ANALISIS

Layar Lipat, Medan Tempur Baru Vendor Ponsel

CNN Indonesia
Jumat, 08 Mar 2019 08:15 WIB
Layar Lipat, Medan Tempur Baru Vendor Ponsel
Ketahanan layar lipat ini masih dipertanyakan (REUTERS/Stephen Lam)
Herry mengatakan rumor ponsel layar lipat ini sesungguhnya sudah dimulai sekitar delapan tahun lalu. Saat itu ada vendor ponsel yang menunjukkan prototipe konsep awal dari ponsel layar lipat. Samsung dan LG pun sempat memamerkan teknologi layar fleksibel mereka di beberapa kesempatan. Namun, sejak saat itu ponsel-ponsel lipat ini masih bertahan dengan status prototipe.

Sejak itu ponsel layar lipat secara perlahan mulai digarap para vendor besar. Herry menilai para pemain besar ini harus selalu memiliki teknologi terbaru dan membentuk suatu pangsa pasar. Sudah dua tahun belakangan, para produsen ponsel kerap berperang di bagian kamera dengan menyematkan berbagai kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalisasi gambar.

Herry mengatakan sudah saatnya para produsen mencari medan perang terbaru. Medan perang terbaru ini merupakan ajang untuk menunjukkan siapa pionir dalam teknologi teranyar di ponsel pintar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita bicara produsen apapun terutama pemain besar itu harus selalu punya sesuatu yang kelihatan baru. untuk menunjukkan bahwa mereka pemimpin pasar dan pemimpin teknologi. Kalau kita kemudian lihat mau mengadu apa lagi ya yang beda ini ya di layar," kata Herry.

Herry menjelaskan teknologi layar ponsel pintar memang masih banyak yang bisa dieksplorasi. Sehingga, produsen bisa berinovasi memberikan berbagai teknologi yang disematkan dalam layar. Bahkan Herry mengatakan produsen bisa dengan mudah menggoreng kampanye-kampanye teknologi teranyar di dalam layar.

"Kalau ponsel lipat itu berarti nanti mereka bisa banyak yang bisa digoreng dari layar lipat. Misalnya masalah fleksibilitas, perpaduan antara ponsel dan tablet," kata Herry.

Saat ini, para vendor baru menonjolkan teknologi soal perubahan mode dari ponsel pintar ke tablet. Menurut Herry masih banyak teknologi ponsel layar lipat yang bisa dieksplorasi oleh para vendor.

"Mulai berbicara feature phone jadi smartphone atau smartphone jadi tablet karena begitu dibuka bisa membesar layarnya ponsel tablet. Seolah mengantongi fitur phone tiga inci tapi ketika diperlukan bisa jadi enam inci atau tujuh inci," kata Herry.

Jakarta, CNN Indonesia -- Tren ponsel layar lipat sedang menjadi tren terkini pada 2019. Banyak vendor besar yang mulai menggarap ponsel yang mengusung ponsel berengsel ini. Samsung, Huawei, LG, Motorolla Xiaomi, hingga Vivo berbondong-bondong menggarap ponsel dengan teknologi teranyar ini.

Dua nama pertama bahkan telah mengumumkan produk ponsel layar lipat berupa Galaxy Fold dan Mate X. Akan tetapi, gawai-gawai memang belum beredar di pasaran dan para penggila gadget mesti bersabar hingga akhir kuartal 2019 untuk bisa memilikinya.

Pengamat gawai Herry SW meyakini ponsel layar lipat akan digandrungi oleh konsumen di Indonesia. Alasannya, gawai sudah dianggap menjadi sebuah bagian dari gaya hidup manusia. Masyarakat di Indonesia sangat mementingkan kenyamanan gaya hidup, salah satunya adalah dengan menggunakan ponsel untuk meningkatkan kasta atau status dirinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau bicara pasar Asia, lebih spesifik di Indonesia, ponsel lipat itu pasti laku. Indonesia itu adalah pasar yang sangat peduli dengan lifestyle. Jadi kemarin kalau mereka pakai suatu perangkat terbaru duluan, seolah kasta naik satu level, dua level. Itu cerita lama, mulai dari zaman Nokia Communicator dulu, punya duluan, gaya duluan," kata Herry dalam sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/3).

Herry melanjutkan, demi gaya, konsumen Indonesia mengesampingkan harga, daya tahan, fitur, hingga fungsi ponsel. Pasalnya, daya tahan layar yang digunakan ponsel-ponsel lipat ini terbilang cukup rentan. Layar dari Samsung Galaxy Fold sendiri hanya kuat ditekuk-tekuk hingga 10 ribu kali. Sehingga, Samsung tengah mempertimbangkan untuk memberikan penggantian layar gratis bagi para pembeli ponsel ini.

Herry menyebut para penyuka gadget teranyar ini sebagai "Early Adopter". Early Adopter adalah orang-orang yang sangat menginginkan melakukan hands on ke perangkat teranyar. Ia yakin Indonesia memiliki daya beli yang mumpuni.

"Andaikan masuk, saya tetap optimis ada pasar. Orang-orang lifestyle yang suka perangkat itu 'Early Adaptor' . Mereka ingin perangkat terbaru, harga tidak masalah, yang penting punya duluan," kata Herry.

Ponsel dengan layar lipat ini menjadi daya tawar baru ke publik (REUTERS/Stephen Lam)
Tantangan yang akan diterima para vendor, bagi Herry, justru berasal dari pasar di benua Eropa yang lebih 'rasional' dibandingkan pasar Asia. Herry meyakini masuknya ponsel layar lipat dengan harga Rp20 juta hingga Rp30 juta ini akan mendapat resistensi tinggi dari pasar Eropa.

"Kalau berbicara di Eropa itu yang mereka sebetulnya beli gadget rasional. Ini ujian yang sebenarnya buat para produsen. Penjualan di Eropa bagaimana, mereka kan lebih rasional dari Asia, apalagi orang Indonesia," kata Herry.

Sementara itu, CEO Erajaya Hasan Aula saat dihubungi dalam kesempatan terpisah mengatakan pasar Indonesia dipandang memiliki potensi tinggi untuk menjual ponsel layar lipat.

"Menurut saya ada segmen konsumen yang memang mencari produk yang seperti ini dan ini merupakan new design sehingga bisa laku di Indonesia," kata Hasan.

Hasan mengatakan ponsel layar lipat ini akan memiliki segmen pasar yang cukup sempit mengingat harga ponsel yang masih berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp 30 juta. Oleh karena itu, ponsel layar lipat ini akan membentuk segmen pasar spesifik di Indonesia.

"Ada konsumen yang memang suka desain baru dan harga segitu masih oke. Secara massal ini pasti tidak digunakan tapi ada segmen yang memang mampu beli," kata Hasan.

Lahan Perang Baru Setelah Kamera

Ketahanan layar lipat ini masih dipertanyakan (REUTERS/Stephen Lam)

Herry mengatakan rumor ponsel layar lipat ini sesungguhnya sudah dimulai sekitar delapan tahun lalu. Saat itu ada vendor ponsel yang menunjukkan prototipe konsep awal dari ponsel layar lipat. Samsung dan LG pun sempat memamerkan teknologi layar fleksibel mereka di beberapa kesempatan. Namun, sejak saat itu ponsel-ponsel lipat ini masih bertahan dengan status prototipe.

Sejak itu ponsel layar lipat secara perlahan mulai digarap para vendor besar. Herry menilai para pemain besar ini harus selalu memiliki teknologi terbaru dan membentuk suatu pangsa pasar. Sudah dua tahun belakangan, para produsen ponsel kerap berperang di bagian kamera dengan menyematkan berbagai kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalisasi gambar.

Herry mengatakan sudah saatnya para produsen mencari medan perang terbaru. Medan perang terbaru ini merupakan ajang untuk menunjukkan siapa pionir dalam teknologi teranyar di ponsel pintar.

"Kalau kita bicara produsen apapun terutama pemain besar itu harus selalu punya sesuatu yang kelihatan baru. untuk menunjukkan bahwa mereka pemimpin pasar dan pemimpin teknologi. Kalau kita kemudian lihat mau mengadu apa lagi ya yang beda ini ya di layar," kata Herry.

Herry menjelaskan teknologi layar ponsel pintar memang masih banyak yang bisa dieksplorasi. Sehingga, produsen bisa berinovasi memberikan berbagai teknologi yang disematkan dalam layar. Bahkan Herry mengatakan produsen bisa dengan mudah menggoreng kampanye-kampanye teknologi teranyar di dalam layar.

"Kalau ponsel lipat itu berarti nanti mereka bisa banyak yang bisa digoreng dari layar lipat. Misalnya masalah fleksibilitas, perpaduan antara ponsel dan tablet," kata Herry.

Saat ini, para vendor baru menonjolkan teknologi soal perubahan mode dari ponsel pintar ke tablet. Menurut Herry masih banyak teknologi ponsel layar lipat yang bisa dieksplorasi oleh para vendor.

"Mulai berbicara feature phone jadi smartphone atau smartphone jadi tablet karena begitu dibuka bisa membesar layarnya ponsel tablet. Seolah mengantongi fitur phone tiga inci tapi ketika diperlukan bisa jadi enam inci atau tujuh inci," kata Herry.


Ponsel Layar Lipat Masih Tahap Perkenalan BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2 3