"Buzzer menurut kami adalah individu atau akun dengan kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan/atau membangun percakapan tentang isu atau topik spesifik tertentu," ujar Rinaldi.
Rinaldi mengatakan media sosial menjadi arena pertarungan untuk membentuk sebuah branding. Pasalnya, pengguna media sosial juga meningkat setiap tahunnya. Pada 2015 terdapat 72 juta orang, meningkat pada 2016 terdapat 76 juta orang, dan 2017 terdapat 106 juta pengguna media sosial. Sejak 2015 ke 2017 terjadi peningkatan sebesar 34 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Media sosial pun tumbuh menjadi pasar yang menarik secara ekonomis maupun politis. Peluang meraup untung maupun menggaet massa ini lantas dimanfaatkan oleh berbagai aktor, mulai dari industri periklanan hingga para pemain politik. Para pelaku ini menyuarakan kepentingannya dengan kicauan berbayar," kata Rinaldi.
Analis Communication and Information System Security Research Center (CISSERec) Pratama Persadha menjelaskan masa depan buzzer masih sangat 'cerah'. Pasalnya, buzzer tidak selalu negatif.
"Karena ada juga jasa buzzer untuk mengangkat konten atau tokoh secara positif. Dan tidak selalu dengan media sosial, ada aksi buzzing lewat blog atau konten lain seperti video," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Sehingga dengan meningkatnya penggunaan media sosial dan terkoneksinya manusia satu sama lain, keperluan akan buzzer akan semakin tinggi. Selain di dunia politik, buzzer juga sangat dibutuhkan di dunia bisnis.
"Sekali lagi, penggunaannya bisa positif dan negatif," tambahnya. (age/asa)
Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Regis Duvignau)