Sebab, 80 persen pasar Indonesia masih dilakukan secara offline atau lewat penjualan ritel di toko-toko fisik. Hal ini diungkap Market Analyst dan Client Devices, IDC Indonesia, Risky Febrian.
"Kondisi ini [anjlok] diperkirakan akan mulai membaik setelah pusat ritel diizinkan lagi untuk beroperasi," kata Risky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (3/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai vendor ponsel sudah mulai mendorong penjualan secara online untuk menjalankan roda bisnis. Penjualan online dilakukan setelah banyak toko di mal ditutup dalam PSBB untuk memutus mata rantai pandemi Covid-19. Namun, hal ini tetap belum membantu penjualan ponsel yang sebagian besar masih mengandalkan penjualan fisik.
Risky mengatakan sektor penjualan online belum memiliki dampak signifikan untuk menambal penjualan offline. Sebab vendor tidak mendorong peningkatan kapasitas penjualan online di kota-kota kecil.
Sebelumnya, IDC juga mencatat ada 7,5 juta unit smartphone yang dikirim ke Indonesia pada kuartal pertama.
Berkaca pada angka di atas, menurut Tracker Ponsel Triwulan IDC, angka tersebut menunjukkan rekor terendah baru dalam dua tahun terakhir yang disebabkan oleh pandemi virus corona SARS-CoV-2 (Covid-19).
Risky mengatakan tanda-tanda perlambatan pasar itu dimulai pada Maret 2020 ketika pemerintah pusat mulai menggaungkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang mana mengharuskan outlet ritel ponsel tutup sementara. (jnp/eks)