Robot NASA itu bergerak di ruang angkasa untuk menguak misteri terkait matahari selama tujuh tahun dengan terbang lebih dalam ke atmosfer luarnya, yang disebut korona.
Ketika misi diluncurkan, para ilmuwan berharap instrumen Parker Solar Probe dapat mengumpulkan data selama sekitar 11 hari pada setiap penerbangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memiliki peluang nyata di sini untuk melihat apa yang terjadi di wilayah-wilayah ini lebih jauh dari korona matahari," ujar Raouafi.
Raouafi berkata tujuan utama pihaknya adalah untuk memahami misteri pada korona matahari dan fenomena angin matahari.
"Kami memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data ini dan melihat apa yang dihasilkannya," ujarnya.
Wahana antariksa itu akan mendekati orbitnya pada 7 Juni, ketika jaraknya sekitar 11,6 juta mil (19 juta km) dari matahari. Ketika misinya berlanjut, perjalanan Parker Solar Probe akan semakin dekat dengan matahari. Pada akhir misinya, disebut hanya berjarak 4 juta mil (6 juta km) dari matahari.
Untuk mencapai jarak sedekat itu, robot NASA tersebut harus melakukan putaran beruntun melewati Venus, dan pendekatan terdekat diperkirakan pada 11 Juli.
Diharapkan hasil pengamatan ini bisa dikirim ke pusat NASA antara akhir Juni sampai pertengahan Agustus 2020, dan datanya diprediksi akan dirilis ke publik pada November 2020. (jps/mik)