AS Tak akan Pakai Roket Rusia untuk Capai Antariksa

CNN Indonesia | Senin, 03/12/2018 23:53 WIB
AS Tak akan Pakai Roket Rusia untuk Capai Antariksa Ilustrasi. (REUTERS/Shamil Zhumatov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peluncuran Expedition 58 Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tampaknya akan menjadi penerbangan terakhir astronaut AS dengan roket Soyuz milik Rusia dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan. AS telah berupaya kuat agar penerbangan astronaut bisa dilakukan di atas tanah mereka sendiri, bukan hanya untuk kebanggaan nasional, tetapi juga karena akan membawa peluang industri.

Hari ini, astronot NASA, Anne McClain, direncanakan akan berangkat untuk pertama kalinya ke luar angkasa menumpang kapal Soyuz seperti yang telah dilakukan setiap astronaut AS sejak 2011. Tetapi mulai awal tahun depan, astronaut AS akan naik ke atas kendaraan komersial yang diproduksi dan diluncurkan dari Amerika Serikat.

Peluncuran dari AS akan diuji pada 7 Januari 2019 mendatang dengan pesawat luar angkasa tak berawak SpaceX, Dragon, diluncurkan melalui roket Falcon 9 dari Florida, dekat Orlando. Area ini biasanya digunakan untuk peluncuran setiap misi ruang angkasa AS dengan astronaut, termasuk pesawat ulang alik dan misi bulan Apollo mulai tahun 1961. Selanjutnya, pesawat Boeing CST-100 Starliner juga akan menjalankan penerbangan pertama tanpa awak pada 2019.
Namun, kembalinya peluncuran dari AS tak hanya akan memberikan keuntungan bagi Boeing dan SpaceX, tetapi juga pemasok dan mitra yang membantu dua perusahaan AS ini untuk menerbangkan awak ke luar angkasa.


"Soyuz bukan satu-satunya alat di negara ini. Ini bukan satu-satunya sumber daya yang dapat kita sentuh. Seluruh upaya awak komersial Boeing-SpaceX benar-benar memberikan yang terbaik dari semua dunia, dari semua pilihan. Pilihan memberikan kreativitas dan manfaat dan potensi. Jadi itulah yang benar-benar menarik tentang ini," kata Cooper kepada Space.com, Senin (3/12).

Ini merupakan perjalanan panjang NASA yang mendorong program kru untuk segera diselesaikan, terlepas dari beberapa penundaan sejak program pesawat ulang-alik pensiun pada 2011. Itu terjadi tepat setelah pembangunan Stasiun Luar Angkasa Internasional selesai.
Sejak itu, NASA tidak bisa menerbangkan astronaut ke luar angkasa dari Amerika Serikat. Sebagai hasilnya, semua astronaut stasiun ruang angkasa harus terbang dari Baikonur, Kazakhstan dengan harga cukup mahal yakni mencapai US$70 juta atau sekitar Rp996 miliar per kursi.

Terbang kembali dari AS juga akan menghemat pembiayaan penerbangan awak ke luar angkasa. Sebelumnya, pesawat luar angkasa Soyuz Rusia dan roket Soyuz masing-masing memiliki performa yang baik. Sistemnya memiliki kemampuan untuk diluncurkan di hampir semua cuaca, berbeda dengan pesawat luar angkasa lain.

Dalam delapan tahun terakhir, penerbangan Soyuz yang dibatalkan hanya pada Oktober tahun ini ketika dua anggota awak kapal Ekspedisi 57 tergelincir. Namun awak kapal kembali dengan selamat ke Bumi setelah beberapa menit dalam penerbangan.

(kst/age)