LIPI Respons Obat Malaria Pesanan Jokowi Untuk Lawan Corona

CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2020 18:40 WIB
LIPI Respons Obat Malaria Pesanan Jokowi Untuk Lawan Corona lustrasi virus corona. (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan obat hydeoxychloroquine untuk penyakit Malaria belum tentu bisa menyembuhkan orang yang terjangkit virus corona (SARS-CoV-2). 

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo mengaku sudah memesan jutaan obat yang disebut ampuh untuk melawan Virus Corona di beberapa negara. Ia merinci obat-obatan yang sudah didatangkan adalah Avigan dan Chloroquine sebanyak 3 juta.

Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian Kimia LIPI, Akhmad Darmawan mengatakan obat hydeoxychloroquine menargetkan parasit penyebab malaria, yakni Plasmodium yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina.


"Namun demikian efektivitas-nya untuk mengobati virus memang perlu kajian lebih jauh dan komprehensif mengingat memang target nya berbeda antara malaria plasmodium dengan virus Covid-19," kata Akhmad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (20/3).


Akhmad kemudian memastikan bahwa kandungan hydeoxychloroquine sama dengan obat chloroquine yang dipesan Jokowi untuk menyembuhkan WNI yang terjangkit corona.

"Saya kira walaupun Presiden menyebut chloroquine rasanya tetap merujuk ke hydeoxychloroquine, penyebutan hanya menyebut senyawa induk atau awalnya saja," tambahnya.

Akhmad mengatakan diperlukan kajian lebih lanjut terkait penggunaan obat malaria untuk mengobati virus corona. Namun ia mengatakan obat tersebut memang digunakan untuk mikroorganisme berupa parasit plasmodium penyebab malaria.


Ia mengatakan parasit berbeda dengan virus. Ia mengatakan bukti bahwa hydroxychloroquine bisa membunuh virus corona harus melalui kajian lebih lanjut.

Peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ratih Asmana Ningrum mengatakan bahwa memang telah ada riset bahwa hydroxychloroquine bisa menghambat aktivitas virus.

"Setahu saya saat ini, sudah diuji terbatas pada pasien dan diklaim dengan pemberian [obat], recovery penderitanya lebih cepat jika dibanding penderita yang tidak diberikan," kata Ratih.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan obat antimalaria bisa digunakan untuk mengobati orang yang terinfeksi virus corona. Pernyataan Trump ini disampaikan seiring dengan perkembangan positif vaksin virus corona yang dilakukan Prancis dan China. AFP menyebut obat yang dimaksudnya adalah chloroquine.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) mengatakan akan bekerja sama dengan produsen lokal untuk menambah produksi sembari mempelajari khasiatnya seperti yang diungkapkan Trump.

Sementara itu, produsen obat asal Prancis, Sanofi pada Rabu lalu mengatakan pihaknya menawarkan jutaan dosis  hydroxychloroquine di bawah merek Plaquenil kepada pemerintah Prancis.

(jnp/DAL)