Telkom-Biofarma Ungkap Kesiapan Aplikasi Vaksinasi Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 04/12/2020 12:08 WIB
Telkom dan Biofarma mengungkap kesiapan aplikasi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Ilustrasi vaksinasi Covid-19 cegah infeksi virus corona (University of Oxford via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Telkom Indonesia mengatakan pengembangan aplikasi untuk mendukung distribusi vaksin Covid-19 di Indonesia berada di tahap finalisasi. Telkom mengupayakan agar aplikasi bisa siap saat vaksin didistribusikan.

Telkombersama Biofarma ditunjuk Komite Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Kementerian BUMN untuk mendigitalisasi distribusi vaksin Covid-19.

"Aplikasi yang sedang dibangun dengan bekerjasama dengan Biofarma ini masih dalam tahap finalisasi dan diupayakan dapat selesai pada saat vaksin siap didistribusikan," kata Vice President Corporate Communication Telkom Ahmad Reza kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/12).


Pemerintah berencana menyelesaikan pasokan vaksin Covid-19 pada Desember 2020 dan mulai melakukan vaksinasi massal pada 2021.

Reza menjelaskan Telkom juga bertugas mengintegrasikan data dari berbagai sumber terkait vaksin Covid-19, seperti data dari Kementerian dan Lembaga.

Sebelumnya, Direktur Digital Healthcare PT Bio Farma (Persero), Soleh Udin Al Ayubi menjelaskan integrasi data untuk layanan ini.

"Sistem ini nantinya akan terintegrasi juga dengan anggota holding BUMN Farmasi lainnya, seperti Kimia Farma Trade and Distribution, Kimia Farma Klinik, yang merupakan anak perusahaan dari PT Kimia Farma, Tbk dan Indofarma Global Medika (IGM) anak perusahaan PT Indofarma, Tbk, hingga ke pelayanan vaksinasi seperti imunicare miliki Bio Farma, maupun rumah sakit, klinik, dan unit pelayanan kesehatan lainnya," kata Ayub dalam keterangan tertulis, Rabu (2/12).

Teknologi big data ini digunakan dalam pengembangan aplikasi ang digunakan vaksinasi mandiri secara menyeluruh, mulai dari pendaftaran, pre-order hingga proses vaksin selesai.

"Telkom mendukung pemerintah terkait pemanfaatan teknologi informasi dan big data untuk memudahkan proses vaksinasi, khususnya terkait integrasi data kependudukan sehingga proses vaksinasi baik yang vaksin pemerintah maupun vaksin mandiri dapat berjalan dengan baik," tutur Reza.

Ayub menyatakan pemerintah menyediakan berbagai saluran bagi masyarakat yang hendak melakukan vaksinasi Covid-19 secara mandiri.

Dia mengatakan masyarakat bisa membeli vaksin melalui aplikasi, situs internet, hingga datang ke lokasi.

Untuk Bio Farma sendiri, Infrastruktur digital yang sedang disiapkan meliputi pembuatan aplikasi yang dapat mengetahui keaslian produk vaksin Covid-19, implementasi sistem distribusi vaksin secara real time.

Berikutnya adalah, sistem yang dapat menghitung secara tepat, jumlah vaksin yang dibutuhkan dari suatu tempat layanan vaksinasi, sehingga produk vaksin Covid-19 lebih merata.

Sedangkan infrastruktur yang terakhir adalah aplikasi yang dapat mengintegrasikan hasil vaksinasi dengan kebutuhan lainnya.

Indonesia berencana menyiapkan vaksin corona untuk 67 persen dari 160 juta populasi berusia 18-59 tahun atau 107.206.544 orang.

Empat teknologi RI untuk vaksinasi

Ayub menjelaskan, setidaknya ada empat tahap dalam membangun infrastruktur digital yang sedang dipersiapkan oleh Bio Farma.

1. Barcode kemasan vaksin

pemasangan teknologi track and trace berupa 2D barcode pada kemasan vaksin Covid-19 yang dilakukan pada proses pengemasan produk.

"Pemasangan teknologi track and trace, dalam bentuk barcode yang dapat dipindai, yang dipasang pada kemasan primer (vial), sekunder (dus kemasan) maupun tersier hingga truk pengantar. Pemasangan track and trace pada produk vaksin Covid-19, berfungsi untuk mencegah pemalsuan produk, dan ketika dilakukan scaning (pemindaian), akan terlihat detail tanggal kedaluwarsa, nomor batch, dan nomor serial produk tersebut," jelas Ayub.

2. Pelacakan posisi vaksin

Proses digital ini berlanjut ke proses distribusi, yang harus menjaga suhu vaksin antara 2-8 derajat celcius dari mulai distribusi Bio Farma, hingga ke Dinas Kesehatan Provinsi atau distribitor, di mana dalam proses distribusi vaksin Covd-19, harus memenuhi aspek Good Distribution Practices (GDP), dengan memperhatikan sistem rantai dingin atau cold chain system, untuk menjamin kualitas vaksin tetap terjaga dan tetap.

Ayub mengatakan, dengan solusi digital yang digunakan dalam proses ini, kita bisa mengetahui secara real time, posisi pada saat pengantaran sistem melalui teknologi Global Positioning System (GPS), dan Freeze Tag untuk pemantauan suhu selama perjalanan dari mulai Bio Farma hingga ke klinik yang terhubung ke command center yang berada di Bio Farma secara real time.

3. Aplikasi pemesanan vaksin untuk warga

Dari sisi konsumen, kata dia, mereka bisa melakukan pre-order untuk mendapatkan layanan vaksinasi Covid-19 melalui aplikasi, website ataupun datang langsung ke klinik-klinik yang sudah ditentukan untuk pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 secara mandiri.

Pre-order ini juga dapat berfungsi untuk menghindari penimbunan vaksin Covid-19, sehingga Bio Farma akan mengetahui jumlah permintaan yang sebenarnya untuk vaksin Covid-19 dari suatu wilayah.

"Sebagai contoh, suatu klinik/tempat pelayanan vaksinasi, akan dikirimkan sesuai dengan permintaan yang terdata dari sistem yang diajukan oleh masyarakat melalui pemesanan pre-order. Dengan demikian potensi untuk pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menimbun dapat dihindari," kata Ayub.

4. Sertifikat vaksin digital

Tahap terakhir dalam solusi digital yang ditawarkan oleh Bio Farma adalah pelaporan yang mungkin bisa terintegrasi dengan sistem yang lain. Misalkan seseorang sudah divaksin Covid-19, maka dia akan mendapatkan suatu pelaporan atau sertifikat digital, yang mungkin bisa digunakan pada saat dia bepergian dengan menggunakan kereta atau pesawat.

(jnp/ hyg/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK