Pengamat Medsos: 'Swing Voters' Objek Dongkrak Elektabilitas

CNN Indonesia | Sabtu, 30/03/2019 17:22 WIB
Pengamat Medsos: 'Swing Voters' Objek Dongkrak Elektabilitas Ilustrasi pencoblosan. (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat media sosial Kun Arief Cahyantoro menilai swing voters jelang Pemilu 2019 sebenarnya sudah memiliki pilihan di lubuh hatinya.

Namun, pilihan tersebut masih di batas abu-abu karena ia yakin seluruh orang telah menentukan pilihan siapa yang hendak dicoblos pada 17 April mendatang.

"Yang harus dipahami setiap orang itu sebelum pemilihan sebenarnya sudah memilih. Pemahaman yang namanya swing voters itu sebetulnya abu-abu. Sudah sejak tiga bulan lalu mungkin orang-orang ini telah memiliki pilihan," ujar Arief usai acara acara Ngopini bertajuk 'Gerilya Digital Cebong Kampret' di Jakarta Pusat, Jumat (29/3).


Bagi Arief, kemunculan swing voters sebenarnya bisa jadi modal berjualan para konsultan politik yang terafiliasi dengan lembaga riset untuk menawarkan jasa pemasaran politik. Arief bahkan tak menampik beberapa lembaga riset juga memiliki lini bisnis sebagai konsultan politik.

Ia beranggapan sebenarnya swing voters tidak ada karena semua orang sebenarnya sudah memiliki pilihan masing-masing.

"Banyak konsultan politik yang menjual swing voters tadi. Padahal menurut saya swing voters itu tidak ada karena menurut saya itu semua sudah memilih. Tapi ini modal jualan perusahaan," ucapnya.

Arief menyebut swing voters nantinya bisa menjadi modal untuk memberika strategi pemasaran berupa konten yang bisa menaikkan elektabilitas calon peserta Pemilu 2019.

Konsultan politik menjadi 'trigger' atau penyedia konten yang akan diberikan kepada tim kampanye secara keseluruhan. Termasuk di dalamnya pasukan digital yang terdiri dari Key Opinion Leader (KOL), influencer, dan buzzer.

Namun uniknya, Arief menyebut konsultan politik ini memiliki peran layaknya tentara bayaran. Dalam satu waktu, konsultan politik bisa berpihak ke kubu mana yang sedang bertarung dengan menyediakan data atau strategi bagi kedua kubu yang bertarung.

"Trigger itu sebetulnya menjual ke kiri dan kanan. Misalnya yang bagus untuk yang kiri adalah a,b,c,d,e dan bilang ke kanan yang bagus f,g,h,i dan itu valid," tutur Arief.

Dalam kesempatan yang sama Mustofa Nahra yang merupakan influencer 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengakui bahwa swing voters sebenarnya sekedar buatan lembaga riset.

"Kami pikir swing voters pasti itu buatan lembaga riset saja. Sebenarnya ini bisnis mereka saja sehingga bisa mengatakan ke dua belah pihak, bahwa masih ada orang-orang yang bisa ditarik untuk memilih pihak tersebut," ujar Mustofa. (jnp/evn)