Kaspersky: 33 Persen Mantan Karyawan Akses Data Perusahaan

CNN Indonesia | Sabtu, 25/05/2019 05:41 WIB
Kaspersky: 33 Persen Mantan Karyawan Akses Data Perusahaan Ilustrasi. (Foto: StartupStockPhotos/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kaspersky Lab merilis riset yang menemukan bahwa 33 persen mantan karyawan yang sudah hengkang dari perusahaan masih memiliki akses dan data perusahaan. Kaspersky menganggap hal ini bisa berpotensi data dan aset perusahaan berisiko disalahgunakan.

Adanya risiko penyalahgunaan bisa terjadi lantaran pekerja yang tidak lagi berstatus sebagai karyawan aktif tetap tidak terputus dari layanan surel perusahaan, aplikasi pesan instan, hingga dokumen Google.

Head of B2B Product Marketing di Kaspersky Lab Sergey Marstsynkyan mengatakan mantan karyawan juga dapat menggunakan data ini untuk tujuan pribadi di tempat kerja baru. Bahkan mantan karyawan secara tidak sengaja bisa menghapus atau merusak data.


Bagi perusahaan kecil yang aktif dan dalam proses menuju efisien dan kompetitif, situasi seperti ini sangat tidak diinginkan. Pasalnya pemulihan data akan membutuhkan waktu dan upaya. Padahal seharusnya waktu dan upaya tersebut seharusnya bisa dialokasikan untuk keperluan bisnis yang lebih berharga.

"Data digital yang berantakan dan akses data tidak terkontrol terkadang dapat menyebabkan pelanggaran dan insiden dalam dunia siber, dalam kebanyakan kasus, kemungkinan akan mengakibatkan gangguan dalam pekerjaan di perusahaan, waktu terbuang dan energi terkuras sia-sia akibat memulihkan file yang hilang," kata Sergey dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (21/2).

[Gambas:Video CNN]

Kaspersky mengatakan situasi seperti ini sangat mengkhawatirkan, karena jika aset-aset ini hilang, maka bisa digunakan oleh pelaku kejahatan siber atau kompetitor untuk meraup keuntungan.

Aset-aset yang dimaksud termasuk kekayaan intelektual, data komersial dan dilindungi lainnya serta segala jenis rahasia. Di antara responden yang disurvei oleh Kaspersky Lab, 72 persen mengaku bekerja dengan dokumen yang berisi berbagai jenis data sensitif.

"Kehati-hatian dalam mengelola hak akses serta menggunakan solusi keamanan bukan hanya untuk melindungi diri dari ancaman siber. Ini adalah jaminan bekerja secara efektif tanpa adanya gangguan," ujar Marstsynkyan.

Untuk mengantisipasi hal ini, Kaspersky Lab memberikan sejumlah saran dan rekomendasi, Pertama, perusahaan diminta menyusun kebijakan akses untuk aset termasuk kotak surel, folder bersama, dokumen daring (semua hak akses yang harus segera ditarik setelah karyawan hengkang).

Kedua, secara teratur mengingatkan staf menyoal peraturan keamanan siber perusahaan agar memahami apa yang diharapkan dan mengubahnya menjadi kebiasaan. Ketiga, menggunakan enkripsi untuk melindungi data perusahaan yang tersimpan dalam perangkat. Cadangkan data untuk memastikan informasi aman dan bisa diambil kembali, seandainya terjadi kemungkinan terburuk.

Keempat, menumbuhkan kebiasaan penerapan kata sandi yang baik di antara karyawan, seperti tidak menggunakan rincian pribadi atau membaginya dengan siapa pun baik di dalam atau di luar perusahaan. Fungsi pengelola kata sandi dalam produk solusi keamanan dapat membantu menjaga keamanan kata sandi dan data rahasia Anda.
(jnp/evn)