Orang-orang yang tertular virus Nipah akan mengalami gejala sakit pada saluran pernapasan, demam, pusing, dan merasa bingung.
Pada pasien yang terinfeksi virus Nipah, dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi asimtomatik (subklinis) hingga penyakit pernapasan akut.
Pasien yang terinfeksi awalnya mengalami gejala berikut;
- muntah - sakit kepala - sakit tenggorokan - demam - mialgia (nyeri otot)
Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia tipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut.
Ensefalitis dan kejang bisa terjadi pada kasus yang parah, dan berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Beberapa pasien yang mengalami konsekuensi neurologis residual, seperti perubahan kepribadian dan gangguan kejang. Sejumlah orang yang sembuh juga berpotensi kambuh atau mengembangkan ensefalitis onset tertunda.
WHO memprediksi, tingkat kematian dari kasus virus Nipah mencapai 40-75 persen. Angka ini dapat bervariasi, tergantung pada wabah dan kemampuan lokal untuk surveilans dan manajemen klinis.
Para ahli khawatir virus itu sangat mudah menyebar dan sampai saat ini belum ditemukan obat dan vaksin untuk menangkal virus ini. Selain itu, para ahli cemas jika sudah terjadi penularan virus Nipah antarmanusia.
Cara penularan
Dikutip dari WHO, virus Nipah adalah penyakit zoonosis yang bisa menular ketika manusia melakukan kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau kontak dengan bagian babi yang terkontaminasi.
Penularan diperkirakan
terjadi melalui paparan sekresi babi yang tidak terlindungi, atau kontak tanpa pelindung dengan jaringan hewan yang sakit.
Penyakit ini juga ditularkan lewat makanan yang terkontaminasi virus atau langsung dari orang ke orang. Misal lewat buah-buahan atau produk buah-buahan (seperti sari kurma mentah) yang terkontaminasi urin atau air liur dari kelelawar buah yang terinfeksi virus nipah.
Sementara penularan antarmanusia terjadi lewat kontak dekat orang lain. Penularan juga dilaporkan terjadi di lingkungan rumah sakit.
Dilansir Irish Times, Selasa (26/1), nama virus itu berasal dari nama sebuah kampung di Malaysia, Sungai Nipah.
Virus tersebut pertama kali menyebar di Malaysia pada tahun 1999 silam. Hampir 300 orang diduga tertular virus itu.
Dilansir Times of India, wabah itu juga merebak di Negara Bagian Kerala, India, pada 2018. Saat itu ada 23 orang yang terinfeksi virus itu, 21 di antaranya meninggal.
Bangladesh juga sempat terjangkiti virus Nipah. Pada tahun 2004, gejala serupa muncul setelah penduduknya mengkonsumsi kurma atau sari kurma yang mengandung air liur atau urin kelelawar.
"Kami menduga virus Nipah menular kepada masyarakat Bangladesh selama beberapa dekade," kata pakar wabah dari Universitas Negara Bagian Montana, Dr. Raina Plowright.
Jakarta, CNN Indonesia --
Para ilmuwan kini sedang berusaha keras untuk memastikan virus Nipah tidak menjadi pandemi berikutnya setelah Covid-19.
Menurut penelitian, virus Nipah memiliki tingkat kematian hingga 75 persen, dan hingga kini belum ditemukan vaksinnya.
Berikut fakta-fakta virus Nipah.
Mematikan
Virus ini mematikan lantaran bisa memicu pembengkakan otak. Menurut WHO, tingkat kematian kasus diperkirakan 40 persen hingga 75 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka ini dapat bervariasi tergantung pada wabah tergantung pada kemampuan lokal untuk surveilans epidemiologi dan manajemen klinis
Orang-orang yang tertular virus Nipah akan mengalami gejala sakit pada saluran pernapasan, demam, pusing, dan merasa bingung.
Pada pasien yang terinfeksi virus Nipah, dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi asimtomatik (subklinis) hingga penyakit pernapasan akut.
Pasien yang terinfeksi awalnya mengalami gejala berikut;
- muntah - sakit kepala - sakit tenggorokan - demam - mialgia (nyeri otot)
Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia tipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut.
Ensefalitis dan kejang bisa terjadi pada kasus yang parah, dan berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Beberapa pasien yang mengalami konsekuensi neurologis residual, seperti perubahan kepribadian dan gangguan kejang. Sejumlah orang yang sembuh juga berpotensi kambuh atau mengembangkan ensefalitis onset tertunda.
WHO memprediksi, tingkat kematian dari kasus virus Nipah mencapai 40-75 persen. Angka ini dapat bervariasi, tergantung pada wabah dan kemampuan lokal untuk surveilans dan manajemen klinis.
Para ahli khawatir virus itu sangat mudah menyebar dan sampai saat ini belum ditemukan obat dan vaksin untuk menangkal virus ini. Selain itu, para ahli cemas jika sudah terjadi penularan virus Nipah antarmanusia.
Cara penularan
Dikutip dari WHO, virus Nipah adalah penyakit zoonosis yang bisa menular ketika manusia melakukan kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau kontak dengan bagian babi yang terkontaminasi.
Penularan diperkirakan
Cara penularan dari keleawar dan babi ke manusia
Ilustrasi. Virus nipah menular dari kelelawar dan babi ke manusia (AP/Silvia Izquierdo)
terjadi melalui paparan sekresi babi yang tidak terlindungi, atau kontak tanpa pelindung dengan jaringan hewan yang sakit.
Penyakit ini juga ditularkan lewat makanan yang terkontaminasi virus atau langsung dari orang ke orang. Misal lewat buah-buahan atau produk buah-buahan (seperti sari kurma mentah) yang terkontaminasi urin atau air liur dari kelelawar buah yang terinfeksi virus nipah.
Sementara penularan antarmanusia terjadi lewat kontak dekat orang lain. Penularan juga dilaporkan terjadi di lingkungan rumah sakit.
Dilansir Irish Times, Selasa (26/1), nama virus itu berasal dari nama sebuah kampung di Malaysia, Sungai Nipah.
Virus tersebut pertama kali menyebar di Malaysia pada tahun 1999 silam. Hampir 300 orang diduga tertular virus itu.
Dilansir Times of India, wabah itu juga merebak di Negara Bagian Kerala, India, pada 2018. Saat itu ada 23 orang yang terinfeksi virus itu, 21 di antaranya meninggal.
Bangladesh juga sempat terjangkiti virus Nipah. Pada tahun 2004, gejala serupa muncul setelah penduduknya mengkonsumsi kurma atau sari kurma yang mengandung air liur atau urin kelelawar.
"Kami menduga virus Nipah menular kepada masyarakat Bangladesh selama beberapa dekade," kata pakar wabah dari Universitas Negara Bagian Montana, Dr. Raina Plowright.