Ahli: Vaksin Sinovac di Indonesia Harus Diperbarui Tiap Tahun

CNN Indonesia | Jumat, 05/03/2021 17:16 WIB
Epidemiolog mengatakan vaksin Sinovac yang digunakan untuk vaksinasi Covid-19 di Indonesia harus diperbarui setiap tahun. Ilustrasi vaksin Sinovac. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Pandemi dan Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, mengatakan vaksin Sinovac yang digunakan untuk vaksinasi Covid-19 di Indonesia harus diperbarui setiap tahun.

Hal ini disebut karena adanya varian baru SARS-CoV-2 B117 asal Inggris yang sudah ditemukan di Indonesia.

"Sesuai prediksi umumnya vaksin-vaksin covid-19 ini akan bertahan satu tahun maksimal dua tahun. Yang jadi permasalahan ke depan adalah strain baru ini akan banyak. Maka harus di-booster, diperbarui setiap tahun," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/3).


Maka dari itu, ia menyarankan untuk mempercepat program vaksinasi demi memberikan proteksi tambahan pada masyarakat terutama kalangan penduduk yang berisiko tinggi, baik itu lansia, tenaga kesehatan, hingga orang dengan komorbid.

Pasalnya, kata Dicky, ancaman strain baru Covid-19 paling berisiko berdampak serius pada kelompok masyarakat tersebut.

Di samping itu ia mengatakan sertifikat yang diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak bisa dijadikan pengganti test telusur virus Corona. Karena menurutnya walaupun sudah dilakukan vaksinasi kemungkinan terinfeksi tetap ada.

"Mekanisme skrining dalam perjalanan ini tetap diberlakukan sebagaimana standar umum, tetap dilakukan PCR sebenarnya meskipun pada perjalanan domestik," pungkasnya.

Lebih lanjut Dicky mengatakan penggunaan metode telusur yang disarankan oleh badan kesehatan dunia WHO adalah teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Maka, ia tidak menyarankan GeNose, Rapid Test Antigen dan test Saliva tidak digunakan sebagai metode telusur yang menggantikan PCR.

"Jangankan GeNose, Rapid antigen saja WHO belum menganjurkan. Apalagi test lain, test saliva pun belum yah," kata Dicky.

Namun ia menyarankan vaksinasi bisa menjadi informasi tambahan untuk meniadakan karantina jika hasil test menunjukkan reaksi negatif. Tetapi dengan catatan masih dalam durasi tiga hingga enam bulan pasca penyuntikan vaksin.

"Jadi bahwa sertifikasi vaksin bisa menjadi informasi tambahan itu lebih tepat digunakan untuk meniadakan karantina, kalau dia PCR nya negatif," kata Dicky.

"Tapi kalau dia bergejala itu yang harus tetap diisolasi," tambahnya.

Dicky berharap dengan adanya ancaman penyebaran strain B117 dapat mendorong pemerintah untuk menggiatkan program vaksinasi nasional dan pengetatan protokol kesehatan di masyarakat.

(can/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK