Analisis

Kisruh Aplikasi Umroh dalam Pusaran Arus Ziarah Digital

jnp, CNN Indonesia | Rabu, 24/07/2019 16:31 WIB
Kisruh Aplikasi Umroh dalam Pusaran Arus Ziarah Digital Ilustrasi (REUTERS/Suhaib Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) negara Indonesia dan Arab Saudi bekerja sama untuk memperkuat ekonomi digital. Arab Saudi juga terus-terusan untuk mengembangkan sektor industri non-minyak sebagai visi utama pada 2030.

Kerja sama ini juga membahas kolaborasi digital, salah satunya adalah pengembangan Umrah Digital Enterprise. Kolaborasi ini melibatkan dua unicorn asal Indonesia, Tokopedia, Traveloka dan perusahaan teknologi asal Arab Saudi, Wadi Makkah. Hasil kolaborasi ini adalah aplikasi platform umrah digital.

Menkominfo Rudiantara menegaskan aplikasi ini tidak akan berperan sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Saat pertama kali kolaborasi diumumkan, muncul isu liar yang menyebabkan keresahan bahwa aplikasi akan menggantikan PPIU.


Padahal penyelenggaraan perjalanan umrah sudah diatur dalam Pasal 86 ayat 2 UU No 8 Tahun 2019 bahwa perjalanan umrah diselenggarakan PPIU.

Rudiantara mengatakan keberadaan aplikasi semakin memudahkan jemaah untuk perjalanan umrah termasuk pengurusan akomodasi, pemilihan fasilitas hingga pengurusan visa.

"Integrasi sistem mulai dari keuangan, perjalanan, hingga pengiriman barang akan menciptakan transparansi tata kelola umrah yang menguntungkan jemaah Indonesia sekaligus mendorong terciptanya kompetisi yang sehat antar biro travel umrah dalam menyediakan layanan yang maksimal bagi jemaah," ujar Rudiantara.

Kisruh Aplikasi Umroh dalam Pusaran Arus Ziarah DigitalPerjalanan umrah selama ini ditangani oleh agen perjalanan. Mereka khawatir kerjasama Kominfo dengan Traveloka dan Tokopedia terkait penyelenggaraan aplikasi umrah bakal mengganggu bisnis mereka. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Bagi Rudiantara, umrah digital ini bisa menjadi pilihan alternatif biro travel yang memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan. Masyarakat tidak perlu ragu melakukan perjalanan umrah karena pengelolaannya transparan dan bisa dipantau secara online.

"Selama ini tantangan pengelolaan umrah dengan minat jemaah yang besar adalah masih adanya biro travel yang tidak bertanggung jawab dan melakukan penipuan," kata Rudiantara.

Dari segi bisnis, Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menganggap aplikasi bisa mengakselerasi bisnis PPIU dan seluruh pemain di ekosistem penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah.

"Saya rasa yang dilakukan para aplikator ini sangat baik untuk katalis bisnis umroh. Karena mereka berfungsi menyiapkan platform," kata Fithra.

Aplikasi yang akan menyediakan aspek teknologi dalam ekosistem penyelenggaraan perjalanan umrah disebut akan membuat proses bisnis lebih efisien dan lebih mudah. Belum lagi aplikasi dipastikan akan memberikan transparansi tata kelola umrah, termasuk dari kepastian harga.

"Terlebih lagi, mereka sudah memiliki basis user yang cukup besar. Dalam hal ini saya melihat proses bisnis akan menjadi lebih mudah dan efektif. Kepuasan konsumen juga akan meningkat," ujar Fithra.

"Di sisi yang lain, seharusnya para penyelenggara umrah existing bisa sangat terbantu, karena mereka akan masuk dalam ekosistem digital dengan basis pengguna yang luas," lanjutnya.

Kisruh Aplikasi Umroh dalam Pusaran Arus Ziarah DigitalKemenkominfo berdalih tawaran untuk membuat aplikasi ini dilakukan untuk memanfaatkan momen ketika Arab Saudi tengah gencar melakukan digitalisasi. (REUTERS/Zohra Bensemra)
Fithra menjelaskan teknologi sudah memberikan keuntungan di berbagai industri lain, contohnya industri makanan, minuman, dan pariwisata. Ketika teknologi hadir berupa platform aplikasi, omzet para pelaku bisnis meningkat.

"Membicarakan Usaha mikro kecil menengah itu terbantu dengan pembayaran online yang memudahkan sehingga omset mereka meningkat secara signfikan," ujarnya.

Dalam umrah digital, Fithra mengatakan PPIU selayaknya pelapak di e-commerce dan pedagang di layanan pembayaran digital. Platform umrah digital membutuhkan PPIU agar bisa menjalankan bisnis umrah digital.

"Pada pada dasarnya mereka platform, mereka tidak bisa bisnis sendiri, mereka butuh orang lain untuk masuk ke sistem mereka," kata Fithra.

Fithra menjelaskan dengan adanya platform umrah digital, PPIU bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Peningkatan jangkauan ini beriringan pula dengan peningkatan omzet.

Pasalnya, Tokopedia dan Traveloka menurut Fithra telah memiliki basis pengguna yang sangat besar. Apabila PPIU bergabung dengan platform, Fithra mengatakan PPIU bisa memanfaatkan basis pengguna yang besar tersebut.

"Ketika PPIU dikumpulkan dalam platform maka jaringan akan semakin besar. Bisnis juga semakin terkerek karena basis pengguna yang besar. Sehingga PPIU bisa menghadapi pasar yang lebih besar," kata Fithra.

Kisruh Aplikasi Umroh dalam Pusaran Arus Ziarah DigitalMenkominfo Rudiantara menyebut saat ini Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total jemaah umrah di Arab Saudi. (AFP PHOTO / KARIM SAHIB)
Fithra tidak memungkiri bahwa PPIU memang telah memiliki jaringan dan basis pengguna sendiri. Akan tetapi, Fithra mengingatkan kolaborasi tentu akan semakin memperluas jaringan basi pengguna dan membuat bisnis lebih efisien.

"Kita harus lihat filosofi secara umum, ketika pemain semakin banyak dan semakin melengkapi itu semakin efisien bisnisnya. Bisa kita lihat di Gojek dan Grab memang di satu sisi mereka bersaing tapi di sisi lain mereka ciptakan basis pengguna besar sehingga pasar bisa kenali ekosistem baru ini," kata Fithra.

Di era digital ini, Fithra menekankan kolaborasi perlu dilakukan untuk mendukung ekosistem bisnis. Pemerintah mau tak mau melakukan kolaborasi dengan Tokopedia dan Traveloka karena memiliki keterbatasan di sisi teknologi.

"Di era digital, ideologinya adalah ideologi kolabroasi bukan kompetisi. Apalagi pemerintah punya keterbatasan dan bisa dikompensasi oleh Tokopedia dan Traveloka," tutur Fithra.
Aplikasi Aisyah

Sesungguhnya, Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) telah mengembangkan aplikasi sejenis yang dinamakan Amphuri Information System Syariah (Aisyah).
Aisyah memiliki kemampuan sebagai agregator dari agency network, supplier network dan supporting network. Kehadiran Aisyah dalam hal ini sebagai connecting antar penyelenggara haji khusus, umrah dan wisata muslim (travel agent) dalam melakukan kerjasama.
Timbul pertanyaan kenapa bukan Aisyah yang 'dibawa' Kemenkominfo ke Arab Saudi untuk bekerja sama mengembangkan umrah digital. Bagi Fithra, Aisyah tak cukup menjual dibandingkan kedua unicorn Tokopedia dan Traveloka.
Selain merupakan perusahaan berbasis teknologi terkenal. kedua perusahaan juga telah memiliki basis pengguna yang banyak.
"Aisyah ini user base nya masih kurang luas. Jadi pengguna juga bisa semakin familiar dan percaya terhadap aplikasi yang dikembangkan," kata Fithra.
Rudiantara pernah mengatakan Tokopedia memiliki nilai jual tersendiri bagi Arab Saudi agar mau bekerja sama dengan Indonesia. Pasalnya Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salam (MbS) melalui Softbank Vision Fund berinvestasi di Tokopedia.
"Di dunia ada US$ 100 miliar yang dikelola oleh Softbank Vision Fund Jepang. US$ 45 miliar itu uangnya MbS dan Softbank investasi ke MbS.Jadi kalau saya bawa Tokopedia ke Arab Saudi, 'mereka bilang ah ini punyanya bos gue, jadi lebih mudah gitu' (untuk kerja sama)," kata Rudiantara.
Menurut data yang dirilis oleh iPrice, pada kuartal pertama 2019 Tokopedia memiliki pengguna aktif bulanan terbesar, jumlah pengguna aktif bulanan Tokopedia mencapai 137 juta pengguna. Traveloka sendiri menargetkan 60 juta pengunduh pada 2018.
Bagi Fithra, justru nantinya Aisyah juga akan turut terlibat dalam ekosistem umrah digital. Ia menekankan ekosistem memerlukan banyak pemain untuk mendukung ekosistem digital.
"Toh yang g namanya ekosistem, the more the merrier. Ekosistem itu butuh pemain yang banyak dan juga kolaborasi antar pemain dengan pemerintah untuk mencapai skala ekonomis dan efisiensi. Apalagi Traveloka dan Tokopedia sudah exist terlebih dahulu di pasar," kata Fithra.

Aplikasi untuk bisnis

Kepada CNNIndonesia.com, Ketua DPP AMPHURI Joko Asmoro mengatakan Aisyah mampu meningkatkan branding produk-produk yang ditawarkan agen travel atau PPIU.
Joko menjelaskan Aisyah merupakan marketplace inventory B2B (Business to Business) bagi para mitra kerja penyedia layanan, mulai dari transportasi, Land Arrangement, hotel, katering dan dan sebagainya yang ada di Indonesia maupun di Saudi Arabia.

Aisyah juga akan hadir sebagai marketplace bagi para pembeli yang tengah mencari paket-paket seri, maupun paket sesuai permintaan. Dengan kata lain, Aisyah akan menjalankan konsep Business to Costumer (B2C) dengan pasar yang ada di IndonesiaMenurutnya, pengembangan umrah digital nantinya bersifat opsional Masyarakat yang akan berangkat umrah bisa memiliki dua pilihan.
Pertama, mendaftar di PPIU secara langsung sebagaimana yang berjalan selama ini. Kedua, memilih paket PPIU di marketplace dengan keberangkatan yang dikelola oleh PPIU.

Joko mengatakan fungsi akan menyerupai Global Distribution System (GDS) dan integrator ke platform instansi pemerintah dan non pemerintah yang tergabung dalam ekosistem perjalanan umrah.
"Artinya, Aisyah saat ini telah beroperasi bahkan siap bekerjasama dengan para unicorn-unicorn lainnya," Joko

Aisyah pertama kali diperkenalkan AMPHURI di kota Thaif, Arab Saudi pada 12 Juni 2019. Aisyah diresmikan oleh Konsulat Jenderal RI Jeddah, Mohammed Herry Saripudin.
Peresmian dilakukan lebih dari 100 pengusaha Saudi yang bergerak di bidang pelayanan umrah dan haji, serta dihadiri pula oleh lebih dari 900 jemaah umrah yang sedang berwisata ziarah di Jeddah.
Model Bisnis Konvensional

Pengamat Teknologi Informatika dari ICT Institute, Heru Sutadi menjelaskan saat ini model bisnis perjalanan umrah di Arab Saudi memang masih konvensional.
Oleh karena itu, Heru mengatakan ragu ketika Menkominfo Rudiantara mengajak Tokopedia dan Traveloka untuk mengembangkan ekosistem umrah digital.
" Model bisnis di Arab Saudi masih belum mengikuti perkembangan teknologi berbasis digital. Sehingga, saat Menkominfo membawa Traveloka dan Tokopedia, saya agak ragu. Apakah pak menteri tahu model bisnis umrah selama ini bagaimana dan kondisi," ujar Heru.
Heru mengatakan banyak mata rantai ekosistem umrah di Arab Saudi masih tradisional. Oleh karena itu, ada pendekatan yang bisa dilakukan di Indonesia tapi tidak bisa dilakukan di Arab Saudi.
"Proses bisnis yang selama ini terjadi antara pengusaha Indonesia dan pengusaha atau pebisnis di sana kebanyakan tidak berbasis digital dan banyak yang masih tradisional. Nah ini tantangannya," kata Heru.
"Saya pernah jadi TKI di Arab Saudi jadi tahu persis bahwa banyak mata rantai bisnis umrah dijalankan secara manual dan bukan digital. Sehingga, model bisnis di sana ini yang harus diperhatikan dan disesuaikan dalam memberikan layanan umrah," lanjutnya


[Gambas:Video CNN] (eks/eks)