Jakarta, CNN Indonesia -- Vaksin Covid-19 yang dibuat oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca dilaporkan sangat efektif mencegah Covid-19 dalam uji klinis fase III. Laporan itu pun kemudian menjadi berita utama di seluruh dunia.
Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata kemanjuran vaksin buatan Oxford mencapai 70 persen. Bahkan meningkat menjadi 90 persen ketika relawan menerima suntikan kedua.
Di balik kemanjuran itu ternyata ada kesan tersendiri bagi Amy Flaxman, seorang ahli imunologi yang terlibat dalam tim pengembang vaksin. Flaxman sempat menangis bahagia. Dia mengaku bersama rekan-rekannya telah bekerja keras untuk menciptakan vaksin itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya langsung menangis. Itu melegakan. Itu sangat menarik. Kami semua telah bekerja sangat keras sampai saat itu," kata Flaxman melansir Huffington Post.
Flaxman menceritakan uji coba vaksin Covid-19 jauh lebih intens daripada penelitian lain yang pernah dilakukannya. Pada vaksin MERS misalnya, dia mengaku hanya menguji padanya pada 24 relawan. Sedangkan pada vaksin Covid-19, jumlah peserta mencapai ribuan.
Di dalam tim, Flaxman mendapat banyak tugas salah satunya menguji antibodi dari sampel sukarelawan. Dia tidak mengira rutinitasnya terdahulu adalah pemanasan untuk sesuatu yang lebih besar.
"Saya tidak pernah tahu bahwa semua yang telah saya lakukan sebelumnya adalah hal yang persis sama yang harus saya lakukan untuk percobaan ini dan sangat penting," ujarnya.
Sean Elias, seorang ilmuwan postdoctoral menuturkan dirinya dan para peneliti menghabiskan waktu yang sangat lama di dalam laboratorium. Bahkan, beberapa peneliti bekerja selama 10 hari tanpa libur.
"Pada tahap pertama uji coba, beberapa orang bekerja sangat, sangat larut. Saya pikir yang terakhir beberapa orang bekerja adalah jam 3 pagi," ujar Sean.
Mustapha Bittaye, seorang ilmuwan postdoctoral menilai kerja keras itu merupakan bentuk tanggungjawab sebagai seorang peneliti. Mereka menyadari bahwa satu-satunya jalan keluar yang nyata dari pandemi dari virus yang sangat menular dan sangat mematikan itu adalah vaksin.
"Mengetahui apa yang Anda lakukan akan menguntungkan masyarakat yang lebih luas membuat Anda lebih fokus dan membuatnya lebih intens," ujar Bittaye.
Selama penelitian vaksin berlangsung, Bittaye berkata kesehatan peneliti adalah yang sangat krusial. Seluruh peneliti diwajibkan terus mencuci tangan. Seperti masyarakat umum, para peneliti juga terus mengenakan masker dan menjaga jarak sosial di laboratorium.
Berhadapan langsung dengan virus membuat peneliti sangat berpotensi menderita Covid-19. Jika ada seorang peneliti dinyatakan positif Covid-19 maka seluruh peneliti di laboratorium akan diisolasi dan pengembangan vaksin akan berhenti.
"Jika salah satu kolega Anda tertular virus, seluruh tim akan diisolasi. Jadi kami bahkan lebih berhati-hati dan kami memberikan banyak perhatian," ujar Bittaye.
Pembuat Vaksin Corona AstraZeneca Bukan Orang Jenius
Ilustrasi AstraZeneca. (AP/John Cairns)
Bittaye mengatakan orang-orang yang mengerjakan vaksin Oxford bukanlah orang jenius. Namun, orang-orang yang bersemangat bertekad untuk membantu orang lain.
Dia mengatakan kisah yang dialami para peneliti dalam mengembangkan vaksin bisa menjadi kunci dalam menginspirasi orang untuk mengejar karir di bidang sains, serta untuk percaya pada diri mereka sendiri.
"Ini tentang gairah, bukan tentang menjadi seorang jenius. Satu-satunya kesamaan yang kami miliki adalah hasrat untuk apa yang kami lakukan dan seperti yang dikatakan Gallileo 'Gairah adalah asal mula kejeniusan'," ujar Bittaye.
"Kami adalah sekumpulan individu yang bersemangat yang memiliki satu tujuan, memberikan vaksin untuk mengakhiri pandemi yang telah mempengaruhi begitu banyak kehidupan dan begitu banyak mata pencaharian di seluruh dunia," ujarnya.
Kerahasiaan
Banyak orang tidak mengetahui bahwa data kemanjuran sebuah vaksin hanya diketahui oleh segelintir orang. Sehingga, peneliti seperti Flaxman baru mengetahui vaksin yang dikerjakan bersama koleganya manjur mencegah Covid-19 dari pengumuman resmi.
"Saya mengetahui pukul 8 pagi ketika pacar saya membangunkan saya dan berkata 'Data khasiat Anda telah diumumkan.' Saya memeriksa telepon saya dan saya menyadari bahwa saya harus segera bekerja secepat mungkin," kata Flaxman.
"Sebagian besar dari kami, selain orang yang paling senior dan orang yang bertanggung jawab atas komunikasi mengetahuinya pagi itu. Itu sangat menarik," ujarnya.
"Sebenarnya kami memiliki beberapa datanya, tetapi rahasia yang dijaga ketat, disimpan di antara tim inti sehingga tidak ada masalah kebocoran atau semacamnya," ujar Flaxman.
Perlombaan untuk menemukan vaksin Covid-19 diketahui telah dimulai sesaat setelah pandemi terjadi. Di seluruh dunia, para ilmuwan memfokuskan pada satu tujuan, yakni menemukan suntikan yang akan menghentikan virus yang telah membuat banyak orang meninggal.
Universitas Oxford, bersama dengan mitranya AstraZeneca, raksasa farmasi Inggris-Swedia merupakan salah satu pihak yang berada di garis depan dalam perburuan vaksin itu. Oxford diketahui mendapat dana sebesar £65,5 juta atau Rp1,2 triliun untuk membuat vaksin Covid-19.