Kisah Mitra Driver Tamatkan Kuliah karena Nyambi Nge-Grab

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 17:09 WIB
Di tengah kesibukannya menjadi pengemudi GrabBike, Dikki berhasil menuntaskan studinya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati dengan nilai memuaskan. Ilustrasi Grab Indonesia. (Dok. Grab)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak semua orang bisa menjalani kuliah sambil bekerja di waktu bersamaan. Namun, salah seorang mitra GrabBike di Bandung berhasil membuktikan bahwa ia sukses melakukan keduanya.

Di tengah kesibukannya menjadi pengemudi GrabBike, Dikki berhasil menuntaskan studinya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati dengan nilai memuaskan.

Terlahir sebagai anak pertama dan menjadi yatim sejak kelas 1 SMP menempa mentalnya untuk menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab. Ia bercerita 4 tahun lalu berjanji kepada ibunya untuk bisa kuliah dan menanggung seluruh biaya pendidikannya sendiri. Untuk menuntaskan janjinya itu, ia bergabung menjadi mitra Grab pada 2018.


Dari pekerjaannya itu, ia juga bisa membantu perekonomian keluarga sehingga meringankan beban sang ibu yang bekerja di bidang konveksi.

Meski menjadi mitra pengemudi GrabBike, Dikki mengaku tidak pernah bolos kuliah. Ia selalu masuk kelas. Ia mengatur waktunya agar tak bentrok. Bekerja sebagai mitra pengemudi GrabBike selalu dilakukan di luar jam kuliah.

"Fokusnya memang terbagi karena ada berbagai aktivitas, tapi saya tetap masuk kuliah, tetap mengerjakan tugas, tetap presentasi juga," ujar Dikki dikutip dari website resmi Grab, Senin (18/11/2019).

Selain itu, menjadi mitra pengemudi GrabBike membawa Dikki ke berbagai sisi kehidupan dan pengalaman. Berangkat Subuh dan pulang larut malam tak jarang ia lakukan. Meski menguras waktu dan tenaga, ia ikhlas menjalaninya.

"Ketika kita ikhlas menjalaninya, semuanya menjadi menyenangkan, semuanya terasa ringan," ungkapnya.

Tak jarang, sebagai mahasiswa, ia mendapat orderan dari sesama mahasiswa dan dosennya. Namun, Dikki cuek saja. "Ah, saya nggak gengsi. Dari kecil juga diajari, mun gengsi na gede, rezekina moal gede. (Jika banyak gengsi, rezekinya tak akan banyak, red)," ujarnya.

"Jadi, saya nggak malu, apalagi saya tidak melakukan pekerjaan yang salah."

Pengorbanan yang dilakukan Dikki untuk meraih cita ternyata didukung teman-temannya. Tak jarang, teman-teman sesama mahasiswa memuji perjuangan Dikki yang mandiri sebagai mitra pengemudi Grab.

Selain memenuhi biaya kuliah, hasil kerja kerasnya pun bisa ia gunakan untuk banyak hal, terutama untuk meringankan beban orang tua dan menyiapkan masa depannya. Bulan depan, tepatnya Desember 2019 ia pun bisa menepati janji kepada sang ibunda karena Dikki akan diwisuda.

"Hasilnya lumayan. Saya bisa nyicil motor, bisa bayar kuliah sendiri, kemudian sudah bisa beli jajan dan ongkos adik sekolah, buat biaya orang tua juga, udah bisa juga renovasi rumah, terus ditabung buat nikah," pungkas pemuda berusia 22 tahun itu. (fef)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK