Laporan dari Singapura

90 Persen Komputer di Indonesia Berisi Peranti Lunak Bajakan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 31/10/2018 07:10 WIB
90 Persen Komputer di Indonesia Berisi Peranti Lunak Bajakan Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Mike Segar)
Singapura, CNN Indonesia -- Hasil temuan Microsoft lewat studi 'Test Purchase Sweep' mencatat sembilan dari 10 komputer yang dijual di Indonesia berisi peranti lunak (software) bajakan. Studi ini dilakukan melalui percobaan pembelian 166 komputer di sembilan negara di Asia seperti Indonesia, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Bukan hanya di Indonesia, Microsoft mendapati penjualan komputer di negara maju sekalipun seperti Korea Selatan dan Taiwan masih tak bisa lepas dari peranti bajakan.

Kendati tidak separah temuan di Indonesia, pembelian 30 komputer di Korea Selatan didapati kesemuanya (100 persen) menggunakan software bajakan. Hal yang sama juga didapat di Malaysia, Thailand, dan Vietnam.


Lain halnya di Taiwan, 11 dari 15 komputer yang dijual (sekitar 73 persen) berisi peranti lunak bajakan. Anomali juga terjadi di Singapura dengan enam dari 11 (sekitar 33 persen) komputer yang dibeli berisi peranti lunak bajakan.

"(Secara keseluruhan) di Asia 83 persen atau 137 dari 166 PC yang dibeli telah dipasang software bajakan sebelum dijual," ungkap Mary Jo Scrade, Assistant General Counsel & Regional Director Digital Crime Unit, Microsoft Asia dalam pertemuan di kantor Microsoft di , Selasa (30/10). 

Masalahnya, software bajakan ini sebagian besar telah diinfeksi malware (software berbahaya) yang bisa digunakan untuk membajak balik komputer pengguna. Caranya dengan mencuri data pribadi seperti nama pengguna dan kata sandi (password) untuk masuk ke akun tertentu seperti misalnya surel (email) dan media sosial. Malware ini bisa juga ditujukan untuk mengambil data keuangan seperti data kartu kredit.

Malware juga bisa saja menjadi trojan yang diam-diam menggunakan kemampuan PC (prosesor, memori, dll) untuk menjalankan perintah dari pemilik malware. PC yang sudah dikuasai ini bisa dijadikan botnet yang diperintah untuk melakukan serangan untuk melumpuhkan situs tertentu misalnya lewat serangan DDoS.

Skenario lainnya, sumber daya PC digunakan untuk menambang bitcoin oleh pihak ketiga. Sehingga menyebabkan komputer cepat panas, terasa lambat, dan baterai cepat habis.

Masih dari temuan Microsoft, di Indonesia dari 9 komputer yang berisi software bajakan, 8 komputer punya software yang berisi malware. Berarti ketika membeli PC di pasaran, pembeli Indonesia hanya memiliki  kesempatan tipis untuk mendapat PC dengan software bajakan yang tidak diinfeksi malware. 

Lantas apakah menginstal layanan keamanan seperti anti virus atau software internet security bisa menghalau penggunaan software berbahaya ini? Ternyata tidak juga.

"Malware ini ada yang dilengkapi dengan kode agar komputer tidak mengaktifkan software-software keamanan ini ketika mereka mendekam disana," jelas Scrade. 

Malware yang sudah di pasang di PC ini juga punya kesempatan untuk mengirimkan spam dan mengunduh malware lainnya di kemudian hari tanpa diketahui pengguna. 


Ketika ditanya cara untuk lepas dari jerat malware ini, Scrade hanya memberikan jawaban singkat untuk menginstal ulang PC dan menggunakan software yang asli.

Lantas, apakah para pedagang ini mengetahui mereka menjual PC berisi software bajakan?


"Saya akan sangat terkejut jika mereka tidak mengetahui kalau mereka tak mengetahui hal itu," tambah Tarun Sawney, Senior Director, Business Software Alliance, organisasi advokasi yang menkampanyekan penggunaan software asli.


Percobaan ini menurut Microsoft dilakukan dengan mencoba melakukan pembelian PC bukan dari penjual resmi.

Meski demikian, persentase yang diberikan dalam studi ini menggunakan sampel yang terlalu kecil. Sehingga hasil yang diberikan terlalu generalisasi sehingga sangat mungkin terjadi bias dalam mengukur kenyataan di lapangan. (eks/evn)