Analisis BMKG soal Dentuman Misterius di Jakarta

CNN Indonesia | Senin, 21/09/2020 17:45 WIB
BMKG menduga dentuman misterius di wilayah Jakarta Selatan pada Minggu (20/8) malam bukanlah aktivitas alami. Ilustrasi dentuman misterius. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Petir dan Atmosfer Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Deni Septiadi menduga dentuman misterius terdengar di DKI Jakarta, khususnya wilayah Jakarta Selatan pada Minggu (20/8) malam bukanlah aktivitas alami.

Pada Minggu malam, masyarakat Jakarta selatan khususnya di daerah antar Tegal Parang dan Kalibata mengaku mendengar suara dentuman keras nan misterius. Sejauh ini sudah ada tiga kali dentuman yang terjadi di Pulau Jawa sepanjang 2020.

"Dari semua catatan dentuman sepanjang tahun 2020, baik alami non alami secara pribadi saya sendiri tetap meyakini sumber suara dentuman adalah sumber suara non alami," kata Deni saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (21/9).


Deni mengingatkan apabila sumber suara dentuman berasal dari petir, maka masyarakat pasti langsung mengetahuinya karena suara petir yang khas. Oleh karena itu, ia mengatakan petir bukan merupakan sumber suara.

"Kita pahami bahwa  suara petir itu khas orang awam pun dapat dengan mudah memastikan suaranya. Jadi sumber suara dentuman akibat petir dapat kita abaikan apalagi dari semua runutan kejadian dentuman sepanjang tahun 2020 tidak semua kondisi atmosfer mendukung akan analisis petir sebagai sumber suara," ujar Deni.

Selain itu, Deni mengatakan sumber dentuman juga bukan berasal dari ledakan meteor, aktivitas seismik, vulkanik, petir, hingga longsor.

Sedangkan proses stratifikasi atmosfer atau Skyquake juga bisa diabaikan karena  stratifikasi atmosfer Indonesia belum cukup kuat untuk menghasilkan suara.

Stratifikasi atmosfer  menunjukkan bahwa atmosfer memiliki lapisan-lapisan yang heterogen sehingga objek suara yang melewatinya akan mengalami proses resonansi atau amplifikasi.

Skyquake bisa terjadi karena proses stratifikasi atmosfer yang mampu meresnonansi dan mengamplifikasi suara di atmosfer sehingga bisa menghasilkan suara misterius.

Sedangkan proses stratifikasi atmosfer juga bisa diabaikan karena  stratifikasi atmosfer Indonesia belum cukup kuat untuk menghasilkan suara.

Stratifikasi atmosfer  menunjukkan bahwa atmosfer memiliki lapisan-lapisan yang heterogen sehingga objek suara yang melewatinya akan mengalami proses resonansi atau amplifikasi.

"Skyquake bisa terjadi karena proses stratifikasi atmosfer yang mampu meresonansi dan mengamplifikasi suara di atmosfer sehingga bisa menghasilkan suara misterius," tutur Deni. 

Cuaca Jakarta saat dentuman tadi malam

Pada kejadian dentuman tadi malam, Jakarta dan sekitarnya memang sedang tertutup banyak awan-awan konvektif akibat fenomena Mesoscale Convective Systems (MCS) yang terbentuk di Selat Karimata sebelah Timur Laut Belitung. 

Sistem konvektif ini membawa sejumlah awan-awan Cumulonimbus (Cb) ke arah Jakarta. Sehingga dapat dipastikan potensi petir juga meningkat. 

"Suara gemuruh petir memang dapat membangkitkan getaran bahkan dapat terukur di Seismograf sebagai getaran gempa dengan magnitudo hingga 3.0 SR," kata Deni.

Masyarakat awam sesungguhnya mudah memperkirakan lokasi sumber suara petir berdasarkan guruh yang kita dengar. Jika diasumsikan kecepatan suara guruh sekitar 343 m/s dengan kilatan petir 20 detik (asumsi petir kuat), maka jarak sumber bunyi petir dapat dihitung sekitar 7 km. 

"Bahkan dalam beberapa literatur telah disebutkan, pada kondisi atmosfer yang mendukung pun (ideal) suara guruh paling jauh dapat terdengar 16-25 km, dari sini kita bisa memetakan sumber suaranya," kata Deni.

Apabila dirunut kebelakang,  sudah tiga kali Indonesia mengalami suara dentuman sepanjang 2020. Bahkan masyarakat menganggap suara dentuman adalah tanda akhir zaman.

Dentuman pertama pertama terjadi tanggal 11 April 2020 (02.00 WIB dini hari) mengejutkan warga di sekitar Jakarta, Depok, Bogor, hingga Bekasi. Dentuman kedua tanggal 11 Mei 2020 (00.45 dini hari) didengar oleh warga di sekitar Jawa Tengah. 

Dentuman ketiga terjadi tanggal 21 Mei 2020 pagi hari (09.00 WIB) menghebohkan warga Bandung dan sekitarnya. Terakhir adalah suara dentuman yang terjadi pada Minggu (21/9).

"Dari ke 4 kejadian dentuman yang terjadi sampai saat ini tidak ada sumber suara yang koheren dapat menjawab asal fenomena dentuman ini," ujar Deni. 

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]