ANALISIS

Investasi Gojek, Manuver Banting Setir Telkomsel di Startup

CNN Indonesia | Kamis, 19/11/2020 09:34 WIB
Pakar justru menyarankan agar perusahaan Telkom Group mengembangkan sendiri platform ride-hailing serupa dengan Gojek. ilustrasi Telkomsel investasi ke Gojek. (ARIF FIRMANSYAH/ARIF FIRMANSYAH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Telkomsel resmi menanamkan investasi pada Gojek sebesar US$150 juta atau sekitar Rp2,1 triliun. Pada Juni 2020, Gojek juga telah mendapatkan dana dari Facebook dan PayPal.

Total pendanaan oleh Facebook dan Paypal berjumlah US$375 juta atau sekitar Rp5,28 triliun. Total Gojek telah mengumpulkan pendanaan sebesar US$4,8 miliar.

Gojek dan Telkomsel mengatakan pengguna akan mendapatkan beberapa inisiatif yang akan memberikan manfaat dan kenyamanan lebih, seperti produk baru yang dikembangkan bersama, serta program-program inovatif yang dapat memberikan penghematan biaya seperti promosi bersama dan bundling produk.


Direktur Utama Telkomsel, Setyanto Hantoro  Gojek dan Telkomsel telah bekerjasama selama beberapa tahun menjadi salah satu alasan Telkomsel menanamkan investasi. Pada tahun 2018 misalnya, Gojek dan Telkomsel menghadirkan varian paket data terjangkau kepada mitra pengemudi Gojek.

Kemitraan itu, lanjut dia juga membuka peluang integrasi ekosistem digital Telkomsel dan Gojek. Oleh karena itu, kemitraan yang terikat dalam bentuk pendanaan ini bisa membuka peluang integrasi digital antara Telkomsel dan Gojek.

Pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan jumlah investasi besar itu adalah hal yang rasional karena investasi akan meningkatkan kinerja kedua perusahaan.

Peningkatan kinerja ini disebabkan oleh integrasi layanan antara Gojek dan Telkomsel. Kedua perusahaan juga akan berkolaborasi di bidang gaya hidup digital serta mengembangkan solusi teknologi periklanan digital yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di berbagai skala bisnis.

Dengan berinvestasi ke Gojek, Bhima melihat Telkomsel bisa mengintegrasikan layanan telekomunikasi dan internetnya dengan Gojek.

"Ini pilihan yang sangat rasional. Telkomsel bisa mengintegrasikan layanan telekomunikasi dan internetnya dengan Gojek," ujar Bhima.

Imbas gagal kembangkan Blanja.com

Bhima menuturkan investasi yang dilakukan oleh Telkomsel ke Gojek merupakan imbas dari kegagalan pengembangan bisnis di masa lalu. Dia mengatakan Telkomsel pernah gagal mengembangkan platform blanja.com.

Menurutnya, BUMN seperti Telkomsel yang membuat anak usaha startup memiliki risikonya lebih besar dibanding menyuntik dana kepada startup sudah mapan.

Kendati demikian, posisi tawar Telkomsel lebih rendah ketika masuk ke Gojek yang saat ini telah mencapai putaran pendanaan seri F. Posisi tawar akan lebih rendah dibandingkan investor yang sudah sedari awal menanamkan modal di putaran pendanaan awal (seed investment).

"Tapi terkait posisi tawar tentu akan lebih rendah dibandingkan investor yang sudah masuk di awal dan dari segi kepemilikan saham dominan," ujarnya.

Hal senada diungkap pengamat TIK Hasnil Fajri. Menurutnya, mengembangkan anak usaha startup dari kecil memang punya risiko gagal lebih besar ketimbang investasi ke perusahaan teknologi yang sudah terbukti dan sukses.

Selain itu menurutnya kolaborasi dengan Gojek bisa dimanfaatkan Telkomsel meluaskan pasar untuk menawarkan layanan bisnis mereka.

Investasi ini juga dinilai Hasnil sebagai startegi untuk terus menumbuhkan bisnis telkomsel diluar telekomunikasi. 

"Untuk terus berkembang Telkomsel harus Investasi secara organik atau anorganik. Kondisi pasar seluler yang saat ini sudah saturated (jenuh) membuat opsi anorganik seperti investasi keluar dengan membeli saham perusahaan digital lain, Gojek dalam hal ini," tuturnya saat dihubungi.

Alih-alih Investasi, Telkom Group disarankan Buat Aplikasi Pesaing Gojek

Dihubungi terpisah, Pengamat TIK dari ICT Institute, Heru Sutadi justru menyarankan agar perusahaan induk Telkomsel, Telkom Group agar mengembangkan sendiri platform ride-hailing serupa dengan Gojek.

Baginya dengan modal yang sama, Telkomsel bisa membangun platform ride-hailing dengan penguasaan modal 100 persen. Dibandingkan harus berinvestasi di Gojek dan hanya mendapatkan persentase saham yang sedikit.

"Dengan modal yang sama, harusnya Telkomsel berinisiatif membangun layanan kompetitor Gojek dengan penguasaan 100 persen," kata Heru.

Heru mengatakan urgensi penanaman investasi ini harus ditelisik. Ia mengatakan Gojek akan lebih banyak mendapat manfaat, bukan sekadar suntikan dana segar dari Telkomsel.

"Gojek akan mendapatkan akses ke basis konsumen Telkomsel yang diperkirakan mencapai lebih dari 172 juta pelanggan," kata Heru.

Selanjutnya, patut diingat Telkom juga memiliki aplikasi LinkAja yang justru akan perang saudara dengan Gopay miliki Gojek.

Oleh karena itu, Heru mengatakan lebih baik Telkom mengembangkan aplikasi dompet digital LinkAja yang dulu bernama T-Cash. Heru khawatir LinkAja milik Telkomsel dengan Gopay milik Gojek akan saling bunuh.

"Proposisi LinkAja yang akan membangun ekosistem digital bagi UMKM patut didukung oleh BUMN dan anak-anak perusahaannya," kata Heru.

(jps/jnp/DAL/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK