Defisit Sektor TI Rp19,7T Disebut Karena Kurang Pusat Litbang

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 15:41 WIB
Defisit Sektor TI Rp19,7T Disebut Karena Kurang Pusat Litbang Ilustrasi (REUTERS/Aly Song)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan sebesar US$1,4 miliar atau sekitar Rp19,7 triliun.

Rudiantara mengatakan defisit ini terjadi karena Indonesia tidak memiliki pusat penelitian dan pengembangan (Research & Develpoment/R&D) yang mengkhususkan diri untuk memproduksi sebuah teknologi.

"Defisit transaksi berjalan akibat perkembangan ICT (TIK), tahun kemarin ada US$1,4 miliar. Saya katakan terus kenapa? Kita defisit mungkin US$1,4 miliar karena kita tidak memproduksi teknologi dan R&D kita tidak diarahkan ke sana," kata Rudiantara usai acara Techno-Fest Palapa Ring di Kantor Kemkominfo, Jakarta Pusat, Rabu (20/30)


Secara sederhana defisit transaksi berjalan bisa diartikan sebagai sebagai kondisi keuangan negara di mana angka pertumbuhan impor lebih tinggi dibandingkan angka pertumbuhan ekspor. Nilai impor yang lebih tinggi justru akan menggerus neraca perdagangan, sehingga mengalami defisit transaksi berjalan.

Lebih lanjut, Rudiantara mengatakan tidak mempermasalahkan defisit tersebut. Ia mengatakan efek defisit itu justru ia anggap sebagai modal untuk menghadirkan berbagai teknologi demi kemaslahatan masyarakat Indonesia.

"Jadi kalau Rp 1,4 miliar itu adalah sebagai modal kita, asal manfaatnya lebih banyak dari maslahatnya kenapa tidak. Kita berpikirannya yang gampang-gampang saja, bisnis, ya begitu kurang lebih," kata Rudiantara.

Rudiantara misalnya memberikan contoh banyak aplikasi yang dikembangkan di dalam negeri. Ia kemudian mencontohkan dengan kehadiran teknologi dari sisi kesehatan, masyarakat tak lagi perlu mengantre untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Kementerian Kesehatan memiliki aplikasi Telemedicine (Temenin) yang diuji coba di RSU Ranai di Natuna dengan RSUS Embung Fatima di Batam. Temenin bisa digunakan di Natuna karena rampungnya Palapa Ring Barat.

"Satu masyarakat lebih mudah dilayani dari segi kesehatan, ke rumah sakit tidak perlu antre-antre. Masa orang sakit di suruh antre suruh tunggu dokter," kata Rudiantara. (jnp/eks)