TeleCGT sendiri adalah alat mini yang digunakan untuk mendeteksi kondisi kehamilan. Alat ini digunakan untuk mendiagnosa detak dan irama jantung bayi, memonitor gerakan janin, serta mencatat kontraksi ibu hamil, serupa dengan alat Cardiotocography (CGT). Tapi, TeleCGT punya ukuran yang jauh lebih kecil dan ringan sehingga bisa dibawa ke daerah-daerah terpencil.
"Kita akan coba masuk ke sekitar 15 negara di Afrika, kenapa? Karena kondisi geografis nya bukan kelautan tapi padang pasir ataupun hutan-hutannya yang jauh dari satu tempat ke tempat lain," ucap Abraham di kantor Sehati TeleCGT, Jakarta Selatan, Jumat (22/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Tujuh Startup Lokal Cari Investor Potensial |
Selain itu menurut Abraham, permasalahan kesehatan beberapa negara di Afrika serupa dengan kondisi di Indonesia, seperti tingginya angka stunting, angka kematian ibu dan anak serta akses kesehatan yang kurang baik.
Lihat juga:Manfaat Kesehatan dari Susu Kayu Manis |
"Kalau sekarang ini, karena kita baru dapat ijin bulan November kemarin jadi produksi baru bisa keluar Desember. Sekarang alat kita sudah digunakan di satu kabupaten di Kupang," kata Abraham.
"Bulan ini, kami akan mengimplementasikan TeleCGT di 5 kabupaten lainnya yaitu Lombok Timur, Timor Tengah Selatan, Bangkalan, Sumba dan Alor," sambungnya.
Guna melancarkan penggunaan alat TeleCGT itu kata Abraham, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI.
Sehati ditunjuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mengikuti Festival South by Southwest (SXSW) 2019 di Austin Texas, Amerika Serikat pada 10-17 Maret lalu guna memperkenalkan alat buatan karya anak bangsa ke kancah internasional.
"Hadirnya Sehati TeleCTG di festival SXSW ini membawa misi besar, yakni menjaring mitra strategis dalam pengembanhan maupun pemasaran produk telecardiotocography berbasis portable," pungkas Abraham. (din/eks)