listrik.
"Perjalanan masih panjang. Pada umumnya kalo listrik udah masuk maka BTS bisa hidup mulai dua sampai empat jam. Kalau towernya roboh atau rusak itu lebih panjang lagi kaeena tower harus diganti," ujar Rudiantara. (jnp/age)