Syahrul mengatakan dalam pertemuan tersebut Twitter diwakili oleh Kepala Kebijakan Twitter Indonesia Agung Yudha. Menurutnya, BSSN sebenarnya juga mengundang Facebook, namun tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
"Penyedia platform media sosial di Indonesia kami tekankan untuk ikut bertanggung jawab terhadap masifnya penyebaran berita hoaks dan ujaran kebencian yang mengganggu keamanan nasional," kata Syahrul dalam jumpa pers di Kantor BSSN, Jakarta Selatan, Jumat (15/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Facebook Larang Iklan Politik Jelang Pilpres |
"Yang ditawarkan pertama capacity building. Ini diperlukan bagi BSSN untuk bisa melakukan pelaporan yang efektif. Yang kedua ada kebutuhan khusus yang diminta BSSN melalui 3.0 One," kata Syahrul.
Peningkatan ini diharapkan bisa membuat BSSN meningkatkan respons layanan informasi kepada publik. Bondan mengatakan layanan yang serupa sesungguhnya sudah ada di aduankonten.id yang dikelola Kementerian Komunikasi dan Informatika.
"Nanti BSSN akan lebih meningkatkan koordinasi dengan berbagai lembaga pemerintah untuk menghindari duplikasi laporan yang masuk ke platform," kata Bondan. (jnp/evn)