4 Sebab Curah Hujan Ekstrem Hingga Banjir di Jabodetabek

CNN Indonesia | Jumat, 03/01/2020 05:39 WIB
4 Sebab Curah Hujan Ekstrem Hingga Banjir di Jabodetabek Ilustrasi banjir. (Istockphoto/FeelPic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut ada empat faktor yang memicu curah hujan tinggi di wilayah Jabodetabek sejak Rabu (1/1) kemarin hingga menyebabkan banjir di beberapa tempat.

Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra mengatakan faktor pertama ialah aktifnya Monsun Asia yang menyebabkan peningkatan massa udara basah.

"Curah hujan yang tinggi di wilayah Jabodetabek dipicu oleh beberapa faktor kondisi atmosfer dalam skala regional hingga lokal seperti aktifnya Monsun Asia yang menyebabkan peningkatan massa udara basah di wilayah Indonesia dan ditandai dengan adanya fenomena coldsurge [seruak dingin]," kata Agie saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (2/1).


Monsun Asia atau juga disebut Angin Monsun Barat adalah angin yang bertiup sekitar bulan Oktober-April. Angin ini bertiup saat matahari berada di belahan Bumi bagian selatan.


Faktor kedua kata Agie ialah terbentuknya pola pertemuan dan perlambatan angin yang cukup signifikan dan memanjang di sekitar wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara. Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan hujan yang signifikan di wilayah yang dilewati angin.

Faktor lain karena suhu muka laut di wilayah Indonesia saat ini menurut pantauan BMKG cukup hangat, sehingga dapat meningkatkan asupan air di atmosfer.

"Faktor keempat, adanya fenomena gelombang atmosfer [Equatorial Rossby dan Kelvin Wave] yang cukup signifikan terutama di wilayah Jawa sehingga menyebabkan tingkat konvektifitas tinggi," tutur Agie.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, BMKG mencatat beberapa wilayah di Jabodetabek yang masuk kategori curah hujan ekstrem yakni di atas 150 milimeter (mm) per hari pada Rabu (1/1) seperti:

1. Halim Perdana Kusuma: 377 mm/hari
2. Taman Mini: 335,2 mm/hari
3. Pintu Air Pulo Gadung: 260 mm/hari
4. Citayam: 243 mm/hari
5. Sunter Hulu: 236 mm/hari
6. Tomang: 225,6 mm/hari
7. Kedoya: 211,6 mm/hari
8. Tangerang Selatan: 200 mm/hari
9. Waduk Melati: 191 mm/hari
10. Manggarai: 189 mm/hari
11. Ciputat: 184,9 mm/hari
12. Lebak Bulus: 176 mm/hari
13. Rorotan: 172 mm/hari
14. Pasar Minggu: 155 mm/hari
15. Ragunan: 155 mm/hari
16. Lemah Abang: 151 mm/hari

Jakarta Selatan dan Jakarta Timur Berpotensi Hujan Petir 

Prakiraan cuaca BMKG hari ini (2/1), khusus wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur berpotensi hujan petir pada siang jelang sore hari.

"Waspada potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan pada siang dan sore hari," demikian peringatan dini dari petugas prakiraan cuaca (forecaster) BMKG.

Untuk siang hari, wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur diperkirakan hujan disertai petir pada siang jelang sore hari. Wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Pusat diperkirakan hujan lokal. Sementara wilayah Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu diperkirakan berawan.

Pada malam hari seluruh wilayah DKI Jakarta diperkirakan berawan, kecuali Kepulauan Seribu diperkirakan hujan lokal. Rata-rata suhu udara diperkirakan antara 23 hingga 32 derajat celcius dengan kelembaban udara antara 75 hingga 100 persen.


Dampak Banjir Meluas di Ibu Kota

Sebelumnya, beberapa pengamat perkotaan angkat suara soal banyaknya wilayah dan rumah, khususnya di Ibu Kota yang awal tahun ini terkena banjir. Padahal di masa-masa banjir sebelumnya, rumah hunian warga tersebut aman dan tak ada aliran air yang masuk.

Pakar Tata Kota Yayat Supriyanta mengusulkan audit tata ruang, drainase dan kawasan-kawasan yang secara fisik tidak layak untuk ditambah permukiman di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi.

Menurut Yayat ada banyak faktor yang saling terkait, dan tak ada faktor dominan penyebab banjir. Salah satu yang ia sebut perlu diperhatikan adalah sistem drainase yang sudah usang tapi masih digunakan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem belakangan.

Fakta curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan yang kian parah membuat dampak semakin meluas. Yayat kepada CNNIndonesia.com menegaskan pejabat publik harus peka dan paham terhadap substansi masalah serta langkah konkret guna mengatasi banjir.

Sementara itu, Agus Pambagio menyatakan berulangnya bencana serupa dan ketersediaan data karena tak diiringi kebijakan publik yang kian matang dan terukur. Agus mengatakan deretan langkah penanggulangan banjir itu sedianya tertulis di pelbagai program pemerintah, namun pelaksanaannya jarang terbukti di lapangan.

"Drainase, normalisasi sungai, semua tadi di samping masyarakat dipaksa untuk membikin sumur resapan, kebijakan-kebijakan itu sudah disebutkan, tapi tidak dilaksanakan," kata Agus kepada CNNIndonesia.com.

(din/DAL)