Terancam, BTS 5G Huawei Tergantung Teknologi AS

eks, CNN Indonesia | Rabu, 14/10/2020 09:15 WIB
Perangkat BTS 5G yang menjadi jualan andalan Huawei ternyata masih tergantung dengan teknologi AS sehingga terancam diblokir. Ilustrasi Huawei. Perangkat BTS jaringan telekomunikasi yang diproduksi Huawei ternyata masih ketergantungan dengan teknologi AS. (istockphoto/ Birute)
Jakarta, CNN Indonesia --

Huawei ternyata masih ketergantungan dengan teknologi Amerika Serikat (AS) untuk membuat menara BTS 5G.

Sebab, sekitar 30 persen komponen dari menara telekomunikasi dengan teknologi 5G itu masih menggunakan layanan 5G.

Padahal penjualan menara BTS 5G menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan asal China itu. Pasalnya, sejak 14 September lalu, AS tengah memberlakukan pelarangan penggunaan teknologi AS untuk Huawei.

AS san Cina tengah menghadapi perang sengit terkait siapa yang akan menguasai teknologi telekomunikasi masa depan itu.


Saat unit perangkat BTS jaringan generasi kelima Huawei dibongkar, bagian perangkat keras yang bernilai sekitar 30 persen dari nilai produk itu merupakan buatan AS. Selain itu, chip yang menjadi komponen utama perangkat ini juga dipasok oleh perusahaan semikonduktor Taiwan, TSMC.

Temuan ini menunjukkan Huawei saat ini mesti mencari cara untuk bisa tetap menjual perangkat BTS 5G tanpa bergantung dengan AS. Saat ini, perusahaan itu harus puas memproduksi BTS dengan persediaan chip yang ada.

AS pun sudah memblokir semua perusahaan yang menggunakan teknologi AS untuk memasok perangkat keras dan lunak kepada Huawei. Perusahaan yang melanggar aturan ini terancam mendapat sanksi dari negara adidaya itu.

Pada bagian chip yang menjadi otak perangkat BTS Huawei, tertulis kode, "Hi1382 TAIWAN". Kode Hi pada chip ini mewakili HiSilicon, anak perusahaan desain chip Huawei.

Kode ini menunjukkan prosesor ini dikembangkan oleh HiSilicon dan diproduksi oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC). Ini adalah pabrik semikonduktor yang sebelumnya memegang kontrak produksi chip terbesar di dunia dan pemasok utama Apple.

Kepada investor, TSMC mengumumkan akan menangguhkan pasokan ke Huawei. Sementara pembuat semikonduktor terbesar China menyebut telah mengajukan aplikasi lisensi ekspor ke AS. Dalam lisensi itu mencakup beberapa produk Huawei. Perusahaan itu juga berkomitmen untuk patuh terhadap semua aturan ekspor AS.

Sementara itu, MediaTek, pembuat chip seluler terbesar kedua di dunia setelah Qualcomm, juga mengonfirmasi telah mengajukan izin untuk melanjutkan bisnis dengan Huawei.

Namun, Intel dan AMD sudah berhasil mendapat izin AS. Sementara nasib Qualcomm, Samsung, dan MediaTek, masih belum jelas, seperti dilaporkan GizmoChina

Nikkei Asia melaporkan mereka membongkar unit baseband 5G Huawei dengan bantuan laboratorium teknis di Tokyo, Fomalhaut Techno Solutions. 

Unit dengan dimensi 48 cm x 9 cm x 34 cm dan berat sekitar 10 kg ini biasanya ditempatkan di atap gedung. Fungsinya untuk memproses telekomunikasi suara dan data untuk komunikasi seluler.

Total harga unit BTS Huawei US$1.320 atau sekitar Rp1,9 juta (kurs 1US$=Rp14.764,8). Komponen buatan China untuk unit ini sebesar 48,2 persen. Lebih tinggi dari kadar ponsel buatan Huawei, Mate30 yang hanya 41,8 persen.

Tapi, chip buatan AS untuk unit ini meraup 27,2 persen dari total biaya produksi unit. Sementara pada produk ponsel, komponen buatan AS hanya memakan 1 persen dari total harga produk. Padahal pada produk sebelumnya, total komponen AS bisa mencapai 10 persen.

Huawei sudah mula merentangkan sayap di pasar perangkat jaringan telekomunikasi global sejak mulai memproduksi BTS 3G dan 4G.

Dengan BTS 3G dan 4G, Huawei telah menguasai hampir 30 persen pangsa pasar perangkat BTS global, melampaui pendahulunya Nokia dari Finlandia dan Ericsson dari Swedia.

Keberhasilan Huawei tak lepas dari strategi untuk menjual perangkat BTS yang 40 persen lebih murah dari para pesaingnya.

(eks)

[Gambas:Video CNN]