Peneliti Ajukan Tiga Solusi Atasi Pencemaran Citarum

CNN Indonesia | Selasa, 26/03/2019 10:10 WIB
Peneliti Ajukan Tiga Solusi Atasi Pencemaran Citarum Seorang relawan mencari sampah plastik di Sungai Citarum Lama, Rancamanyar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (14/5). Hasil survei yang dilakukan oleh Kodam III Siliwangi mencatat sebanyak 20.462 ton sampah organik dan anorganik dibuang ke Sungai Citarum per harinya (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Bandung, CNN Indonesia -- Kepala LPTB LIPI, Sri Priatni mengungkapkan, pencemar terbesar Citarum berasal dari limbah rumah tangga yang mempunyai andil antara 60-70 persen dari beban pencemar yang ada.

"Limbah dari WC yang tidak terolah dan sampah rumah tangga diperburuk dengan tambahan limbah kotoran ternak yang jumlahnya ribuan di sekitar titik nol Citarum," ujar Sri di Bandung, Senin (25/3).

Terkait limbah yang berasal dari WC warga, LPTB LIPI telah mengembangkan teknologi toilet pengompos yang sesuai untuk diterapkan di lingkungan yang sulit air bersih dan kekurangan sarana sanitasi.


"Toilet ini bisa menggantikan keberadaan WC umum sepanjang aliran anak Sungai Citarum sehingga polusi kotoran manusia bisa dikurangi dan kualitas sanitasi masyarakat bisa meningkat. Komposnya bisa dipergunakan tanaman," ujar Sri. 

Peneliti Ajukan Tiga Solusi Atasi Pencemaran CitarumLPTB LIPI mengembangkan teknologi toilet pengompos yang sesuai untuk diterapkan di lingkungan yang sulit air bersih dan kekurangan sarana sanitasi. (CNNIndonesia.com/Huyogo Simbolon)

Limbah industri

Pencemar lainnya, sambung Sri, adalah limbah sisa industri yang sebagian besar adalah termasuk pada jenis limbah yang berbahaya yang sulit diuraikan secara alami. Industri tahu dan tekstil yang berada di sepanjang aliran Citarum punya andil dalam masalah ini.

Sri menerangkan, penanganan Citarum di daerah hulu terutama di kawasan Bandung Raya menjadi titik perhatian utama LIPI karena ada 8 anak sungai yang sebagian besar mengalir melewati permukiman padat di Bandung Raya dan memegang porsi 5 persen dari keseluruhan polutan domestik Citarum.

Sementara, peneliti LPTB LIPI Neni Sintawardani mengungkapkan LIPI telah berhasil menerapkan teknologi pengolahan limbah cair tahu secara anaerobic dengan teknik multi-tahap di sentra industri tahu di Giriharja, Kabupaten Sumedang.

"Limbah yang dihasilkan menjadi layak buang ke sungai dan biogas yang dihasilkannya telah digunakan oleh 88 rumah tangga di sekitarnya. Teknologi ini juga bisa diaplikasikan untuk penanganan kotoran hewan," jelas Neni.

Untuk penanganan limbah industri tekstil yang menjadi penyebab turunnya kualitas air sungai Citarum, LIPI telah mengembangkan satu metode yang lebih mudah dan cepat untuk memonitor zat-zat yang terkandung pada zat pewarna tekstil.

"Metode ini menekan biaya monitoring dan hasilnya sesuai standar nasional dan internasional. Ada delapan peneliti monitoring yang mengembangkan metode pemantauan berbasis Green Analytical Chemistry (GAC). Termasuk di dalamnya prosedur teknis analisis residu pestisida, polutan logam berat serta sensor kimia," kata peneliti LPTB LIPI, Willy Cahya Nugraha.

Limbah plastik

Sedangkan untuk pengurangan limbah plastik, peneliti LPTB LIPI, Hanif Dawam Abdullah mengungkapkan, pihaknya telah mengembangkan bio-plastik sebagai alternatif untuk menggantikan plastik biasa. "Bio-plastik tersebut berbasis pati yang mudah diurai mikroba alami dengan cepat. berpeluang menjadi solusi limbah plastik saat ini," kata Hanif.

Sungai Citarum menjadi urat nadi kehidupan warga Jawa Barat. Namun pencemaran sungai dengan panjang 297 kilometer serta melintasi 12 kabupaten/kota itu menjadi permasalahan akut di sungai terpanjang di wilayah Jabar.

Pemerintah menargetkan agar Sungai Citarum bisa menjadi sumber air minum bagi setidaknya 28 juta orang yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai tersebut. (hyg/eks)