Alasan Hasil Rapid Test Bisa Positif Usai Vaksin Covid-19

CNN Indonesia | Senin, 01/03/2021 09:46 WIB
UGM menjelaskan potensi terdeteksi positif Covid-19 usai disuntik vaksin ketika diuji dengan rapid test atau tes swab. Ilustrasi vaksin Covid-19. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim peneliti dari Laboratorium Rekayasa Makromolekul, Departemen Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan potensi terdeteksi positif Covid-19 usai disuntik vaksin. Salah satunya hasil reaktif atau positif ketika diuji dengan rapid test atau tes swab.

Ada dua hal mendasar yang diketahui, yaitu soal material biologis dalam vaksin yang digunakan dan prinsip pengujian SARS CoV-2 dengan rapid test, swab PCR, atau metode lain.

Jika dilakukan rapid test antibodi dengan mekanisme penentuan jumlah antibodi, kemungkinan vaksin ini akan menyebabkan hasil positif jika seorang telah membentuk antibodi dalam jumlah tertentu yang terdeteksi.


"Vaksin akan menyebabkan hasil positif jika seseorang yang divaksinasi telah membentuk antibodi dalam jumlah tertentu yang dapat terdeteksi," tulisnya seperti dikutip situs resmi UGM.

Lebih lanjut disebut jika melakukan rapid test dilakukan dengan swab antigen, maka kemungkinan orang yang telah divaksinasi dalam kondisi terinfeksi tidak akan memperoleh hasil positif.

Pada teknik swab untuk pengujian Covid-19 umumnya dilakukan pada area nasofaring, pada area ini tidak ada antibodi yang terbentuk sebagai hasil pemberian vaksin. Sehingga kemungkinan hasil akan negatif.

Lalu pada uji GeNose yang mendeteksi melalui hembusan nafas atau disebut (molekul organik mudah menguap, MOMM). Berdasarkan database yang diolah oleh kecerdasan buatan yang dimiliki oleh alat tersebut, belum ada informasi tentang pola MOMM yang divaksinasi dengan vaksin tersebut.

"Maka belum dapat diperkirakan apakah pemberian vaksin akan memicu hasil positif pada deteksi menggunakan GeNose," tulisnya.

Di samping itu, Farmasi UGM menjelaskan ada dua vaksin yang telah mendapatkan izin edar. Yakni vaksin yang diproduksi oleh Pfizer-BioNTech (Pfizer) serta vaksin Sinopharm yang disetujui untuk digunakan oleh Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Bahrain termasuk vaksin Sinovac yang digunakan di dalam negeri.

Menurutnya, vaksin diberikan ke dalam tubuh individu dan diharapkan dapat memicu tubuh untuk memproduksi antibodi. Antibodi ini yang dapat mempertahankan tubuh dari patogen penyebab infeksi. Dalam konteks ini adalah virus.

(can/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK