Tri Akui Ada Kartu Perdana Aktif Dijual ke Konsumen

CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 20:47 WIB
Tri Akui Ada Kartu Perdana Aktif Dijual ke Konsumen Ilustrasi kartu perdana prabayar. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chief Commercial Officer Hutchison Tri Indonesia, Dolly Susanto mengakui jika ada kartu perdana yang dijual ke konsumen dalam kondisi sudah aktif. Kendati demikian, Dolly menyebut jumlahnya tidak sebesar kompetitor.

"Ada (nomor perdana yang dijual sudah aktif), tapi tidak banyak. Saya nggak hafal jumlahnya tapi update dari tim kami paling dikit karena kami nggak mendukung yang tidak sesuai dengan pemerintah," ucap Dolly usai konferensi pers di Ice Palace, Jakarta Selatan, Selasa (11/12).

Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi surat edaran Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang meminta semua operator untuk tidak menjual kartu perdana aktif sebelum dibeli pengguna. Hal ini dilakukan sebagai upaya mendukung proses registrasi nomor SIM yang digiatkan pemerintah.


Dolly mengaku pihaknya mendukung upaya BRTI tersebut. Terkait dengan temuan nomor yang sudah diaktifkan ketika konsumen membeli, ia mengaku Tri akan mengambil tindakan tegas.

"Kami sangat mendukung mengenai hal itu karena itu kan upaya memerangi terorisme. Kami sudah langsung menindak dan melakukan hal tersebut," imbuhnya.

Sebelumya, BRTI melaporkan berdasarkan monitoring dan evaluasi dari registrasi prabayar masih terdapat kartu perdana jasa telekomunikasi yang dijual dalam keadaan aktif atau penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (KK) untuk melakukan registrasi secara tanpa hak atau melawan hukum.

BRTI mewajibkan operator saat mengedarkan kartu perdana ke pihak distributor dan saluran penjualan lainnnya memastikan dalam keadaan tidak aktif kecuali akses kepada operator untuk keperluan registrasi.

Masih beredarnya kartu perdana dengan registrasi ilegal itu mengimplikasikan bahwa operator atau distributor menggunakan identitas tak jelas dalam mendistribusikan kartu perdana. Selain itu, hal ini memperlihatkan lemahnya peredaran nomor tak jelas yang maish tak berhenti meski sudah ada regulasi registrasi kartu SIM. (kst/evn)