Pendinginan Global saat Zaman Purba Hampir Hapus Umat Manusia

CNN Indonesia | Sabtu, 24/10/2020 17:20 WIB
Studi ini menunjukkan fakta bahwa perubahan iklim, yang pada masa lalu berupa pendinginan global, bisa menghapus peradaban purba di dunia. Ilustrasi. Pengunjung mengamati lukisan batu yang terdapat di Gunung Helan di kawasan wisata Gunung Helan, Ningxia, China. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti mengungkap perubahan iklim berupa pendinginan global menjadi pendorong utama kepunahan tiga kerabat spesies Homo sapiens atau manusia.

Ketiga spesies yang punah akibat pendinginan global adalah Homo neanderthal, Homo erectus, dan Homo heidelbergensis.

Dari enam spesies dalam genus Homo yang pernah hidup di Bumi dalam beberapa juta tahun terakhir, manusia menjadi satu-satunya spesies genus Homo yang mampu bertahan hidup.


Kepunahan enam spesies ini sebagian besar menjadi misteri.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal One Earth mengungkap bahwa pendinginan global menjadi penyebab kepunahan H. neanderthal, H. erectus, dan H. heidelbergensis.

Temuan ini merupakan peringatan dari masa lalu terkait masa depan manusia di tengah keadaan yang iklim yang memanas dengan cepat.

Tetapi beberapa ahli lain mencatat bahwa catatan fosil tidak cukup dapat diandalkan untuk menarik kesimpulan tentang kepunahan hominin di masa lalu dengan pasti.

Beberapa tahun yang lalu, ahli biologi evolusi Pasquale Raia dari Universitas Napoli Federico II di Italia menemukan basis data paleoklimatik (iklim pada zaman purba) dan memutuskan untuk bekerja sama dengan para arkeolog dan para ahli iklim paleoklimatik.

Kerja sama dilakukan untuk menyelidiki bagaimana spesies Homo yang berbeda menanggapi osilasi iklim bumi yang terus-menerus antara dingin periode glasial dan rentang waktu yang lebih hangat.

Untuk menganalisa, ahli menggunakan menggunakan emulator paleoklimatik yang memodelkan suhu, curah hujan, dan produktivitas primer bersih selama 5 juta tahun terakhir.

"Kita tahu bahwa perubahan iklim [bisa] seburuk itu bagi spesies. Bahkan bagi mereka yang secara kognitif adalah ikan terbesar di dalam akuarium," kata Raia.

Mereka menyelaraskan data iklim tersebut dengan lokasi dan perkiraan usia fosil untuk enam spesies Homo, yaitu habilis, ergaster, erectus, heidelbergensis, neanderthalensis, dan sapiens untuk mencirikan rentang kondisi iklim yang dapat ditempati setiap spesies selama keberadaannya.

Tim membandingkannya dengan kondisi lingkungan yang dialami spesies pada titik waktu tertentu.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tiga spesies, neanderthalensis, erectus, dan heidelbergensis mengalami perubahan iklim yang tiba-tiba tampak berkontraksi tepat sebelum kemunculan terakhir mereka yang diketahui dalam catatan fosil.

Analisis lebih lanjut menggunakan teknik yang biasanya digunakan oleh ahli biologi konservasi untuk menilai seberapa sensitif spesies terhadap pemanasan global saat ini.

Analisa menunjukkan bahwa ketiga spesies Homo tersebut memang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Itu memperkuat gagasan bahwa episode pendinginan global memainkan peran kunci dalam kematian mereka, meskipun dalam kasus Neanderthal, itu diperburuk dengan persaingan dengan Homo sapiens.

"Basis sumber daya mereka kemungkinan menyusut lebih cepat daripada yang dapat mereka temukan. sumber daya baru lainnya, "kata Raia.

Raia mengungkap persamaan yang dimiliki oleh H. neanderthalensis, erectus, dan heidelbergensis, kepunahan mereka merupakan jalan buntu evolusi dan itu merupakan kepunahan sejati yang terjadi alami.

Sebaliknya, H. ergaster dan H. habilis mewakili hominin transisi yang berevolusi menjadi spesies manusia lainnya.

Erectus terakhir di Pulau Jawa

Penyintas terakhir H. erectus diperkirakan telah ada sekitar 110 ribu tahun lalu di pulau Jawa, lama setelah spesies tersebut melahirkan hominin lain seperti H. heidelbergensis dan bermigrasi keluar dari Afrika ke Eurasia.

Di Jawa, penulis mengatakan, H. erectus secara geografis jauh dari hominin lain yang diketahui pada saat itu, sehingga tidak mungkin mereka meninggalkan keturunan.

Spesies tersebut memasuki babak terakhir dengan datangnya periode glasial terakhir, yang menurut model tim pasti membawa suhu terdingin yang pernah dialami spesies tersebut.

Sebab Erectus yang hidup di Jawa kemungkinan besar tumbuh subur di bawah iklim Asia Tenggara yang hangat dan lembab.

Seperti H. erectus, H. heidelbergensis juga berevolusi di Afrika dan kemudian menjelajah ke Eurasia.

Spesies ini sering dianggap sebagai nenek moyang awal diri manusia dan Neanderthal, meskipun tengkorak dan fosil lain yang ditemukan di China selatan, India, dan Jerman lebih muda dari kemunculan paling awal Neanderthal dan hominin mirip H. sapiens.

Dilansir dari situs One Earth, itu menunjukkan beberapa garis keturunan H. heidelbergensis tidak bercabang menjadi spesies lain dan malah punah setelah spesies baru itu berevolusi.

H. heidelbergensis juga mati karena suhu dingin di Eurasia selatan sekitar 200 ribu tahun lalu.

Sementara itu, Neanderthal yang punah di Eropa selatan sekitar 40 ribu tahun yang lalu, punah karena persaingan dengan manusia modern (Homo sapiens) yang pada saat itu telah bergabung dengan mereka di benua Eropa.

Dilansir dari The Scientist, Homo Sapiens hampir pasti berperan dalam kepunahan Neanderthal meski perubahan iklim juga memberikan dampak. Meski Neanderthal secara fisik punah, beberapa DNA mereka terus hidup pada manusia hingga saat ini.

(jnp/ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK