Analisis

Menerka Pecah Gelembung Startup Berikutnya

CNN, CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 14:32 WIB
Menerka Pecah Gelembung Startup Berikutnya Ilustrasi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa pengamat memperkirakan akan terjadi gelembung internet kedua. Beberapa tanda yang menjadi dasar dari asumsi mereka adalah jumlah perusahaan startup yang melakukan penjualan saham perdana (IPO) sebelum untung dan pemberian valuasi berlebih pada perusahaan unicorn.

Pada 2018, riset di Amerika Serikat melaporkan 50 persen unicorn di Amerika Serikat mendapat penilaian valuasi yang terlalu tinggi dari nilai sebenarnya. Hal ini terungkap dari data Biro Penelitian Ekonomi Nasional AS.

Sebanyak 65 dari total 135 unicorn yang diteliti menurut mereka seharusnya mendapat valuasi kurang dari US$1 miliar, seperti ditulis Keith Wright, pengajar akuntansi dan layanan informasi di Villanova School of Business Amerika Serikat. Dilansir dari CNBC, riset dari Universitas St. Gallen dan Universitas Villanova memprediksi rata-rata valuasi unicorn ini 49 persen diatas nilai sebenarnya.

Overvaluation


Di Indonesia, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi kecenderungan penilaian valuasi berlebih bisa terjadi. Hal ini menurutnya berdasarkan pengamatannya di lapangan. Sebab, hingga saat ini belum ada penelitian khusus mengenai valuasi startup.

Kelebihan penilaian valuasi ini menurutnya mungkin terjadi akibat perhitungan valuasi startup teknologi yang berbeda dari perusahaan tradisional.

"Startup cenderung mengejar traction [daya tarik bagi pengguna] [...] sehingga ada kecenderungan untuk menggelembungkan valuasi. Dengan demikian mengundang venture capital (pemodal ventura) untuk berinvestasi," jelasnya dalam wawancara per telepon, Selasa (8/10).

Faktor lain yang menyebabkan kelebihan valuasi menurut Fithra karena penghitungan valuasi startup yang cukup abstrak.

"Karena bicara potensi user (pengguna) dan pasar sangat subjektif. Dengan keterbatasan informasi, dimungkinkan valuasinya jadi lebih tinggi dari nilai valuasinya," jelasnya.

Dilansir dari CNBC, overvaluation ini bisa terjadi karena proses perhitungan yang dilakukan. Menurut Wright, saat ini nilai valuasi unicorn ditaksir dengan asumsi total valuasi unicorn sama dengan nilai saham yang baru dilepas ke investor. Perhitungan ini menurutnya terlalu disederhanakan. Padahal saham yang dibeli investor hampir selalu menyertakan fasilitas yang tidak ditemukan dari saham yang dikeluarkan startup.

"Valuasi startup yang mencapai miliaran dolar bukan indikator keamanan (investasi)," tulisnya. "Hal itu merepresentasikan bahaya besar dari nilai valuasi yang berlebihan (overvaluation)," jelasnya. "Kita tengah berada pada internet bubble yang lebih besar dari Maret 2000," tambah Wright.

"Hanya masalah waktu sebelum gelembung aplikasi (internet) pecah," tulis John Colley Profesor di Warwick Business School, University of Warwick, Inggris, dalam tulisannya di The Conversation.
Menerka Pecah Gelembung Startup BerikutnyaIlustrasi (Istockphoto/SARINYAPINNGAM)

Soal IPO startup

Wright percaya strategi para pemodal ventura untuk membesarkan startup secara instan akan gagal. Sebab perusahaan yang membakar uang lebih dari apa yang mereka hasilkan tidak bisa mengembalikan uang itu dengan baik.

Selain itu, dari penelitian Jay R. Ritter, Profesor Keuangan dari Universitas Florida menunjukkan hanya 3 dari 15 unicorn yang melakukan IPO yang sudah mendapat keuntungan.

Selain itu, Colley juga menyoroti tingginya devaluasi ketika perusahaan teknologi ini dilepas ke pasar. Sebagai contoh, di Jerman perusahaan pembanding hotel Trivago mengalami penurunan nilai 29 persen setelah penjualan saham perdana.

Di AS perusahaan penyedia wearable Fitbit mencatat saham senilai US$45 pada 2015, kini sahamnya hanya US$5. Snap, perusahaan induk Snapchat, melego saham perdana pada US$17. Sahamnya naik 44 persen saat IPO dan kini jatuh hanya senilai US$11.

Uber menjadi salah satu perusahaan teknologi dengan nilai tertinggi. Saat ini perusahaan itu mendapat valuasi US$120 miliar. Namun, meski sudah IPO Uber masih menderita kerugian. Pada 2018 pendapatan Uber US$11,3 miliar, tapi perusahaan itu masih rugi US$4 milar. Sebelum IPO, investasi US$22 miliar telah disuntikkan ke perusahaan itu.

Meski demikian, tidak ada yang memberikan kepastian kapan gelembung perusahaan internet ini akan pecah berikutnya. Pada Maret lalu, pengamat menyebut sempat terjadi pola saham perusahaan teknologi di pasar ada kemiripan ketika pecah gelembung internet pada 2000. 

"Meski magnitudonya kurang dramatis, karakter rasio PP di pasar ini serupa dengan apa yang terjadi pada (akhir) 90-an," jelas Jim Paulsen, Chief Investment Strategist at the Leuthold Group, mengutip CNBC

[Gambas:Video CNN] (eks)