MEET THE GEEK

Evy Ayu Arida, Penyuka Sastra yang Jadi Peneliti Komodo

CNN Indonesia | Rabu, 11/11/2020 15:19 WIB
Evy Ayu Arida, peneliti di Pusat Biologi LIPI awalnya bercita-cita menjadi artis, namun Ia 'tercebur' menjadi ahli komodo di Indonesia. Evy Ayu Arida, peneliti komodo di Indonesia. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Evy Ayu Arida, ahli komodo dari satuan kerja Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) awalnya bercita-cita sebagai seorang artis, bukan menjadi peneliti hewan.

Sebab, Evy sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau seni dan sastra seperti seni tari dan akting. Namun, kehidupan membawa dia terdaftar sebagai mahasiswa Biologi.

"Mungkin dibilang jalan hidup. Batal saya masuk fakultas sastra jadi masuknya fakultas biologi," kata Evy kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/11).


Evy pun menjalani sebagai mahasiswi fakultas biologi yang berpikir ada untungnya kelak sebagai peneliti, "kalau mau nari membuat puisi masih bisa lah pentas di rumah tapi kalau jadi artis kan enggak bisa belajar biologi karena sudah malas. Jadi saya pikir itu kebetulan saya batal di fakultas sastra."

Menurut Evy, ada suatu kemewahan menjadi peneliti biologi yaitu punya kebebasan untuk menggerakkan pikiran.

Evy kembali mengaku bahwa sebuah 'kebetulan' kembali terjadi saat diterima sebagai peneliti LIPI berbekal ilmu pengetahuannya. Ia langsung ditempatkan di bagian reptil dan amfibi. 'Kebetulan' itu yang membuatnya kini menjadi ahli komodo.

Evy mulai fokus meneliti komodo mulai 2005, atau lima tahun setelah bergabung dengan LIPI pada 2000. Ia mengenang saat tergabung pertama kali dalam proyek sampling di Kebun Binatang di Pulau Jawa untuk meneliti komodo.

Kala itu iya sudah bisa menilai perilaku komodo yang agresif dan yang akrab dengan keberadaan manusia.

"Tiap komodo itu beda-beda ada yang udah kenal manusia ada yang belum kenal manusia. Jadi kayak satwa yang lain juga walaupun misalnya ada anjing yang dijinakkan kan sifatnya juga beda-beda," jelas Evy.

Infografis Fakta Komodo, Naga Terakhir di BumiFakta Komodo Naga Terakhir di Bumi

Lebih lanjut Evy mengatakan sebetulnya sudah banyak peneliti komodo di Indonesia yang tergabung dalam Komodo Survivor Program. Bedanya, mereka fokus di ekologi dan konservasi komodo, kalau Evy dan peneliti di LIPI fokus di ilmu evolusi komodo.

"Saya ke lapangan juga tapi lebih fokus bidang penelitiannya itu menggunakan teknik laboratorium, jadi sampel sudah tersedia kita bekerja sama mengambil sampel itu dengan teman-teman Komodo Survivor," jelas dia.

Evy kemudian menemukan beragam tantangan dalam meneliti komodo di Indonesia. Salah satunya masih terbatasnya penelitian dan publikasi ilmiah soal komodo di laboratorium.

"Saat ini, kami mengandalkan kerja sama dengan Yayasan Komodo Survivor program mengambilkan sampel di lapangan dan analisis di laboratorium kami," lanjut dia.

Atas fakta itu, Evy mengatakan penelitian atau publikasi terkait komodo di Indonesia mesti jadi perhatian ekstra.

"Karena ini komodo perlu perhatian ekstra jadi kami masih membuat draft yang belum selesai, dari beberapa tahun yang lalu semoga akan terbit tahun ini rencananya sebentar lagi prosesnya akan final semoga nanti dapat dijadikan acuan," ujarnya.

Dana jadi kesulitan peneliti di Indonesia

Selain soal publikasi yang minim, Evy juga bercerita terkait masalah pendanaan penelitian di Indonesia. Pasalnya, untuk menghasilkan suatu penelitian yang komprehensif perlu dana yang besar.

"Sedangkan masih ada satu lagi tantangan untuk penelitian yang sifatnya dasar seperti penelitian biologi ini yang aplikasinya biasanya masih jauh, jadi kami menggali informasi dasar misalnya sejarah evolusi," tambahnya.

Evy mengakui penelitian biawak dan komodo tidak bisa menjadi produk yang bisa dijadikan masyarakat sebagai bahan makanan atau lainnya. Jadi, Evy dan kawan-kawan hanya mengandalkan produk ilmu dasar biologi terkait komodo yang menjadi salah satu tantangan di Indonesia.

Menurut Evy, penelitian ilmu dasar biologi di luar negeri diberikan pendanaan besar. Sedangkan di Indonesia penelitian soal ilmu biologi, seperti komodo masih kurang diperhatikan.

"Peneliti di negara maju seperti Australia dan Jerman sama-sama sulit tapi bedanya adalah bahwa di negara maju sudah ada perhatian itu misalnya ada pendanaan khusus untuk ilmu dasar seperti biologi," katanya.

"Kalau di Indonesia saya pikir biasanya penelitian ilmu dasar sebagian besar harus dikaitkan dengan produk yang langsung bisa dilihat oleh masyarakat apakah itu calon obat, apakah itu kebijakan untuk mengelola perekonomian. Kalau komodo masih belum," pungkasnya.

(din/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK