Ahli Respons Anies Khawatir Positivity Rate Covid-19 Jakarta

CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 20:13 WIB
Epidemiolog menjelaskan positivity rate di Jakarta yang disebut Anies hanya terpaut lima persen dari Indonesia yang kini 18,4 persen. Ilustrasi Anies Baswedan sebut virus corona di Jakarta mengkhawatirkan. (ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan kondisi Jakarta di masa pandemi virus corona (Covid-19) mengkhawatirkan. Dalam satu minggu terakhir, dia mengatakan angka positivity rate di Jakarta itu 13,2 persen.

Anies menyebut positivity rate di Jakarta hanya terpaut lima persen dari Indonesia yang kini mencapai 18,4 persen.

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menjelaskan positivity rate adalah persentase perbandingan antara orang yang dinyatakan positif dibagi jumlah orang yang dites pada periode atau hari yang sama.


Dicky berkata positivity rate dikalikan 100 persen. Sehingga, dia menyebut menghasilkan persentase.

"Artinya kalau Jakarta 13 persen tes positivity rate-nya, artinya dari 100 orang yang di tes, dia menemukan 13 orang positif. Kalau Indonesia 18 persen, itu artinya ada 18 orang yang positif," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/9).

Dicky menyampaikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan positivity rate yang aman adalah maksimal 5 persen, yakni hanya 5 orang yang ditemukan positif dari 100 orang yang dites. Besaran persentase itu, kata dia memperlihatkan sebuah negara relatif berhasil mengendalikan pandemi.

Dicky juga menjelaskan angka 5 persen yang disarankan WHO bersumber dari penilaian ahli atas keberhasilan Korea Selatan, China, hingga Selandia Baru. Dia menyebut ketiga negara itu diketahui mudah mengendalikan pandemi karena positivity ratenya maksimal hanya 5 persen.

Angka positivity rate 5 persen, kata dia juga merupakan batasan yang menggambarkan bahwa kemampuan secara umum negara dalam mengendalikan pandemi. Jika di atas itu, dia menilai tidak bisa dikendalikan.

"Dari 5 per 100 itu kan secara rerata 1 orang umumnya itu akan kontak dengan 30 orang. Sehingga kalau dari 5 orang itu akan ada 150 orang yang harus dilacak. Kalau misalnya 18 persen berarti besar sekali dan membutuhkan SDM dan upaya yang besar," ujarnya.

Di sisi lain, Dicky kembali menyarankan Indonesia untuk mengikuti saran WHO dalam mendeteksi Covid-19, yakni 1 tes per 1.000 orang per minggu. Untuk mencapai positivity rate 5 persen, cakupan tes itu harus dilakukan secara berkelanjutan hingga satu bulan.

"Jadi untuk mencapai tes positivity rate ini bukan asal melakukan pengetesan. Tetapi ada jumlah yang harus dicapai secara standar," ujar Dicky.

Dicky menambahkan semakin besar pengetasan akan membuat sebuah wilayah atau negara mencapai positivity rate yang ditargetkan secara global. Semakin rendah positivity rate, lanjut dia maka semakin bagus.

"Umumnya yang berhasil di antara 1 sampai 3 persen yang aman. Apalagi seperti di Australia hanya 1 persen. Artinya 1 dari 100 orang, sekarang sudah nol koma," ujarnya.

Lebih dari itu, Dicky mengingatkan semakin rendah positivity rate sebuah wilayah menunjukkan bahwa kasus Covid-19 di wilayah itu sudah rendah.

"Ini yang harus dipahami karena ada pejabat publik dan daerah yang menganggap positivity rate itu hanya untuk negara lain. Saya harus tegaskan strategi ini adalah universal dan wajib, serta bisa dan harus dilakukan setiap negara hingga wilayah," ujar Dicky.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK