Mal Buka Kala New Normal Bisa Kuatkan Pasar Ponsel yang Lesu

CNN Indonesia | Jumat, 05/06/2020 06:19 WIB
Pemerintah telah menerbitkan aturan blokir ponsel black market (BM) melalui nomor International Mobile Equipment Identity (IMEI). Pelaksanaan pemblokiran tersebut baru akan dimulai pada 18 April 2020. Jakarta, Selasa, 26 November 2019. CNNIndonesia/Safir Makki Ilustrasi (CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- IDC Indonesia mengatakan pembukaan operasional pusat pembelanjaan akan membantu meningkatkan penjualan ponsel yang anjlok di kala penerapan Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB).

Sebab, 80 persen pasar Indonesia masih dilakukan secara offline atau lewat penjualan ritel di toko-toko fisik. Hal ini diungkap Market Analyst dan Client Devices, IDC Indonesia, Risky Febrian.

"Kondisi ini [anjlok] diperkirakan akan mulai membaik setelah pusat ritel diizinkan lagi untuk beroperasi," kata Risky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (3/6).


Sebelumnya, ia sempat menyebut pengiriman smartphone pada kuartal pertama 2020 turun 7,3 persen secara year on year (dari tahun ke tahun/YoY) dan 24,1 persen secara quarter over quarter (dari kuartal ke kuartal/QoQ).

Berbagai vendor ponsel sudah mulai mendorong penjualan secara online untuk menjalankan roda bisnis. Penjualan online dilakukan setelah banyak toko di mal ditutup dalam PSBB untuk memutus mata rantai pandemi Covid-19. Namun, hal ini tetap belum membantu penjualan ponsel yang sebagian besar masih mengandalkan penjualan fisik.

"Secara umum, kondisi PSBB yang diterapkan di mayoritas kota di Indonesia membuat pusat ritel harus juga tutup dan ini berimbas pada pasar smartphone juga, hal ini dikarenakan lebih dari 80 persen pasar Indonesia masih ditopang oleh kanal penjualan offline," kata Risky.

Risky mengatakan sektor penjualan online belum memiliki dampak signifikan untuk menambal penjualan offline. Sebab vendor tidak mendorong peningkatan kapasitas penjualan online di kota-kota kecil.

"Memang ada peningkatan yang cukup signifikan di kanal online, namun peningkatan ini umumnya hanya terjadi di kota kota besar seperti Jakarta," kata Risky.

Sebelumnya, IDC juga mencatat ada 7,5 juta unit smartphone yang dikirim ke Indonesia pada kuartal pertama.

Berkaca pada angka di atas, menurut Tracker Ponsel Triwulan IDC, angka tersebut menunjukkan rekor terendah baru dalam dua tahun terakhir yang disebabkan oleh pandemi virus corona SARS-CoV-2 (Covid-19).

Risky mengatakan tanda-tanda perlambatan pasar itu dimulai pada Maret 2020 ketika pemerintah pusat mulai menggaungkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang mana mengharuskan outlet ritel ponsel tutup sementara. (jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]