Penjelasan BMKG soal Suhu Depok dan Jakarta Lebih Dingin
CNN Indonesia
Rabu, 23 Jun 2021 20:09 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
DKI Jakarta terasa lebih dingin meski sudah memasuki musim kemarau. (Foto: CNN Indonesia /Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto menjelaskan penyebab suhu udara di sebagian wilayah Depok, Jawa Barat dan DKI Jakarta terasa lebih dingin meski sudah memasuki musim kemarau.
Menurut Siswanto kondisi tersebut karena terjadi penumpukan awan-awan hujan sehingga sinar matahari tertutupi awan-awan tersebut.
"Disebabkan kondisi cuaca yang cenderung berawan sehingga sinar datang matahari tertahan awan-awan [hujan]," ujar Siswanto kepada CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Rabu (23/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menjelaskan fenomena ini akan berlangsung pada bulan Juni saat posisi Matahari berada pada summer solstice yakni, 23.5 derajat Lintang Utara.
Hal ini menyebabkan daerah di belahan Bumi bagian selatan termasuk Jakarta dan Depok memiliki sudut datang sinar Matahari di permukaan Bumi mencapai minimum sehingga mempengaruhi jumlah panas yang sampai di Bumi.
Di samping itu Peneliti iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), Erma Yulihastin mengatakan di sebagian wilayah di Depok, Jawa Barat dan DKI Jakarta memiliki suhu 21 hingga 22 derajat celcius.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, di wilayah tersebut saat ini memiliki suhu lebih rendah sekitar 2 derajat. Ia menjelaskan pada 23 Juni 2020 suhu permukaan berada pada 23-24 derajat Celcius.
"Perbedaan 2 derajat lebih dingin dibandingkan tahun lalu. Yang pada bulan Juni tahun lalu itu kemarau basah baru muncul sekitar awal Agustus. Sekarang Juni sudah kemarau basah. Jadi secara suhu lebih dingin," ujar Erma.
Di satu sisi, Erna belum bisa memprediksi perubahan suhu di wilayah Depok Jawa Barat dan DKI Jakarta yang berbeda dari tahun lalu diakibatkan perubahan iklim dunia. Sebab masih harus melakukan penelitian lebih lanjut terkait fenomena itu.
Sebelumnya, Peneliti Cuaca dan Iklim BMKG Provinsi Jawa Barat Iid Mujtahiddin menegaskan beberapa hari terakhir, Kota Bandung dan sekitarnya diguyur hujan deras meski diketahui sudah memasuki musim kemarau.
Selain itu, memasuki pekan ketiga Juni, suhu di Bandung terasa lebih dingin dari biasanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, penyebab hujan yang turun di musim kemarau ini karena faktor regional.
"Memang pada tahun ini periode musim kemarau di wilayah Bandung raya yang diprediksi secara umum bulan Mei-Juni masih disertai adanya pembentukan awan-awan hujan. Salah satunya dari faktor regional, kecenderungan suhu permukaan laut di sekitar perairan Jawa Barat yang relatif hangat sehingga berpotensi terhadap pembentukan awan-awan hujan," kata Iid.
Iid menjelaskan, ada prediksi kelembaban di ketinggian menengah cenderung basah dan ini menyebabkan masih ada potensi hujan.
"Sehingga kondisi cuaca akan terasa sedikit dingin dengan adanya potensi yang terjadi," ujarnya.
Dia mengungkapkan, saat ini terpantau suhu udara minimum absolut di Kota Bandung berdasarkan pantauan alat pengukur suhu udara di Stasiun Geofisika Bandung dalam kurun waktu 5 hari terakhir adalah 18,2 derajat Celcius.
Meski demikian, lanjut Iid, kondisi suhu rata-rata tersebut masih relatif normal.
"Karakteristik suhu udara selama periode musim kemarau relatif lebih dingin dibandingkan pada periode musim hujan karena dipengaruhi oleh kondisi suhu di wilayah Benua Australia yang mengalami musim dingin," tuturnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto menjelaskan penyebab suhu udara di sebagian wilayah Depok, Jawa Barat dan DKI Jakarta terasa lebih dingin meski sudah memasuki musim kemarau.
Menurut Siswanto kondisi tersebut karena terjadi penumpukan awan-awan hujan sehingga sinar matahari tertutupi awan-awan tersebut.
"Disebabkan kondisi cuaca yang cenderung berawan sehingga sinar datang matahari tertahan awan-awan [hujan]," ujar Siswanto kepada CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Rabu (23/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menjelaskan fenomena ini akan berlangsung pada bulan Juni saat posisi Matahari berada pada summer solstice yakni, 23.5 derajat Lintang Utara.
Hal ini menyebabkan daerah di belahan Bumi bagian selatan termasuk Jakarta dan Depok memiliki sudut datang sinar Matahari di permukaan Bumi mencapai minimum sehingga mempengaruhi jumlah panas yang sampai di Bumi.
Di samping itu Peneliti iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), Erma Yulihastin mengatakan di sebagian wilayah di Depok, Jawa Barat dan DKI Jakarta memiliki suhu 21 hingga 22 derajat celcius.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, di wilayah tersebut saat ini memiliki suhu lebih rendah sekitar 2 derajat. Ia menjelaskan pada 23 Juni 2020 suhu permukaan berada pada 23-24 derajat Celcius.
"Perbedaan 2 derajat lebih dingin dibandingkan tahun lalu. Yang pada bulan Juni tahun lalu itu kemarau basah baru muncul sekitar awal Agustus. Sekarang Juni sudah kemarau basah. Jadi secara suhu lebih dingin," ujar Erma.
Di satu sisi, Erna belum bisa memprediksi perubahan suhu di wilayah Depok Jawa Barat dan DKI Jakarta yang berbeda dari tahun lalu diakibatkan perubahan iklim dunia. Sebab masih harus melakukan penelitian lebih lanjut terkait fenomena itu.
Suhu Lebih Dingin karena Penumpukan Awan
Ilustrasi suhu dingin Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Sebelumnya, Peneliti Cuaca dan Iklim BMKG Provinsi Jawa Barat Iid Mujtahiddin menegaskan beberapa hari terakhir, Kota Bandung dan sekitarnya diguyur hujan deras meski diketahui sudah memasuki musim kemarau.
Selain itu, memasuki pekan ketiga Juni, suhu di Bandung terasa lebih dingin dari biasanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, penyebab hujan yang turun di musim kemarau ini karena faktor regional.
"Memang pada tahun ini periode musim kemarau di wilayah Bandung raya yang diprediksi secara umum bulan Mei-Juni masih disertai adanya pembentukan awan-awan hujan. Salah satunya dari faktor regional, kecenderungan suhu permukaan laut di sekitar perairan Jawa Barat yang relatif hangat sehingga berpotensi terhadap pembentukan awan-awan hujan," kata Iid.
Iid menjelaskan, ada prediksi kelembaban di ketinggian menengah cenderung basah dan ini menyebabkan masih ada potensi hujan.
"Sehingga kondisi cuaca akan terasa sedikit dingin dengan adanya potensi yang terjadi," ujarnya.
Dia mengungkapkan, saat ini terpantau suhu udara minimum absolut di Kota Bandung berdasarkan pantauan alat pengukur suhu udara di Stasiun Geofisika Bandung dalam kurun waktu 5 hari terakhir adalah 18,2 derajat Celcius.
Meski demikian, lanjut Iid, kondisi suhu rata-rata tersebut masih relatif normal.
"Karakteristik suhu udara selama periode musim kemarau relatif lebih dingin dibandingkan pada periode musim hujan karena dipengaruhi oleh kondisi suhu di wilayah Benua Australia yang mengalami musim dingin," tuturnya.