Alasan China Lakukan Misi ke Bulan

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 17:58 WIB
Alasan China Lakukan Misi ke Bulan Ilustrasi (REUTERS/ Alaa al-Faqir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Misi Chang'e 4 China mencapai sisi tak terlihat Bulan berhasil pada Rabu (2/1). Misi yang diambil dari nama Dewi Bulan itu ingin mengungkap misteri pembentukan bulan dan evolusi awalnya yang akan berdampak pada pengetahuan mengenai sistem Tata Surya.

"Ini adalah langkah bersejarah dalam eksplorasi bulan ilmiah internasional, membuka 'Luna Incognita' dari sisi jauh Bulan untuk eksplorasi permukaan untuk pertama kalinya," kata James Head, ilmuwan planet di Brown University, kepada NYTimes, Kamis (3/1). 

Selain itu, misi ini juga akan menguji radio astronomi pertama dari sisi jauh Bulan. Ia juga akan melakukan penyelidikan pertama untuk melihat apakah tanaman dapat tumbuh di Bulan.


Chang'e-4 akan khusus menguji apakah kentang dan tanaman Arabidopsis yang memiliki bunga kecil bisa tumbuh di Bulan. Mereka akan memiliki rumah kaca mini pertama yang mendarat di dunia lain di tata surya.

Anna-Lisa Paul, ilmuwan hortikultura di University of Florida di Gainesville, mengatakan bahwa percobaan kecil ini, "adalah langkah maju dalam mempersiapkan orang untuk kembali ke Bulan (bisa berlangsung) lebih lama dari (sekadar) kunjungan singkat."

Selain itu, The Guardian juga mencatat bahwa Lembaga Angkasa Nasional China (CNSA) ingin mengeksplorasi lembah di kutub selatan Aitken. Lembah ini merupakan kawah yang diyakini tertua dan terdalam di Bulan.

Bagian ini dipercaya ditabrak oleh batu sangat besar miliaran tahun silam. Besar kawah ini mencapai 965,606 km.

Sisi itu berbeda dari permukan wajah "manusia di bulan" di sisi dekat Bulan yang terlilhat bertotol-totol gelap menonjol di tanah Bulan. Daerah-daerah gelap terbentuk ketika asteroid kuno menghantam permukaan Bulan hingga dia mengeluarkan lava yang menggelapkan bagian yang hancur dan menghaluskannya, menghapus catatan dari dampak sebelumnya.

Tetapi ketika asteroid kuno menghantam sisi jauh Bulan, tidak ada banjir lahar yang terjadi. Tabrakan hanya meninggalkan permukaan bopeng dengan kawah. Itu membuat sisi jauh tanahnya lebih terang. Tapi di sisi bulan yang terang, warna tanahnya jauh lebih tua dan jauh lebih berat.

Selain itu, beberapa astronom menduga dikotomi itu muncul karena kerak di sisi dekat jauh lebih tipis daripada di sisi jauh. Briony Horgan, ilmuwan planet di Universitas Purdue, menjelaskan kerak tipis itu membuat magma lebih mudah muncul di sisi yang dekat.

Tetapi misterinya adalah mengapa ketebalan kerak sangat bervariasi dari satu belahan ke belahan Bulan lainnya. Dr. Horgan berharap Chang-4 akan memberikan petunjuk untuk jawabannya.

"Sejarah tata surya yang paling awal terkunci di bebatuan di sisi yang jauh," Dr. Horgan pada NYTimes.

Mencari tahu persis usia lembah tersebut dapat membantu manusia belajar lebih banyak tentang kapan peristiwa ini terjadi. Eksplorasi juga memberikan petunjuk seperti apa lingkungan Tata Surya saat itu (kst/eks)