Tokopedia Akui Sulit Kontrol Peredaran Ponsel Ilegal

CNN Indonesia | Jumat, 19/07/2019 12:24 WIB
Tokopedia Akui Sulit Kontrol Peredaran Ponsel Ilegal Tokopedia mengakui kesulitan untuk mengontrol peredaran produk ilegal, khususnya ponsel ilegal. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tokopedia mengakui kesulitan untuk mengontrol peredaran produk ilegal, khususnya ponsel ilegal. Pasalnya, platform Tokopedia bersifat user generated content (UGC) alias para penggunalah yang mengunggah konten.

Head of Category Browse & Content Tokopedia Cynthia Limin menjelaskan meskipun sulit, Tokopedia secara proaktif melakukan pemblokiran pada produk llegal.

"Sebenarnya untuk produk-produk ilegal karena memang kami marketplace jadi kebanyakan adalah konten UGC. Tapi kami juga proaktif take down dan menyediakan fasilitas agar pengguna bisa melaporkan produk ilegal," ujar Cynthia usai peluncuran fitur 'Tukar Tambah' di kantor Tokopedia, Jakarta Selatan, Jumat (18/7).


Cynthia mengatakan Tokopedia patuh dan menyesuaikan terhadap peraturan pemerintah terkait validasi IMEI. Menurutnya, Tokopedia bahkan membantu pemerintah untuk mendata ponsel-ponsel dengan IMEI legal.


"Di Tokopedia sebagai platform kita sebenarnya comply kalau dengan peraturan pemerintah," ujar Cynthia.

Cynthia mengatakan dalam fitur 'Tukar Tambah', penjual ponsel lama harus memasukkan nomor IMEI sebelum Tokopedia menaksir harga ponsel tersebut.

"Tukar tambah ini membantu pemerintah dari segi IMEI-nya karena ada pengecekan IMEI, kemudian kami lakukan Know Your Customer (KYC) bagi setiap orang yang melakukan tukar tambah. jadi kita melihat siapa saja yang melakukan tukar tambah dan kita simpan datanya," katanya.


Sebelumnya, Tokopedia bekerja sama dengan situs tukar tambah Laku6 baru saja meluncurkan fitur 'Tukar Tambah' yang membuat pengguna bisa menukar ponsel lama dengan yang baru.

Mengandalkan kecerdasan buatan dan AI milik Laku6, harga ponsel bisa ditaksir secara online di aplikasi. Kemudian harga ponsel lama akan mengurangi harga ponsel baru. (jnp/asa)