Kritik Pandu Riono ke Jokowi dan Maaf untuk Pembajak Twitter

CNN Indonesia
Selasa, 25 Agu 2020 12:01 WIB
Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono kembali kritis lewat akun twitter ke rezim Jokowi soal Covid-19 setelah akunnya sempat dibajak. Ilustrasi epidemiolog UI Pandu Riono kritik rezim Jokowi. (www.fkm.ui.ac.id)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono kembali berkicau lewat media sosial Twitter. Ia tampak tidak trauma mengeluarkan pendapat kritisnya terhadap rezim Joko Widodo terkait penanganan penyebaran virus corona Covid-19 di Indonesia.

Ia pun menyatakan telah memaafkan pihak yang meretas akun Twitter pribadinya beberapa waktu lalu. Dia mengatakan peretas itu hanya mencari uang usai diperintah oleh pihak yang tidak dikenal.

"Saya memaafkan peretas. Saya lupakan dan memaafkan mereka. Mereka hanya mencari uang dan diperintah oleh siapa tidak tahu kan," ujar Pandu kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/8).

"Kita kalau tidak memaafkan jadi tidak baik lah," ujarnya.

Pandu mengaku tidak mengetahui penyebab menjadi sasaran peretasan. Dia tidak sepakat diretas karena kerap mengkritik pemerintah karena selama ini dilibatkan oleh pemerintah daerah dan pusat dalam menanggulangi pandemi Covid-19.

Misalnya, dia berkata membantu pemerintah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Tak hanya itu, dia juga baru saja rapat dengan Bappenas.

"Kantor Staf Presiden pun saya rapat dengan Deputi II-nya, Abednego. Tanya saja sama Pak Abednego. Cek saja jangan percaya saja sama omongan saya," ujar Pandu.

Di sisi lain, Pandu tidak mengelak sejumlah masukannya tidak dijalankan. Akan tetapi, dia menegaskan tidak pernah memaksa pihak lain untuk menjalankan masukannya.

"Kan mereka punya pertimbangan lain yang tidak saya ketahui. Saya kan memberikan masukan akademis," ujarnya.

Lebih dari itu, dia mengaku tidak terganggu dengan tudingan orang yang menilai kerap mengkritik pemerintah.

"Bodohnya saya itu saya tidak merasa terganggu. Intinya, saya memaafkan peretasan ini dan saya mengangap peristiwa ini tidak pernah ada," ujar Pandu.

Kritik Rezim Jokowi soal Covid-19

Sebelum peretasan terjadi, Pandu tampak sebagai sosok yang vokal dalam mengkritik langkah pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. Misalnya, dia tidak setuju dengan langkah pemerintah menggunakan rapid test antobodu untuk mendeteksi Covid-19.

Pandu menilai pemerintah mengabaikan sains diagnostik dan tidak sejalan dengan saran Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Kalau satgas Covid-19 masih merestui penggunaan rapid test antibody, karena sudah terlanjur menyetok terlalu banyak, abaikan sains diagnostik Covid-19, dan membuta thd saran WHO. Tidak heran penularan terus meningkat. Keberhasilan pemulihan ekonomi dibajak oleh restu tersebut," kicau Pandu.

Kemudian, dia mengingatkan riset harus dilakukan dengan baik. Meski tidak secara langsung menuding pihak tertentu, dia menyebu riset yang dilakukan secara tidak maksimal tidak akan bermanfaat bagi publik.

"Lakukan riset dg baik, bukan sekedarnya saja. Agar hasil riset nya valid & bermanfaat maksimal bagi publik. Kita harus akui banyak riset yg asal jadi, demi kejar kum, kejar popularitas, mumpung ada duit, &  mumpung2 yg lain. Tak ada inovasi, hanya  polesan palsu, bukan kebenaran," ujarnya.

Kemudian, dia menyebut kepercayaan publik terhadap pemerintah jika tertutup dalam menangani pandemi. Dua hal yang perlu diperhatikan adalah uji obat dan uji vaksin.

"Kepercayaan publik terhadap upaya pemerintah dapat menurun, bila tidak ada keterbukaan pada respon pandemi, termasuk uji obat dan uji vaksin yang berdampak pada kebijakan publik dan menggunakan dana publik. Kepercayaan perlu dijaga dan dirawat oleh kita bersama," ujar Pandu.

Terbaru, dia juga mengkritik foto bersama sejumlah menteri yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Dia menilai para menteri tersebut tidak memberikan teladan bagi masyarakat.

"Harap maklum ini hanya Rapat Koordinasi Pemulihan Ekonomi, BUKAN rapat koordinasi ATASI PANDEMI yg belum berhasil dikendalikan. Gagah nian gaya fotonya, tanpa masker dan tidak jaga jarak: edukasi yg buruk dan bukan teladan yg pantas disebarkan. Kok tega banget, ya," ujarnya.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER