Skandal Data Pengguna oleh Facebook Kembali Terungkap

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 07/11/2019 12:21 WIB
Skandal Data Pengguna oleh Facebook Kembali Terungkap Ilustrasi (CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook kembali dianggap menyalahgunakan data pengguna. Kali ini perusahaan itu dituduh menggunakan data pengguna sebagai kekuatan tawar menawar mereka terhadap para pengiklan. Tapi di sisi lain, Facebook mengumumkan kepada publik kalau mereka bakal melindungi data pengguna.

Hal ini terungkap dalam dokumen 4 ribu halaman yang berisi percakapan sepanjang 2011-2015. Isi dokumen ini berisi email, perbincangan di web, presentasi, rangkuman rapat, dan sebagainya.

Dokumen ini menunjukkan bagaimana Zuckerberg dan timnya menemukan ara untuk memanfaatkan data pengguna Facebook. Data pengguna yang dipergunakan adalah infromasi tentang teman, status hubungan, dan foto.


Dalam beberapa kasus, Facebook sengaja memberikan data ini bagi perusahaan yang disukai. Tapi di kasus lain, ia akan memberikan data ini bagi perusahaan lawan atau aplikasi.

Sebagai contoh, Facebook memberikan Amazon akses data pengguna yang besar. Sebab, Amazon telah menyumbang uang iklan yang besar lewat iklan Facebook. Amazon juga melakukan rekanan dengan Facebook saat peluncuran smartphone Fire miliknya.

Selain Amazon, Hootsuit, Tinder, Venmo, Nissan. termasuk dalam daftar perusahaan yang diperbolehkan mengakses data.

Tapi dalam dokumen tersebut disebutkan kalau Facebook memblokir akses data penguna untuk perusahaan yang mereka anggap sebagai rival, misal Twitter, Youtube, Snapchat, dan layanan pesan instan lain.

"Facebook menjaga kompetitor yang ada dalam daftar hitam yang dianggap Zuckerberg secara pribadi [...] daftar hitam ini tak bisa diubah tanpa izin dari Mark," tulis dokumen tersebut seperti dilansir Digital Trends.

Lalu Facebook mengumumkan strategi ini sebagai langkah untuk melindungi privasi pengguna kepada publik. Hal ini seperti diungkap Zuckerberg dalam wawancara New York Times pada 2014. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu pengguna lebih nyaman,."

Tapi dibalik pernyataan manis di depan publik ini, ternyata Facebook memainkan data pengguna miliknya di belakang. Facebook memberikan sejumlah persyaratan jika rekanannya ingin mendapat data pengguna. Mulai dari pembayaran langsung, memperhitungkan berapa besar biaya iklan, dan perjanjian berbagi data.

Memang bukan perkara aneh jika perusahaan yang bekerjasama saling berbagi data pengguna. Namun, berdasarkan data dokumen tersebut, Facebook melakukan berbagi data bagi pengembang aplikasi yang dianggap sebagai teman pribadi Zuckerberg.

Facebook juga berbagi data bagi perusahaan yang banyak beriklan di perusahaannya. Meski hal ini dibantah Facebook, seperti dilaporkan NBC News. Saat ini Facebook tengah dalam penyelidikan oleh Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commission). (eks)