Ke depan, satelit internet broadband ini akan ditaruh di berbagai titik mengelilingi orbit Bumi. Sehingga, bisa menyediakan jaringan internet kecepatan tinggi bagi siapapun yang menyewa fasilitas internet satelit ini.
"Gelombang peluncuran satelit berikutnya ini akan benar-benar menjadi demonstrasi bagi kita untuk melihat skema penyebaran dan mulai menyatukan jaringan kita," kata Shotwell saat menghadiri konferensi Satelit 2019 dikutip dari Space.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS menyetujui permintaan SpaceX untuk menerbangkan sejumlah satelit pada orbit yang lebih rendah. Pada November 2018 lalu, SpaceX mengirimkan permintaan itu kepada FCC untuk merevisi sebagian rencana untuk konstelasi satelit internet yakni Starlink.
Sayangnya tidak semua pihak senang dengan rencana SpaceX tersebut. Salah satu perusahaan pengembang jaringan internet OneWeb dan operator satelit Kepler Communications malah mengajukan petisi untuk menolak permintaan SpaceX kepada FCC.
Keduanya berpendapat bahwa SpaceX menggunakan frekuensi yang sama saat meluncurkan satelit Starlink dan hal itu akan menganggu satelit mereka jika dipindahkan ke orbit yang lebih rendah. Di sisi lain, FCC tak menganggap gangguan itu sebagai masalah.
OneWeb dan Kepler Communications juga mengatakan peluncuran satelit Starlink bakal meningkatkan risiko tabrakan antar satelit yang tengah mengorbit di orbit rendah. Namun FCC lagi-lagi mengatakan bahwa SpaceX menjamin bahwa satelit Starlink tidak akan menyebabkan terjadinya tabrakan antar satelit. (din/eks)