Twitter Tangguhkan Akun Jerinx Usai Cuitan Penusukan Wiranto

CNN, CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 18:44 WIB
Twitter Tangguhkan Akun Jerinx Usai Cuitan Penusukan Wiranto Ilustrasi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Twitter menangguhkan akun musisi I Gede Ari Astina atau Jerinx. Jerinx merupakan drummer Superman Is Dead (SID). Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, akun @JRX_SID di media sosial itu tak lagi bisa diakses.

Sebelumnya, akun @JRX_SID mencuitkan komentar soal kasus penusukan Wiranto. Dalam cuitannya ia menyebut, "kalau niatnya emang membunuh kenapa pisaunya kecil ya?"




Di akun musisi itu tertulis "account suspended" atau akun ditangguhkan. Di bawah tulisan penangguhan itu disebutkan kalau penangguhan ini dilakukan karena pemilih telah melanggar peraturan komunitas Twitter. Menanggapi penangguhan ini, Twitter buka suara.
Twitter Tangguhkan Akun Jerinx Usai Cuitan Penusukan WirantoAkun musisi Jerinx ditangguhkan (Screenshot via Twitter)

"Sebuah akun dapat dibatasi kegiatannya jika terbukti melanggar Peraturan Twitter," tulis perwakilan Twitter saat dihubungi via pesan teks, Jumat (11/10).

Aturan yang tersebut bisa diakses lewat tautan ini. Namun, Twitter tak berkomentar lebih lanjut mengenai detil kasus ini.

"Sehubungan dengan keamanan dan privasi pengguna, kami tidak dapat berkomentar tentang akun seseorang," lanjutnya.

Twitter juga menjelaskan bahwa akun juga dapat dibatasi kegiatannya atau dikunci jika terdeteksi ada perilaku yang tidak biasa pada akun tersebut.

Sementara akun Hanum Rais yang ikut dipolisikan terpantau tidak terkena penangguhan dari Twitter.



Politikus PAN Hanum Rais, musisi Jerinx yang merupakan drummer Superman Is Dead (SID), serta Jonru Ginting dilaporkan ke Polda Metro Jaya lantaran membuat unggahan di media sosial terkait insiden penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto.

Akun-akun tersebut diduga menyebarkan ujaran kebencian dan berita bohong terkait peristiwa penusukan terhadap Menko Polhukam Bapak Wiranto di Menes, Pandeglang, Kamis 10 Oktober 2019.

Laporan itu dibuat oleh seseorang bernama Jalaludin. Selain ketiganya, Jalaludin juga melaporkan dua orang lainnya yakni Bhagavad Samabhada dan Gilang Kazuya (eks)