Indonesia Belum Sempat Teliti Batu Meteor Jatuh di Tapanuli

CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2020 13:51 WIB
LAPAN menyatakan belum menyelidiki secara langsung batu meteor yang jatuh di Tapanuli dan kini di tangan bule Amerika Serikat. Ilustrasi batu meteor di Tapanuli. (Abdi Somat Hutabarat/detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan belum menyelidiki secara langsung batu meteor yang jatuh di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 1 Agustus 2020. Peneliti Lapan Rhorom Priyatikanto mengaku pihaknya hanya melakukan telaah secara sekilas.

"Sudah dilakukan telaah secara sekilas. Dilihat kenampakannya berdasarkan foto yang beredar saat itu," ujar Rhorom kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/11).

Rhorom menuturkan meteorit yang jatuh di Tapanuli Tengah itu diduga jenis kondrit. Dia mengatakan meteorit kondrit merupakan batu yang masih 'perawan', belum mengalami proses diferensiasi sehingga struktur dan komposisinya mencerminkan kondisi awal tata surya.


Lebih lanjut, Rhorom menyampaikan penelitian mateorit lebih mendalam dilakukan melalui telaah petrografi. Namun, dia mengaku Lapan tidak memiliki kemampuan tersebut.

"Perlu dikonsultasikan ke Badan Geologi atau Laboratorium Petrografi di perguruan tinggi," ujarnya.

Sebelumnya, meteorit dilaporkan jatuh di kawasan Satahi Nauli, Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 1 Agustus 2020. Melansir Lunar and Planetary Institute, ada empat meteorit yang jatuh saat itu dengan bobot seluruhnya mencapai 2,55 kilogram.

Salah satu meteorit berukuran 2,1 kg dilaporkan jatuh di rumah warga bernama Josua Hutagalung. Saat ini, meteorit itu diketahui sudah dijual kepada orang asing dan dijual kembali di eBay.

Rhorom mengungkapkan meteorit tersebut sangat bernilai dari perspektif ilmiah. Untuk diketahui batu meteor adalah batu dari ruang angkasa yang sedang terbakar di atmosfer. Sementara meteorit adalah meteor yang sampai ke muka Bumi.

"Meteor tipe kondrit belum terdiferensiasi seperti batuan-batuan di Bumi. Dengan kata lain, masih ada indikasi bahwa meteor tersebut masih menyimpan informasi tentang masa lalu tata surya. Inilah yang membuat meteor ini bernilai dari perspektif ilmiah," ujar Rhorom.

Rhorom menjelaskan asteroid tipe kondrit dianggap sebagai batu yang masih 'perawan'. Meteorit itu belum mengalami proses diferensiasi sehingga struktur dan komposisinya mencerminkan kondisi awal tata surya.

"Beda dengan batuan Gunung Merapi misalnya yang sudah digodok sekian juta tahun di perut gunung," ujarnya.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK