Ahli Deteksi Gelombang Ledakan Bintang Mati Dekat Bumi

CNN Indonesia | Selasa, 11/08/2020 10:58 WIB
Ahli telah mendeteksi gelombang radio akibat ledakan bintang mati yang berada di Galaksi Bima Sakti dekat Bumi. Ilustrasi (Dok. NASA/ESA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ilmuwan telah mendeteksi ledakan bintang mati dekat Bumi. Ledakan ini diduga terjadi dekat Bumi lantaran bintang itu masih ada di dalam galaksi Bima Sakti.

Selain itu, sumber gelombang FRB ini merupakan yang pertama yang berasal dari bintang di dalam galaksi Bima Sakti.

Ledakan bintang mati ini menghasilkan gelombang radio cepat (FRB) berupa campuran energi radio dan sinar-X kuat yang memicu alarm di observatorium di seluruh dunia.


Sejak ditemukan pada tahun 2007, fenomena FRB telah membingungkan para ilmuwan. Sebab, semburan gelombang radio yang kuat berlangsung paling lama hanya beberapa milidetik. Tapi energi yang dihasilkan lebih besar dari energi yang dihasilkan Matahari selama ratusan tahun.

Para Ilmuwan masih belum mendapat kesimpulan pasti apa penyebab terjadinya ledakan ini. Tapi mereka memperkirakan ledakan ini terjadi akibat dua lubang hitam yang menyatu, bintang mati yang meledak, hingga denyut dari pesawat alien.

Melansir Space, pengamatan teleskop menunjukkan bahwa ledakan itu berasal dari bintang neutron yang mengemas massa sebesar matahari menjadi bola seukuran kota, sekitar 30.000 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Vulpecula. 

Dalam penelitian diterbitkan di The Astrophysical Journal Letters, bintang neutron atau disebut magnetar mampu mengeluarkan energi dalam jumlah besar setelah mati.

"Kami belum pernah melihat ledakan gelombang radio, yang menyerupai ledakan radio cepat dari magnetar sebelumnya," kata penulis utama studi Sandro Mereghetti.

Magnetar yang diberi nama SGR 1935 + 2154 ditemukan pada tahun 2014 ketika para ilmuwan melihatnya memancarkan semburan sinar gamma dan sinar-X yang kuat secara acak. Setelah terdiam beberapa saat, bintang yang mati itu terbangun dengan ledakan sinar-X yang dahsyat pada akhir April.

Sandro dan rekannya mendeteksi ledakan itu dengan satelit Integral Badan Antariksa Eropa (ESA), yang dirancang untuk menangkap fenomena paling energik di alam semesta. Pada saat yang sama, sebuah teleskop radio di pegunungan British Columbia, mendeteksi ledakan gelombang radio yang berasal dari sumber yang sama. Teleskop radio di California dan Utah juga mengkonfirmasi FRB keesokan harinya.

Melansir Live Science, para peneliti mengatakan ledakan gelombang radio dan sinar-X secara bersamaan tidak pernah terdeteksi dari magnetar sebelumnya. Mereka juga berkata ledakan yang kuat menunjuk bintang itu sebagai sumber FRB yang masuk akal. 

Ilmuwan ESA Erik Kuulkers menambahkan temuan itu hanya mungkin karena beberapa teleskop di Bumi dan di orbit mampu menangkap ledakan secara bersamaan. Selain itu, panjang gelombang melintasi spektrum elektromagnetik.

Kolaborasi lebih lanjut antar lembaga dinilai diperlukan untuk lebih mengetahui asal dari fenomena misterius itu.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]