Ganggu Diagnosis HIV, Australia Setop Uji Vaksin Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 11/12/2020 14:07 WIB
Kandidat vaksin Covid-19 produksi Australia dibatalkan karena pemberian vaksinasi tersebut mengganggu proses diagnosis HIV. Ilustrasi tes virus corona. (AP/Kay Nietfeld)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kandidat vaksin Covid-19 produksi Australia dibatalkan karena pemberian vaksinasi tersebut mengganggu proses diagnosis HIV.

Perusahaan Bioteknologi Australia, CSL, mengatakan selama uji coba vaksinasi Covid-19 tersebut tidak timbul efek samping serius pada 216 peserta. Selain itu, menurut mereka, vaksin Covid-19 produksinya juga terbukti ampuh melawan Covid-19.

Relawan vaksin ini berjumlah 216 dalam dua kelompok, berusia 18 hingga 55, dan 56 ke atas. Mereka telah terlibat dalam uji coba fase satu dengan proporsi peserta yang menerima plasebo.


Namun data percobaan tersebut mengungkapkan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh vaksin mengganggu proses diagnosis HIV dan menyebabkan hasil positif palsu pada beberapa tes HIV.

"Jika vaksin itu diluncurkan secara nasional, dapat merusak kesehatan masyarakat di Australia dan menyebabkan gelombang tes HIV palsu di masyarakat," kata CSL, dikutip dari CNN, Jumat (11/12).

Pada tes lanjutan, tidak ditemukan vaksinasi Covid-19 asal Australia menyebabkan infeksi lainnya, hanya menyebabkan hasil negatif HIV palsu.

Kepala Penelitian Virus Institut Kesehatan Menzies Universitas Griffith, Adam Taylor mengatakan bahwa hasil HIV palsu merupakan efek samping dari teknologi yang digunakan untuk penelitian vaksin Covid-19 tersebut.

Penjepit molekuler dalam vaksin yang diteliti CSL terbuat dari protein HIV, meski diklaim instrumen ini tidak berbahaya untuk tubuh. Penjepit molekuler menstabilkan protein virus corona dan menyajikannya ke tubuh dengan cara meningkatkan respon kekebalan.

Antibodi parsial yang terbentuk berpotensi mengganggu beberapa tes skrining HIV sehingga mengarah ke hasil tes positif palsu. Tidak jelas berapa lama peserta akan terus memberikan hasil positif palsu.

"Vaksin dengan model penjepit ini telah menunjukkan keamanan yang baik dan tanggapan kekebalan terhadap virus corona dalam uji klinis awal, namun menghasilkan hasil positif HIV yang rendah, atau negatif palsu," kata Taylor.

Dikutip dari Sydney Morning Herald, Universitas Queensland (UQ), yang bekerja sama dengan CSL, akan meninggalkan uji klinisnya saat ini setelah penemuan tersebut.

Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan negaranya tidak akan lagi menampilkan vaksin Covid-19 tersebut. Ia juga memastikan akan menggunakan vaksin yang aman.

"Jadi itulah mengapa kami menyebarkan risiko kami. Itu sebabnya kami mendukung proyek-proyek penting. Dan itulah mengapa kami bersiap-siap untuk memastikan bahwa kami dapat menangani masalah apa pun di sepanjang jalan," katanya.

Pihaknya juga mengatakan setuju untuk mengakhiri perjanjian pembelian, karena khawatir akan merusak kepercayaan publik terhadap program vaksinasi Covid-19 Australia.

(mel/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK