Menakar Bahaya Sampah Antariksa & Potensi Jatuh ke Indonesia

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 17:48 WIB
Ilustrasi satelit. (Foto: AFP PHOTO / CNES / D.DUCROS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisnis peluncuran satelit internet dianggap seksi oleh sejumlah raksasa teknologi dunia. SpaceX meluncurkan 60 konstelasi satelit internet ke orbit Bumi pada akhir Mei lalu, disusul pesaingnya Amazon dalam waktu dekat.

Proyek Kuiper yang disiapkan Amazon rencananya akan meluncurkan 3.236 satelit ke orbit Bumi. Satelit-satelit ini akan melayang berkelompok dalam 98 orbital di ketinggian 590 hingga 630 kilometer. Secara rinci, 784 satelit akan melayang di ketinggian 590 kilometer, 1.296 satelit pada ketinggian 610 kilometer, dan 1.156 satelit di ketinggian 630 kilometer.

Amazon merancang proyek Kuiper agar terhubung dengan Amazon Web Service (AWS) yang menyediakan layanan komputasi awan (cloud computing) untuk perorangan, perusahaan, dan pemerintah.


Langkah publik pertama Proyek Kuiper berupa tiga set pengajuan yang dilakukan dengan International Telecommunication Union bulan lalu oleh Komisi Komunikasi Federal atas nama Kuiper Systems LLC yang bermarkas di Washington, D.C.

Berbeda dengan Amazon yang masih sebatas rencana, SpaceX harus menelan pil pahit lantaran sebulan setelah diluncurkan tiga satelit internetnya hilang kontak dengan pusat pengendali di Bumi.

Kendati demikian, 57 satelit SpaceX dilaporkan masih bekerja dengan sangat baik dengan 45 persen diantaranya menaikkan ketinggian dan telah mencapai orbit paling akhir yang ditargetkan perusahaan yakni 550 kilometer.

Sampah antariksa dari satelit gagal dan usang

Satelit yang gagal mengorbit atau yang usia orbitnya telah berakhir akan menumpuk menjadi puing-puing. Puing satelit yang terbakar di atmosfer Bumi akan menjadi sampah antariksa hingga bisa menabrak satelit aktif dan mengganggu pengamatan ilmuwan saat meneliti material luar angkasa.

[Gambas:Video CNN]

Aerospace menjelaskan sampah antariksa yang saat ini berada di orbit Bumi berisi bongkahan satelit dan roket, roda momentum, inti reaktor nuklir dan pecahan roket yang bertabrakan dengan benda lain hingga dikhawatirkan membahayakan manusia di Bumi. Disamping itu sampah antariksa juga berasal dari satelit usang yang masa orbitnya telah berakhir.

Sampah yang mengorbit di Bumi rendah (ketinggian lebih rendah dari 2.000 kilometer) dengan kecepatan tumbukan rata-rata 21.600 mil per jam bahkan partikel kecil dari sampah itu dapat mendatangkan malapetaka.

Untuk meminimalisir bahaya, NASA sering mengganti jendela pengorbit ruang angkasa karena rusak akibat partikel yang ditimbulkan oleh sampah antariksa.

Hingga Agustus 2007 Aerospace mencatat ada 245 puing yang ditumpahkan dari suatu objek. Tumpukan puing antariksa berpotensi memicu ledakan dan tabrakan antar objek di luar angkasa.

Ledakan terjadi akibat residu propelan, baterai terlalu panas, atau dalam beberapa kasus terjadi karena kehancuran satelit yang disengaja.

Dua kejadian nahas mengakibatkan meningkatnya jumlah puing satelit di orbit. Pada 2007, China dengan sengaja menghancurkan satelit FY-1C dalam uji senjata antisatelit dan menciptakan lebih dari 3.000 pecahan objek.

Dua tahun berselang, 33 satelit aktif Iridium milik AS bertabrakan dengan 2.251 satelit Kosmos milik Rusia yang sudah tidak berfungsi lagi hingga menciptakan setidaknya 2.000 pecahan objek. (din/evn)
1 dari 2