Thomas Djamaluddin
Thomas mengantongi gelar doktor di bidang astronomi dari Kyoto University. Sejak 7 Februari 2014 hingga kini menjabat sebagai Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

KOLOM

Kembali ke Bulan setelah 50 Tahun Manusia Pertama Mendarat

Thomas Djamaluddin, CNN Indonesia | Senin, 22/07/2019 11:27 WIB
Kembali ke Bulan setelah 50 Tahun Manusia Pertama Mendarat Persiapan peluncuran misi Apollo 11. (Foto: REUTERS/NASA/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya masih duduk di kelas 1 SD saat Neil Armstrong menjejakkan kakinya di bulan dalam misi Apollo 11 pada 1969 silam. Melalui radio, masyarakat ramai memperbincangkannya. Film pendaratan astronaut ke bulan pun laris manis dan kawan-kawan saya ramai menontonnya. Sayang, saya sendiri tidak bisa ikut menonton karena tidak mampu membeli tiket, dan menikmati cerita sesudahnya dari teman-teman.

Saat saya kuliah astronomi di ITB, barulah cerita masa kecil terungkap secara nyata.

Pendaratan manusia pertama di bulan benar adanya. Misi Apollo dengan pendaratan manusia di bulan berlangsung selama 1969 - 1972. Bahkan ada sampel batuan bulan yang dibawa astronot untuk penelitian lebih lanjut tentang hakikat bulan dan teori pembentukannya.


Astronaut pun tampak berjalan agak melompat, karena gravitasi bulan hanya seperenam gravitasi di Bumi. Beban berat pakaian astronot tampak ringan saja ketika berada di bulan.

Misi Apollo konon berbiaya sangat mahal, sekitar US$25 miliar (Rp 375 triliun menurut nilai saat ini) atau 2,5 persen pendapatan kotor Amerika Serikat . Lantas, mengapa negara itu rela mengeluarkan anggaran fantastik seperti itu? Alasan utamanya, demi perlombaan keunggulan iptek dengan rival perang dinginnya, Uni Soviet.


Uni Soviet dianggap sudah memimpin meninggalkan AS, karena menjadi negara pertama yang meluncurkan satelit Sputnik. Uni Soviet mengirimkan kosmonaut (atau astronaut) Yuri Gagarin. Dan pertama mengirimkan wahana tanpa awak Luna 2 mendarat di bulan.

Sehingga pada 1961 Presiden Kennedy mencanangkan misi pendaratan manusia ke bulan pada akhir dekade. Keunggulan iptek keantariksaan adalah kebanggaan bangsa. Dan pada Juli 2019 adalah peringatan 50 tahun pendaratan manusia pertama.

Publik kembali antusias dengan misi kembali ke bulan. Teori konspirasi yang tidak mempercayai pendaratan manusia ke bulan dianggap sekadar dongeng tak berdasar. Semua teori konspirasi mudah dipatahkan dengan penjelasan ilmiah sederhana.

Hal utama, tidak mungkin sekian banyak ilmuwan dunia mau dibohongi dengan rekayasa film di studio. Lagi pula, Uni Soviet sebagai rival perang dingin AS pasti menjadi pihak pertama yang membongkarnya kalau pendaratan manusia di bulan hanya akal-akalan.

Menjelang akhir jabatannya, Trump memberi Direktif Presiden yang memerintahkan pendaratan manusia ke bulan dipercepat. Semula, NASA menargetkan pendaratan astronaut ke bulan pada 2028. Namun Presiden Trump memerintahkan dipercepat menjadi 2024.

Apollo 11. (Foto: REUTERS/NASA/Handout)

Suasananya bukan lagi perlombaan ala perang dingin, tetapi kolaborasi. NASA tidak bekerja sendiri. Beberapa badan antariksa internasional turut terlibat. Perusahaan swasta keantariksaan AS turut dilibatkan. Tujuannya, menguji teknologi eksplorasi antariksa yang lebih efisien sebagai persiapan misi berawak ke planet Mars. Tantangan lainnya, mendaratkan astronaut perempuan pertama di bulan.

Misi kembali ke bulan dinamakan Ertemis. Ertemis adalah dewi saudara kembar Apollo dalam mitologi Yunani. Misi ke bulan sesungguhnya sudah mulai dirancang beberapa tahun sebelumnya. Namun kini Ertemis lebih terfokus dengan target pendaratan pada 2024.

Misi Ertemis 1 ditargetkan mengorbit bulan tanpa awak tahun depan, 2020. Ertemis 2 dengan misi berawak mengorbit bulan ditargetkan pada 2023. Lalu misi berawak mendarat di bulan pada 2024.


Wahana berawak Orion disiapkan untuk membawa empat astronaut. Sementara itu misi kembali ke bulan juga menyiapkan laboratorium antariksa yang mengorbit bulan, Gateway. Gateway ditargetkan juga menjadi persinggahan menuju Mars, selain sebagai laboratorium riset antariksa di luar orbit Bumi.

Misi ke bulan pasca misi Apollo memang cukup langka. Belum ada lagi misi berawak ke bulan setelah 1972. Misi ke bulan sebenarnya merupakan misi eksplorasi antariksa yang menarik bagi bangsa-bangsa setelah berhasil menaklukkan misi mengorbit bumi. Setelah Uni Soviet dan AS, kini disusul misi ke bulan oleh negara-negara Eropa, China, India, dan Jepang.

Umumnya negara pemula memulainya dengan misi robotik. China, berhasil mendaratkan wahana Change di belahan bulan yang tidak pernah teramati dari bumi. India berhasil mengirimkan wahana Chandranayaan ke bulan dengan biaya yang paling hemat.

Bagaimana Indonesia? Akankah terlibat dalam misi ke bulan?

Sebagai badan antariksa, LAPAN selalu diundang dalam pertemuan internasional membahas eksplorasi antariksa ke luar orbit bumi. Bukan hanya ke bulan, tetapi juga ke asteroid, Mars, dan planet-planet lainnya.

Untuk efisiensi sumber daya, kerjasama internasional sangat diharapkan. Sebagai negara yang mulai berkembang kemampuan iptek antariksanya (space emerging country), Indonesia selalu diundang dalam berbagai forum keantariksaan internasional, termasuk dalam pembahasan eksplorasi antariksa.

Namun, LAPAN sebagai wakil Indonesia menyatakan akan fokus dulu mengembangkan kemampuan pengembangan satelit pengorbit bumi dan wahana peluncurnya.

Selain itu, juga tetap menjalin kerjasama dalam aspek yang mungkin bisa diikuti antara lain, analisis data sains antariksa hasil eksplorasi dan pengembangan teknologi robotik pendukung misi eksplorasi ke angkasa. (asa/asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS