Analisis

Menakar Auto Like Fanpage Facebook Anies Demi Popularitas

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 13:41 WIB
Menakar Auto Like Fanpage Facebook Anies Demi Popularitas Ilustrasi bisnis like dan follower Facebook. (Foto: AP Photo/Richard Drew)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fanpage Facebook Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi sorotan setelah sejumlah pemilik akun mengaku merasa tidak memberi tanda 'like' (suka) pada fanpage Anies Baswedan.

Unsur 'pemaksaan' menyukai fanpage pun menyeruak dengan tudingan menggunakan aplikasi khusus dikendalikan oknum yang tidak disadari oleh pemilik akun Facebook.

Untuk diketahui like dan follower di media sosial merupakan salah satu tolak ukur suksesnya konten di media sosial. Akan tetapi, tolak ukur ini menjadi tak relevan ketika menjamurnya penjual like dan follower.


Penyedia jasa ini tidak hanya menyediakan jasa likes dan follower di satu media sosial, tapi ke pelbagai platform media sosial, seperti Twitter, Instagram, Facebook, hingga YouTube.

Instagram rupanya sudah lebih 'pintar' menanggapi pemilik akun yang sekadar mengejar love. Platform media sosial milik Facebook ini sudah menguji coba menghilangkan jumlah love (tanda suka) pada foto dan video yang diunggah pengguna di Indonesia dan sejumlah negara lain.

Hal ini bertimpang balik dengan Facebook yang seakan masih membiarkan pengguna mengejar like pada postingan dan fanpage-nya. Alhasil, berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, penjualan like maupun follower masih marak ditemukan di Facebook.

Beberapa penyedia jasa secara terang-terangan menjual angka-angka like ini. Besaran harga yang ditawarkan beragam, tergantung jumlah likes yang diinginkan pembeli.

Penjual ada yang menawarkan 1.000 like untuk fanpage Facebook dengan harga Rp500 ribu dan 1.000 like per postingan dengan harga Rp400 ribu.

Ada pula penjual yang menawarkan fitur auto like postingan dengan harga Rp500ribu per 200 like dengan masa berlaku 1 bulan. Penjual yang sama juga menawarkan follower mulai dari 500 followers dengan harga Rp100 ribu hingga 10 ribu followers dengan harga Rp1 juta.

Seorang penjual jasa auto like yang namanya tidak ingin disebutkan mengaku memiliki ratusan pelanggan aktif. Bahkan Ia mengaku dalam sebulan bisa mendapatkan ribuan pesanan.

"Kami punya ratusan pelanggan aktif dan ribuan order kami kerjakan tiap bulan. Cukup sampai di situ saja saya tidak akan menjelaskan lebih detail lagi," ujar penjual tersebut kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/1).

Bahkan penjual tersebut berusaha meyakinkan bahwa dirinya benar-benar bisa memberikan auto like dan follower tambahan. Untuk meyakinkan hal tersebut, ia menawarkan tester gratis kepada CNNIndonesia.com.

"Kalau ragu bisa minta tester, free kok. Kirim saja link pagenya nanti diproses," katanya.

Pengamat TIK dari ICT Institute Heru Sutadi mengatakan fitur auto like dan follower ini digunakan secara luas, baik untuk keperluan politik, maupun untuk pemasaran hingga komersial.

Ia mengatakan berbagai media sosial tentu membutuhkan interaksi seperti komentar, like hingga follower untuk menempatkan akun dan konten berada di jajaran atas media sosial.

"Ya karena algoritmanya dengan respons like status kita ratingnya di atas terus," ucap Heru.

Seorang pengguna Instagram, Puspita mengatakan dirinya sempat membeli paket auto like untuk beberapa postinganya dan menambah jumlah follower di Instagram. Puspita mengatakan dirinya menambah follower hingga lima ribu pengguna.

"Semuanya permanen, kecuali follower, kekurangannya adalah sewaktu-waktu jumlah follower bisa turun, tapi bagusnya si pedagang bisa kapan saja minta tambah follower [kalau turun]," kata Puspita.

Puspita mengatakan banyak orang tertarik dengan fitur auto like dan follower karena harganya relatif murah dan dinilai berguna bagi para pembuat konten demi meningkatkan popularitas.

"Memang kita harus kasih tahu foto-foto mana yang mau ditambah like-nya agak riskan juga ya kalau foto kita disalahgunakan orang cuma ya gitu," ujar Puspita.

[Gambas:Video CNN]

Penipuan Like ala Agency Digital

Creative Director dari agency digital Mrene Dandy Cahyo menilai layanan auto like dan jasa follower yang digunakan agency digital untuk meningkatkan atensi sebuah produk adalah sebuah penipuan bagi klien.

"Kalau agensi beli auto like dan follower, pertumbuhan tidak asli, dia lakukan kampanye secara angka ada yang bertambah, tapi secara manusia tidak ada," ujar Dandy.

Dandy mengakui memang ada agensi marketing digital yang melakukan praktik penggunaan fitur auto like dan follower. Ia mengatakan praktik tersebut adalah sebuah pembohongan bagi klien.

"Artinya tidak menambahkan orang yang menambah popularitas brand dan membeli brand itu. Jadi itu tidak bagus, meski secara angka baik. tapi sama saja kamu dibohongi," ujar Dandy.

Dandy kemudian menjelaskan fungsi agency digital adalah membantu meningkatkan kesadaran produk secara nyata, bukan tipu-tipu. Artinya orang banyak mengenal produk dan merek dengan proses alami.

"Tak hanya itu, orang juga mencoba produk, orang itu juga beli dan loyal dan akhirnya melakukan pembelian terus menerus yang artinya bantu marketing digital," ujarnya.

Pakar keamanan siber dari Communication & Information System Security Research Center Pratama Persadha mengatakan pratik auto like menggunakan script ilegal yang harus diperbarui terus menerus. Sebab sistem pengamanan Facebook juga terus mendeteksi dan melakukan blok terhadap script ilegal itu.

"Namun Facebook sudah melakukan blok pada alat-alat ilegal tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan ada bug yang membuat tools baru dengan cara kerja serupa lolos dari pengamatan Facebook," kata Pratama.

Pengamat Keamanan Siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya mengatakan beberapa aplikasi auto like yang memalsukan diri sebagai aplikasi dari perusahaan besar. Oleh karena itu, Alfons meminta agar pengguna meneliti semua aplikasi yang terinstal di Facebook Apps.

"Jika ada yang mencurigakan atau tidak Anda inginkan, segera hapus," ujar Alfons.

Salah satu contoh aplikasi auto like adalah aplikasi yang memalsukan diri sebagai aplikasi dari Sony Experia. Alfons mengatakan pernah mendeteksi pesan-pesan yang menawarkan jasa auto like.

Kesamaan semua pesan tersebut adalah diunggah oleh aplikasi Facebook dengan nama 'Xperia Smartphone from Sony'.

"Uniknya, pesan spam yang dipostingkan tanpa sepengetahuan pemilik akun ini hanya dipostingkan melalui group-group Facebook dan posting dilakukan dengan terukur dan bukan spamming," ujar Alfons. (mik)