Vivo Mau Rebut Peringkat Wahid dari Samsung dalam 3 Tahun

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 19:06 WIB
Vivo Mau Rebut Peringkat Wahid dari Samsung dalam 3 Tahun Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Vivo menargetkan menjadi merek ponsel nomor satu di Indonesia dalam kurun tiga tahun. Berdasarkan data IDC, tahun lalu Vivo berada di peringkat keempat di bawah Samsung, Xiaomi, dan Oppo.

Salah satu langkah awal untuk mencapai target tersebut yakni dengan meningkatkan kapasitas pabrik untuk memproduksi ponsel.

"Kami rencana tigaa tahun jadi merek pertama di Indonesia. Itu kapasitas produksi kita di pabrik sekarang sudah 800 ribu [unit] per bulan," kata General Manager for Brand and Activation Vivo Indonesia Edy Kusuma usai acara peluncuran V15 di Taman Sri Baduga Situ Buleud, Purwakarta, Selasa malam (5/3).


Edy mengatakan kapasitas produksi pabrinya telah meningkat 200 persen sejak berdiri pada 2016. Perluasan pabrik yag awalnya hanya memiliki satu gedung, kini telah bertambah menjadi empat gedung pada 2018.

Untuk mendukung produksi ponsel yang lebih tinggi di tahun ini, Vivo berencana melanjutkan ekspansi dengan menambah gedung baru.

"Kami terus berkembang menambah kapasitas produksi di pabrik kita. Tahun lalu kita udah memperluas pabrik kita. Tahun ini juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen kita kita sudah akan produksi perbulan sampai 800 ribu," imbuhnya.

Pada Agustus 2017, pabrik Vivo Mobile Indonesia telah mengalami perluasan lahan hingga lebih dari dua kali lipat guna meningkatkan kapasitas produksi. 

Peningkatan kapasitas dan target produksi di pabrik diikuti dengan penambahan Line Checking pada tahun ini. Masing-masing line memiliki beberapa orang yang bertanggung jawab memastikan ponsel Vivo telah dirakit dengan benar.

Penambahan line baru ini semakin memastikan kualitas dari smartphone yang dihasilkan dari pabrik Vivo di Cikupa sesuai dengan standar Vivo Global. Beriringan dengan peningkatan kapasitas pabrik, Vivo juga berencana untuk terus meningkatkan kontribusi penyerapan SDM lokal.

Dari awal produksi pada tahun 2016, jumlah karyawan pabrik independen Vivo di Cikupa kini telah meningkat hingga hampir 5 kali lipat. Jumlah ini terdistribusi dalam produksi, supervisi, hingga administrasi. (jnp/evn)