Lukisan Gua Tertua Dunia Ada di RI, Tanda Kecerdasan Budaya

CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2021 19:59 WIB
Arkeolog menjelaskan temuan lukisan gua tertua di dunia di Sulawesi menandakan kecerdasan budaya masyarakat prasejarah di RI. Lukisan babi yang ditemukan di gua Leang Tedongnge, Sulawesi (Tangakapan Layar web advances.sciencemag.org)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli arkeologi menyampaikan penemuan seni cadas lukisan babi di gua Leang Tedongnge, Sulawesi, menandakan bahwa pola pokir manusia prasejarah tidak sesederhana yang dipikirkan manusia saat ini.

Menurut Peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Adhi Agus Oktavia, temuan itu menandakan bahwa mereka mampu mengekspresikan diri hingga mengkomunikan kepada generasi setelahnya tentang kondisi saat itu.

"Selain itu kalau dari nilai kebanggaan ya kita harusnya kan bangga. Di Eropa, mungkin gambar-gambar yang real untuk perburuan sedikit. Di kita sudah banyak dan umurnya jelas. Berarti pola pikir masyarakat prasejarah (di Indonesia) hampir sama kayak di Eropa," terang Adhi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/1).


Lukisan babi di dalam gua Leang Tedongnge itu diperkirakan berusia 45.500 tahun. Lukisan itu diketahui berada di gua Leang Tedongnge, Sulawesi Selatan.

Selain di Sulawesi, lukisan gua kuno juga ditemukan di Kalimantan. Lukisan batu berusia 40 ribu tahun itu sempat didaulat sebagai yang tertua di dunia.

Temuan di Semenanjung Sangkulariang-Mangkalihat, Kalimantan Timur itu juga diperkirakan berusia lebih tua dari lukisan lain yang ditemui di Perancis, dan Spanyol yang sebelumnya mendapat predikat sebagai yang tertua.

Diduga Homo Sapiens

Lukisan tertua di dunia berusia 44.000 tahun, ditemukan di Gua Leang Bulu Sipong 4, Maros Pangkep Makassar, Sulawesi Selatan.Foto: Ratno Sardi
Lukisan tertua di dunia berusia 44.000 tahun, ditemukan di Gua Leang Bulu Sipong 4, Maros Pangkep Makassar, Sulawesi Selatan.

Adapun terkait dengan spesies manusia di balik seni cadas yang ditemukan di Leang Tedongnge, Adhi mengaku belum dapat memastikan. Namun, sejumlah literatur dan sejumlah bukti sejarah mengarah pada spesies manusia Homo sapiens atau manusia modern awal.

Hasil pasti spesies manusia di balik lukisan itu, lanjut dia mungkin akan dipublikasikan dalam waktu dekat. Sebab, dia mengatakan penelitian mengenai spesies manusia yang dilakukan secara ekskavasi yang membutuhkan waktu lama.

Penemuan dan penelitian terhadap lukisan yang dibuat manusia purba di gua yang terletak di Sulsel itu sudah dilakukan sejak tahun 2017.

Kala itu, arkeolog dari Universitas Hasanuddin Basran Burhan mendapat informasi bahwa ada sebuah lukisan di dalam gua Leang Tedongnge.

"Ternyata ada informasi di yang di situs Leang Tedongnge ini. Basran ke sana dengan teman mahasiswa arkeologi Univeritas Hasanuddin di 2017," ujar Adhi.

Setelah penemuan itu, Adhi dan tim lantas melakukan penelitian. Karena berbagai alasan, butuh waktu lama untuk tim menuangkan temuan itu ke dalam jurnal yang diterbitkan di Science Advances.

Adhi menuturkan ada sejumlah signifikasi dalam penemuan kali ini. Selain umurnya yang lebih tua dari lukisan yang pernah ditemukan sebelumnya, lukisan kali ini memiliki karakteristik tersendiri. Misalnya, ada gambar babi yang berhadapan.

Sebelumnya, sempat ditemukan lukisan babi di Gua Leang Bulu' Sipong 4 di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Namun, lukisan babi itu diduga berusia lebih muda, 43.900 tahun. Selain itu, ditemukan juga lukisan goa di kawasan karst Sulsel lain di Leang Balangajia.

Warna lukisan penanda zaman

Lukisan goa kalimantan, Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. (Arkenas/Pindi Setiawan)Foto: Arkenas/Pindi Setiawan
Penelusuran lukisan goa purba di Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. (Arkenas/Pindi Setiawan)

Lebih lanjut, Adhi memperkirakan ada sekitar 300 gambar seni cadas yang ditemukan di sejumlah gua di Sulsel. Sedangkan gambar seni cadas berupa hewan diperkirakan mencapai ratusan jika digabungkan berdasarkan warna.

Adhi berjaka ada sejumlah warna yang digunakan manusia purba untuk menggambar hewan di dalam gua, seperti merah dan hitam. Warna yang digunakan untuk mengambar sebagai penanda zaman di mana gambar itu dibuat.

"Merah itu kemungkinan di zaman pra Austronesia. Warna hitam juga dibuat oleh Penutur Austronesia," ujarnya.

Sedangkan penelitian terhadap seni cadas hanya cukup mengambil sampel dan dalam beberapa hari sudah dapat ditentukan usainya.

"Hanya mungkin migrasi manusia modern itu terjadi beberapa gelombang besar. Yang tertua itu mungkin yang sampai sekarang itu yang di Papua dan Aborigin sekitar 65.000 tahun lalu sudah sampai di sana," ujarnya.

Lebih dari itu, Adhi menyampaikan tujuan manusia purba membuat seni cadas di dalam gua memiliki banyak intepretasi, seperti untuk mendekorasi tempat tinggalnya. Selain itu juga bisa dikaitkan dengan shamanisme atau ritual hingga untuk menandakan sebuah kelompok.

"Bisa juga menjadi alat komunikasi generasi penerus," ujarnya.

(jps/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK