Hasil penggalian menunjukkan, gempa besar akibat Sesar Lembang yang termuda terjadi sekitar abad 15 antara 1450-1460.
"Kalau dihitung sampai saat ini sudah 560 tahun...jadi stress yang sudah terkumpul selama 560th itu yang bisa lepas setiap saat," jelasnya menuturkan kemungkinan gempa bumi besar di Sesar Lembang bisa terjadi kapan saja.
Diperkirakan periode gempa Sesar Lembang bakal berulang 170 hingga 560 tahun sekali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dihitung dengan panjang sesar utuh 29 kilometer, diperkirakan gempa bisa mencapai magnitudo 6,5 sampai 7 jika seluruh patahan bergerak bersamaan. Angka magnitudo 7 ini menurut Rasmid, didapat dengan pengukuran total panjang sesar berdasarkan diagram Wells & Coppersmith.
Tak puas hanya melakukan penggalian di ujung timur, Mudrik juga melakukan penggalian di segmen tengah disekitar km 13-12 dan menemukan bukti pergeseran tanah akibat gempa lain.
"Kita gali disitu. Di lapisan uni ada unit 400 menutupi 500, unit yg 600 kl normal mestinya menerus, tp dia putus, bergeser. Inilah paleoseismologi yang menemukan bukti yang benar-benar otentik...Kita blg sesar aktif, jalurnya dimana dan kalau digali harus ada barangnya (jejak patahan sesar). Bukan sesuatu yang digali tidak ada barangnya," paparnya panjang lebar.
Menurut Mudrik, kawasan Sesar Lembang merupakan salah satu sesar yang sudah diteliti dengan detil dibanding jalur sesar lain di Indonesia.
Asal mula terbentuknya Sesar Lembang masih menjadi perdebatan. Sebab, belum ada bukti otentik soal asal mula patahan ini.
Mudrik menyebut kemungkinan terbentuk sesar berkaitan dengan terbentuknya kaldera Gunung Sunda Purba.
Gunung Sunda sendiri merupakan cikal bakal Gunung Tangkuban Parahu. Ketika Gunung Sunda meletus dahsyat, jadilah bagian yang tersisa dikenal dengan Gunung Tangkuban Parahu.
"Bisa jadi itu akibat proses kaldera (Gunung Sunda) kemudian terjadi sesar lembang, tapi kita tidak tahu Sesar Lembangnya dulu, atau gunungnya dulu."
Ahli geologi Awang Setyana menyebut pergerakan Sesar Lembang dipengaruhi oleh dorongan dari lempeng Lempeng samudra indo-australia masuk menghujam ke lempeng eurasia (sunda plate). Tekanan ini memengaruhi pergerakan sesar lembang di tengah pulau.
Berdasarkan peta Pusgen (Pusat Gempa Nasional), Sesar Lembang merupakan salah satu 81 sesar aktif yang ada di Indonesia. Menurut Awang, pergerakan Sesar Lembang sebenarnya tidak seaktif sesar lain yang ada di Indonesia seperti sesar yang ada di Sumatra dan Sulawesi.
![]() |
Bahkan, untuk kawasan Jawa Barat, gempa yang dihasilkan Sesar Lembang dinilai tak lebih bahaya dari sesar Cimandiri dan Baribis. Kedua sesar ini juga berada di dekat wilayah Bandung. Namun, Sesar Lembang berada paling dekat dengan Bandung Raya, sehingga akan memberikan dampak ancaman yang lebih besar terhadap warga Bandung.
Sehingga, jika terjadi gempa bakal membahayakan warga yang tinggal di kawasan Lembang dan Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi) dan kawasan sekitarnya.
(eks)