Ahli Respons Temuan Covid-19 di Italia sejak September 2019

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Sabtu, 05/12/2020 00:15 WIB
Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo ragu dengan temuan para ilmuwan di Italia terkait Covid-19. Ilustrasi virus SARS-CoV-2. (Foto: dok. cgtn.com)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ilmuwan di Italia mengklaim virus SARS-CoV-2 telah beredar di negara itu sejak awal September 2019. Peredaran virus SARS-CoV-2 terjadi beberapa bulan sebelum ditemukan pertama kali di Wuhan, China. pada Desember 2019.

Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo meragukan mengenai temuan tersebut. Ia mengatakan para ilmuwan mengatakan harus memastikan keakuratan teknik yang digunakan para peneliti di Italia.

Teknik penelitian ini dikhawatirkan justru malah mendeteksi virus corona lain, seperti SARS dan MERS.


"Ada kemungkinan teknik itu malah mendeteksi virus corona lainnya. Studi menggunakan antibodi yang mungkin bisa reaktif silang dengan virus corona lain. Jadi perlu dikonfirmasi lagi," kata Ahmad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (4/12).

Lebih lanjut, temuan SARS-CoV-2 pada September ini tidak sejalan dengan peningkatan signifikan kasus pneumonia di Italia saat itu.

"Sementara itu terjadinya kasus pneumonia di Italia juga tidak menunjukkan kenaikan berarti sebelum Januari 2020," tutur Ahmad.

Terpisah, Ahli Pandemi dan Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengungkap temuan ini membuktikan teori bahwa pandemi bisa menyebar ke seluruh dunia hanya dalam kurun waktu 36 jam.

"Itu karena koneksi penerbangan saat ini begitu cepat, sehingga mobilitas manusia jauh lebih cepat dari sebelumnya," ucap Dicky.

Di sisi lain, Ahmad mengakui saat ini mulai bermunculan data bahwa virus ini mulai bersirkulasi sebelum Desember, bahkan sebelum di China sendiri.

Lebih lanjut Ahmad mengatakan belum mengetahui makna dan pengaruh temuan SARS-CoV-2 yang lebih awal ini.

"Apa maknanya, belum bisa diketahui juga, minimal untuk saat ini," ujar Ahmad.

Satu studi menemukan RNA virus SARS-CoV-2 dalam sampel limbah yang diambil pada 18 Desember 2019, di kota Milan dan Turin. Yang lain menemukan bahwa seorang pasien di Paris yang dirawat di unit perawatan intensif pada Desember 2019 memiliki Covid-19.

Analisis lain dari Universitas Harvard melihat citra satelit dan menemukan bahwa lalu lintas di rumah sakit di Wuhan dan pencarian online untuk gejala Covid-19 meningkat dibandingkan dengan normal yang dimulai pada akhir musim panas dan awal musim gugur 2019.

Untuk lebih memperjelas pergerakan awal virus, sekelompok peneliti menganalisis sampel darah dari orang-orang di Italia yang terdaftar dalam uji coba skrining kanker paru prospektif antara September 2019 dan Maret 2020.

Mereka mencari antibodi khusus untuk domain pengikat reseptor (RBD) pada protein spike SARS-CoV-2 untuk menempel dan menyerang manusia. Peneliti menemukan bahwa 111 dari 959 orang ini memiliki antibodi SARS-CoV-2 dalam darah mereka pada saat pengambilan. Semuanya tanpa gejala pada saat darah mereka diambil,

Dilansir dari Live Science, artinya sekitar 11,6 persen dari seluruh kelompok telah terinfeksi virus sebelum Maret.

Secara khusus, peneliti menemukan antibodi virus SARS-CoV-2 pada 23 pasien yang memberi sampel pada September dan 27 yang memberi sampel pada Oktober.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK