"Kami akan terus menjalin diskusi dan komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat serta pemerintah daerah Bali," ujar Michael melalui pesan singkat yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (13/2).
"Kami menghormati aspirasi seluruh teman-teman driver konvensional di Bali yang telah melakukan audiensi dengan Gubernur Bali," sambungnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu visi kehadiran kami di Bali adalah untuk memberikan dampak sosial bagi mitra pengemudi dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru, fleksibilitas serta menumbuhkan lebih banyak wirausaha mandiri," terang Michael.
Sebagai informasi, pekan lalu Gubernur Bali Wayan Koster menerima sejumlah sopir yang tergabung dalam Bali Transport Bersatu (BTB). Mereka menyatakan bahwa pihaknya merasa dirugikan karena biaya taksi online lebih murah.
Menanggapi hal tersebut, Koster menyatakan telah menyiapkan solusi yakni merancang regulasi terkait operasi angkutan kovensional termasuk penggunaan "aplikasi online" dan direncanakan bakal menutup operasi taksi online setelah Pilpres 2019 yang akan diselenggarakan bulan April mendatang.
Pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 118 Tahun 2018 yang mengatur tentang taksi online menyatakan banyak hal berkaitan dengan kewenangan Gubernur. Salah satunya pada Pasal 18 yang menjelaskan izin penyelenggaraan angkutan sewa khusus (taksi online), selain diberikan Menteri, juga bisa diberikan Gubernur untuk wilayah operasi dalam satu daerah provinsi sebagai tugas dekonsentrasi. (din/evn)