ANALISIS

Gelombang 'Panas' #Uninstall Gojek hingga Grab

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Selasa, 16/10/2018 06:57 WIB
Gelombang 'Panas' #Uninstall Gojek hingga Grab Ilustrasi. (Foto: AFP PHOTO / MOHAMMED ABED)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suara warganet di media sosial tampaknya terus diperhatikan pelbagai pihak, termasuk oleh perusahaan. Selain kritik, cuitan hingga unggahan warga dunia maya kian menjadi 'senjata' baru bagi sebagian kelompok masyarakat untuk menyuarakan sesuatu.

Hal ini pula yang terjadi pada dua perusahaan aplikasi macam Gojek dan Grab.

Tagar #UninstallGojek baru saja menggema sebagai bentuk protes netizen karena Gojek ramah terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) sebagai penghargaan terhadap keberagaman.


Pengamat media sosial Nukman Luthfie berpendapat tagar dan media sosial menjadi sebuah kekuatan yang bisa melipatgandakan suara konsumen di era digital. Dipastikan perusahaan harus bisa menjawab keluhan dari konsumen secara tepat dan cepat.

"Karena sudah kuat posisinya, konsumen ketika komplain terbuka akan didukung oleh konsumen lain sama-sama kecewa dengan satu brand, sehingga komplain bisa meluas dengan cepat," tutur Nukman ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (15/10)

Nukman menilai konsumen adalah raja itu adalah ungkapan zaman dulu. Di zaman sekarang, konsumen adalah kaisar karena memiliki kekuatan yang lebih besar dengan menggunakan senjata yang dinamakan media sosial.

Dengan adanya media sosial, Nukman mengatakan perusahaan tidak lagi bisa tutup mata dengan komplain dari konsumen. Agar komplain tidak meluas, perusahaan harus bisa mengatasi masalah dengan cepat dan tepat sasaran.

"Intinya di era media sosial itu sebenarnya era di mana konsumen lebih kuat posisinya. Kekuatan lebih kuat dibandingkan sebelum media sosial. Kalau dulu konsumen hanya bisa komplain lewat call center atau media jadi terbatas ruangnya," kata Nukman.

Terkait gerakan tagar uninstall, Nukman mengatakan tagar ini lumrah terjadi. Bahkan sudah ada beberapa aksi memboikot produk seperti gerakan anti-vaksin karena diduga mengandung babi. Ada juga boikot Sari Roti pada tahun 2016, hingga uninstall Traveloka pada 2017.


Nukman kemudian menganalisis isu-isu yang menjadi sentimen tertentu bagi netizen di Indonesia, terutama terkait politik, dan hal-hal yang dilarang agama, dalam hal ini Islam sebagai agama mayoritas Indonesia.

"Kalau komplain dulu tidak pakai tagar, dulu komplain saja. tanpa tagar, sekarang mulai lah tagar sehingga terkumpul para konsumen yang komplain," tutur Nukman.

Momok buat Produsen

Terpisah, senada dengan Nukman Ketua Indonesia ICT Institute (IDICTI) Heru Sutadi media sosial menjadi sebuah momok bagi produsen. Oleh karena itu Heru menyarankan perusahaan harus berhati-hati dalam menanggapi konsumen di media sosial agar tidak berdampak besar ke perusahaan.

"Media sosial sangat kuat digunakan konsumen, sehingga kalau tidak berhati-hati disikapi makin menjadi bola salju. Himbauan uninstall merupakan kekuatan pengguna sebagai perlawanan terhadap penyedia platform," kata Heru.

Heru kemudian mengkritik langkah oknum Gojek yang mengatakan Gojek terbuka terhadap LGBT, karena sebagian warga menganggap hal ini adalah hal yang dilarang agama.

Gara-gara itu pula,  sebagian warganet menyatakan memboikot Gojek dengan tagar uninstall tersebut. Nukman tidak yakin boikot ini akan berlangsung lama mengingat Gojek adalah sebuah kemudahan bagi masyarakat di era digital.


"Kalau sudah biasa pakai Gojek apakah bisa uninstall Gojek terus, menurut saya tidak bisa. Itu sebuah kemudahan dan buat banding-banding harga dan promo. Belum lagi kalau Grab down, ya pakai Gojek lagi pasti," tutur Nukman.

Koordinator Gerakan #BijakBersosmed Enda Nasution mengatakan kalau mau memboikot perusahaan karena mendukung LGBT harus konsisten. Dalam kasus Gojek, Enda mengatakan berarti netizen juga harus uninstall perusahaan yang terbuka dengan LGBT seperti Facebook dan Twitter.

"Misalnya isu mendukung Palestina sehingga anti perusahaan Yahudi, maka produk Israel jangan dipakai, itu konsisten. Kalau mau uninstall LGBT atau dukung agama juga jangan tebang pilih," kata Enda.

Senada dengan Nukman, Enda mengatakan mayoritas netizen pasti akan kembali menggunakan Gojek lagi. "Mungkin ada sekelompok orang yang konsisten, tapi ada mayoritas yang pada akhirnya mengikuti dompet. Mana yang murah, mana yang mudah itu yang dipakai," tutur Enda.

Enda kemudian berpendapat pemerintah harus hadir di tengah-tengah isu LGBT.  Dia berpendapat orientasi seksual ini tidak seharusnya dijadikan acuan memandang seseorang itu buruk. 

"Ketika mencari kerja misalnya tidak membedakan orang dengan orientasi seksual tertentu karena kinerja tidak terkait dengan itu," tegasnya. (age/asa)