Dianggap Tak Seksi, Sektor Pertanian Potensial Bagi Startup

CNN Indonesia | Sabtu, 30/03/2019 06:07 WIB
Dianggap Tak Seksi, Sektor Pertanian Potensial Bagi Startup Ilustrasi pertanian. (Foto: ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO iGrow Andreas Sanjaya mengungkapkan bidang pertanian menyimpan potensi besar untuk digarap oleh perusahaan rintisan (startup).

Menurutnya, bidang pertanian sangat luas sehingga startup yang berkecimpung di bidang pertanian tak perlu mengkhawatirkan persaingan keras.

"Enaknya dalam dunia pertanian itu marketnya sangat besar. Sebanyak apapun pemainnya tidak akan saling makan. Akan ketemu titik-titik di mana kita akan saling kolaborasi," kata Andreas dalam acara Thinkubator, di Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (28/3).


iGrow adalah sebuah platform yang membantu petani lokal, lahan yang belum optimal diberdayakan, dan investor penanaman untuk menghasilkan produk pertanian berkualitas.

Andreas menjelaskan iGrow menghubungkan petani, pemilik tanah, investor penanaman, dan pembeli produk pertanian untuk bersama-sama menciptakan penanaman. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang dialami petani.

"Ketika kita masuk ke area pertanian, masalah petani itu banyak. Tidak hanya modal saja. Petani paling tidak punya dua masalah besar, pertama pasar dan kedua pendanaan," ucapnya.

Andreas berhadap ada banyak startup di bidang pertanian yang muncul. Pasalnya masih banyak ruang yang bisa digarap oleh startup.

"Bicara masa depan itu banyak hal yang bisa kita eksploitasi. Walaupun dalam perkembangannya mereka dapat edukasi dan ditingkatkan sehingga makin baik kualitas dan standarnya," ucapnya.

Sementara itu, CEO Habibi Garden Dian Prayogi mengakui jika bidang pertanian dianggap kurang seksi bagi startup dibandingkan e-commerce dan transportasi. Padahal pasar sektor  pertanian yang bisa digarap oleh startup.

Dia menjelaskan Habibi Garden meningkat petani menjadi lebih canggih dengan autonomous irigation dan pemupukan serta memanfaatkan data-dara tumbuhan. Saat ini mereka telah bekerjasama dengan sekitar seribu petani di Sumatera dan Jawa.

"Unicorn-unicorn itu di Indonesia tidak banyak yang agrikultur ya. Sektor agrikultur itu dianggap tidak seseksi transportasi atau e-commerce. Tapi di Indonesia ini banyak sekali ada jutaan petani," tandasnya. (jnp/evn)